Mengulik Makna "Piye Kabare": Nostalgia Orde Baru hingga Dinamika Politik Jokowi-Prabowo
Oleh: Erizal
Slogan "Piye kabare, enak zamanku to?" kerap muncul di media sosial, biasanya disertai foto Presiden Soeharto. Ungkapan ini menjadi simbol kerinduan terhadap stabilitas dan kesejahteraan yang dianggap mewarnai era Orde Baru, sekaligus kritik terhadap kondisi pasca-Reformasi.
Gagalnya Kebangkitan Simbol Soeharto di Era Reformasi
Meski kerap diusung oleh pihak-pihak yang ingin mengembalikan kekuatan politik era Soeharto, slogan tersebut terbukti tidak cukup signifikan dalam panggung pemilu. Berbagai partai politik yang mengusung nama dan simbol keluarga Soeharto, bahkan yang dipimpin langsung oleh putra-putrinya, tidak pernah berhasil meraih dukungan mayoritas untuk masuk ke Senayan.
Transformasi Slogan: Dari Soeharto ke Jokowi?
Menurut analisis mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, kecenderungan penggunaan slogan serupa akan muncul kembali, namun dengan simbol yang berbeda. Jika dulu berpusat pada Soeharto dan zamannya, kini potensial dialihkan kepada figur Presiden Jokowi. Pola kritiknya pun menyesuaikan konteks kekinian.
Perbedaannya mendasar: kritik era Soeharto menyasar sistem dan zaman, sementara jika menggunakan simbol Jokowi, yang menjadi sasaran perbandingan adalah kepemimpinan penerusnya, dalam hal ini Presiden Prabowo Subianto.
Kompleksitas Hubungan Dwi-Tunggal Jokowi-Prabowo
Pernyataan Gatot Nurmantyo ini bisa dianggap sebagai upaya menyoroti ketegangan di balik hubungan "dwi-tunggal" Jokowi-Prabowo. Meski Prabowo kerap menegaskan kesetiaan dan persahabatannya dengan Jokowi, perbedaan kebijakan nyata terjadi. Beberapa contohnya adalah penanganan kasus Bandara IMIP di Morowali, kebijakan Pagar Laut, hingga respons terhadap bencana alam dan pengelolaan sumber daya alam.
Paradoks dan Tantangan Kepemimpinan Prabowo
Buku Prabowo sendiri menggambarkan situasi paradoks ini. Di satu sisi, banyak pihak ingin memisahkannya dari warisan kebijakan Jokowi, tetapi di sisi lain, Prabowo konsisten menyatakan akan melanjutkan program-program sebelumnya. Tantangan besar muncul dari perbedaan pendekatan terhadap dunia usaha. Jokowi dikenal dekat dengan kalangan pengusaha besar, sementara Prabowo dianggap kurang "ramah" terhadap para cukong.
Insiden seperti pembongkaran kasus Pagar Laut dan masalah di tubuh BUMN seperti Pertamina, dinilai sebagai ancaman tersendiri bagi pemerintahan Prabowo. Dukungan dari elite politik dan pengusaha yang pasif saja sudah menjadi tantangan, apalagi jika mereka aktif melawan. Dalam situasi bencana dan krisis, posisi Prabowo terlihat semakin kompleks.
Pertanyaan Besar dan Nasib Kepemimpinan Nasional
Seperti halnya slogan "piye kabare" dengan simbol Soeharto yang gagal menghidupkan kembali era Orde Baru, pertanyaannya adalah: apakah penggunaan simbol Jokowi akan mengalami nasib yang sama? Kompleksitas politik saat ini jauh lebih tinggi.
Analisis terakhir menyoroti pandangan bahwa kegagalan kepemimpinan Prabowo dalam menciptakan kemandirian dan kekuatan nasional bisa menjadi titik kritis bagi masa depan Indonesia. Pertarungan narasi nostalgia dan pencarian figur pemersatu masih akan terus mewarnai dinamika politik tanah air.
Direktur ABC Riset & Consulting
Artikel Terkait
Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri Picu Perdebatan Norma di Media Sosial
Pemuda Tewas Dibunuh di Kamar Penginapan Medan, Jenazah Dibuang ke Sungai
Polisi Usut Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS, DPR Desak Penanganan sebagai Percobaan Pembunuhan
Menteri Keuangan Buka Opsi Naikkan Batas Defisit APBN di Atas 3 Persen