PARADAPOS.COM - Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kontroversi dengan menyerukan negara-negara lain untuk secara mandiri "mengambil" minyak mereka di Selat Hormuz. Pernyataan yang diunggah melalui platform Truth Social pada Rabu (1/4/2026) itu dilontarkan di tengah memanasnya ketegangan kawasan dan krisis energi global. Trump berargumen bahwa Iran dinilainya dalam kondisi lemah, sehingga tidak mampu lagi mengontrol sumber daya strategis tersebut, sekaligus mendesak sekutu AS untuk tidak lagi bergantung pada bantuan militer Washington.
Seruan Kontroversial di Tengah Ketegangan
Dalam unggahannya, Trump tampak mengkritik sikap beberapa sekutu tradisional AS, khususnya di Eropa, yang dinilainya enggan terlibat konfrontasi langsung dengan Iran. Kritiknya secara spesifik diarahkan kepada Prancis, yang disebutnya menolak memberikan izin lintas udara bagi pesawat militer AS yang membawa perlengkapan ke Israel. Penolakan ini, menurut Trump, merupakan bentuk ketidakmauan membantu.
Lebih jauh, mantan presiden ke-45 AS itu juga menyoroti operasi militer gabungan AS-Israel pada akhir Februari yang menargetkan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Ia mengecam sikap Prancis yang dianggap tidak memberikan dukungan terhadap misi tersebut.
Pesan Keras untuk Sekutu dan Tawaran Alternatif
Inti pesan Trump terasa keras dan tegas. Ia secara terbuka mendorong negara-negara yang terdampak blokade atau ketegangan di Selat Hormuz untuk bertindak sendiri, meski pernyataan tentang kelemahan Iran tidak disertai dengan bukti atau penjelasan detail dari pihaknya.
"Anda harus mulai belajar bagaimana berperang untuk diri sendiri, AS tidak akan hadir lagi membantu kalian," tegasnya dalam unggahan tersebut.
Di balik seruan untuk bertindak agresif mengambil sumber daya minyak, Trump sekaligus menawarkan solusi lain yang menguntungkan domestik AS. Ia menyarankan negara-negara yang kesulitan bahan bakar untuk membeli pasokan energi dari Amerika Serikat. Saran ini menimbulkan pertanyaan tentang motivasi di balik pernyataannya, apakah murni dorongan politik atau juga pertimbangan ekonomi.
Analisis Dampak dan Konteks Geopolitik
Pernyataan Trump ini tidak bisa dipandang sebelah mata, mengingat pengaruhnya yang masih besar dalam politik AS dan percakapan global. Seruan untuk "mengambil minyak" di perairan internasional yang sensitif seperti Selat Hormuz berpotensi diterjemahkan sebagai pembenaran untuk tindakan unilateral yang dapat memicu eskalasi konflik. Kawasan itu sudah lama menjadi titik api geopolitik, di mana insiden kecil saja dapat berimbas luas pada stabilitas pasokan energi dunia.
Para pengamat hubungan internasional biasanya memandang pernyataan semacam ini dengan kehati-hatian. Tanpa strategi dan diplomasi yang jelas, ajakan untuk bertindak mandiri justru berisiko menciptakan kekacauan yang lebih besar, alih-alih menyelesaikan krisis. Sementara klaim tentang kelemahan Iran juga perlu dikonfirmasi dengan fakta di lapangan, mengingat kompleksitas dan ketahanan rezim di Tehran.
Dengan demikian, unggahan Trump ini merefleksikan sekaligus memanaskan kembali dinamika politik luar negeri yang sering kali diwarnai retorika keras. Implikasinya terhadap keamanan kawasan, aliansi tradisional, dan pasar energi global masih perlu diamati dengan saksama dalam minggu-minggu mendatang.
Artikel Terkait
IDF Selidiki Insiden yang Tewaskan Tiga Prajurit TNI Penjaga Perdamaian di Lebanon Selatan
Trump Klaim Rezim Iran Berubah dan Buka Sinyal Ambisi Kelola Bersama Selat Hormuz
Serangan Israel Tewaskan Personel Penjaga Perdamaian PBB dari Indonesia di Lebanon Selatan
IRGC Tetapkan Universitas AS dan Israel di Timur Tengah sebagai Target Militer