Analis Sejarah Peringatkan Risiko Eskalasi Konflik Timur Tengah ke Skala Global

- Minggu, 05 April 2026 | 08:25 WIB
Analis Sejarah Peringatkan Risiko Eskalasi Konflik Timur Tengah ke Skala Global

PARADAPOS.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, memicu pertanyaan mendalam di kalangan pengamat internasional: apakah eskalasi konflik ini berpotensi memicu konflik global yang lebih luas? Meski saat ini masih bersifat regional, dinamika aliansi, kesalahan perhitungan strategis, dan ketegangan di jalur perdagangan vital dunia menciptakan kondisi yang rapuh. Analisis dari para sejarawan dan pakar keamanan internasional memberikan perspektif berharga tentang bagaimana konflik berskala terbatas dapat berubah menjadi perang besar, serta langkah-langkah kritis yang diperlukan untuk mencegah skenario terburuk.

Pelajaran dari Sejarah: Bagaimana Perang Dunia Dimulai

Sejarah mencatat bahwa perang dunia jarang direncanakan sebagai sebuah skenario besar. Sebaliknya, konflik global sering kali berawal dari insiden kecil yang kemudian membesar akibat efek domino dari aliansi militer dan keputusan politik yang salah baca. Perang Dunia I, misalnya, dipicu oleh pembunuhan Archduke Franz Ferdinand, sebuah peristiwa yang dengan cepat menarik kekuatan-kekuatan Eropa ke dalam kancah peperangan akibat jaringan persekutuan yang rumit.

Sejarawan ternama Margaret MacMillan, profesor emeritus sejarah internasional di Universitas Oxford, memberikan peringatan berdasarkan pola sejarah ini. "Khalayak cenderung berpikir bahwa perang direncanakan dengan sangat hati-hati dan bahwa mereka yang berperang tahu persis apa yang mereka lakukan," tuturnya. "Faktanya, jika Anda melihat perang-perang di masa lalu, seperti Perang Dunia Pertama, hal yang akhirnya menjadi pemicu adalah kecelakaan dan ada juga fakta orang-orang salah menilai lawan mereka."

Ia menggambarkan situasi genting semacam ini dengan analogi yang gamblang. "Bayangkan saja situasinya seperti perkelahian di halaman sekolah," ujarnya.

Timur Tengah sebagai Titik Kritis Potensial

Dalam konteks kekinian, Profesor MacMillan melihat Iran sebagai titik kritis yang berpotensi memicu eskalasi lebih luas, terutama jika konflik merembet ke Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis untuk pasokan energi global. Keterlibatan langsung Amerika Serikat, sebagai sekutu utama Israel, semakin memperumit peta konflik dan memperbesar risiko perluasan. Lebih jauh, ketegangan di satu wilayah dapat membuka peluang bagi kekuatan lain untuk bertindak di area lain, seperti potensi peningkatan tekanan China terhadap Taiwan atau intensifikasi konflik Rusia di Ukraina.

"Dalam Perang Dunia Pertama, kekuatan itu adalah kekaisaran Eropa. Dalam Perang Dunia Kedua, kekuatan mencakup di antaranya Amerika Serikat, Jepang, dan China," jelasnya, merujuk pada pola keterlibatan banyak kekuatan besar.

Perspektif Berbeda: Skeptisisme terhadap Skenario Perang Dunia

Namun, tidak semua analis melihat skenario itu sebagai kemungkinan yang tinggi. Joe Maiolo dari King's College London menyatakan skeptisismenya terhadap narasi yang mengarah ke Perang Dunia III. Menurutnya, kekuatan besar seperti China dan Rusia cenderung menghindari keterlibatan langsung dan lebih memilih untuk memanfaatkan situasi dari pinggir lapangan.

"Gagasan bahwa sesuatu terjadi di dunia dan China akan menyerang Taiwan hanyalah... omong kosong belaka," tegas Maiolo. "Tetapi jika kita berbicara tentang Perang Dunia, Perang Dunia Ketiga, saya rasa tidak ada kecenderungan bagi China atau Rusia untuk terlibat langsung sama sekali, dan terlebih lagi, tentu saja, Eropa."

Faktor Psikologi dan Keputusan Para Pemimpin

Di luar analisis geopolitik, faktor manusia dan psikologi kepemimpinan memainkan peran yang tidak kalah krusial. Margaret MacMillan menggarisbawahi bahwa kesombongan, rasa harga diri yang terluka, dan ketakutan sering kali mendorong para pemimpin ke dalam keputusan yang berisiko. Keengganan untuk mengakui kegagalan atau mundur dari posisi yang sudah diambil dapat memperpanjang konflik secara tidak perlu, sebuah pola yang terlihat sepanjang sejarah.

Ia mengutip perdana menteri Prancis era Perang Dunia I, Georges Clémenceau, yang pernah berkata bahwa membuat perdamaian lebih sulit daripada membuat perang. "Seringkali ada argumen bahwa jika ada kerugian besar atau pengorbanan yang dilakukan oleh orang-orang, para pemimpin memutuskan bahwa mereka harus 'terus memenangkan perang'," papar MacMillan.

Sebagai contoh kontemporer, ia menyebut kesalahan perhitungan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam invasi ke Ukraina. "Dia jelas telah membuat kesalahan besar dengan mencoba menginvasi Ukraina," ungkapnya. Sikap keras kepala yang didorong oleh ideologi atau khayalan, serupa dengan yang ditunjukkan Adolf Hitler di akhir Perang Dunia II, berpotensi mengubah konflik terbatas menjadi bencana yang lebih masif.

Jalan Keluar: Diplomasi dan Pengakuan Batas

Lalu, bagaimana dunia dapat menghindari jalur menuju eskalasi yang lebih dalam? Kedua pakar sepakat bahwa kunci utamanya terletak pada diplomasi dan komunikasi yang intensif, bahkan—atau terutama—dengan pihak lawan. Dalam era modern, saluran komunikasi antarnegara adidaya umumnya lebih terbuka dibandingkan pada puncak Perang Dingin, yang memberikan ruang untuk manuver de-eskalasi.

"Anda perlu mengetahui tentang pihak lain dan Anda perlu berhubungan dengan mereka," tekan MacMillan. "Ada banyak contoh di mana orang-orang berkata, tunggu sebentar, ini mulai gila. Mereka mengerti bahwa situasinya menjadi terlalu bergejolak dan mereka perlu menurunkan ketegangan."

Joe Maiolo menambahkan bahwa dibutuhkan kesadaran kolektif di antara para pihak yang bertikai—Israel, Amerika Serikat, dan Iran—bahwa mereka telah mencapai batas maksimal dari apa yang dapat diraih melalui konfrontasi militer. "Harus ada pengakuan di Tel Aviv, Washington, dan Teheran bahwa mereka telah mencapai batas kemampuan yang dapat dicapai," lanjutnya.

Menurut Maiolo, penyelesaiannya akan memerlukan paket negosiasi yang kompleks, mencakup isu-isu seperti pencabutan sanksi, pengaturan keamanan regional, dan penempatan posisi Iran dalam tatanan global. Hanya melalui mediasi yang gigih, konflik dapat pertama-tama diarahkan ke gencatan senjata, lalu ditransformasikan menjadi kesepakatan yang lebih stabil dan berkelanjutan. Dalam situasi yang dipenuhi ketidakpastian ini, kearifan dan kehati-hatian dalam bertindak menjadi barang yang paling berharga.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar