Menag: Boikot Produk Pro-Israel Picu PHK 3.000 Pekerja, Bukan Solusi Efektif

- Sabtu, 14 Maret 2026 | 02:50 WIB
Menag: Boikot Produk Pro-Israel Picu PHK 3.000 Pekerja, Bukan Solusi Efektif

PARADAPOS.COM - Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa gerakan boikot produk-produk yang dianggap mendukung Israel bukan solusi efektif untuk konflik di Gaza. Pernyataan ini disampaikan dalam acara silaturahmi dengan Kadin Indonesia di Jakarta, Jumat (13/3/2026). Menurutnya, aksi boikot justru berpotensi merugikan perekonomian dalam negeri dan telah memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi ribuan pekerja.

Dampak Langsung pada Pekerja dan Dunia Usaha

Nasaruddin mengungkapkan keprihatinannya atas dampak nyata yang sudah terjadi. Ia menyebut, gelombang boikot telah menyebabkan penurunan aktivitas bisnis di sejumlah sektor, terutama restoran cepat saji. Imbasnya, sekitar 3.000 karyawan di Indonesia dilaporkan kehilangan mata pencaharian mereka. Situasi ini, dalam pandangannya, menciptakan kerugian ganda bagi masyarakat.

“Saat ada seruan boikot terhadap produk-produk pro-Israel, saya termasuk yang prihatin. Saya memahami betul situasi yang terjadi di sana, tetapi boikot bukanlah jalan keluar,” tuturnya.

“Ini berarti umat Islam dua kali rugi. Di sana dibantai, di sini di-PHK,” lanjutnya dengan nada serius.

Dukungan Moral dan Pentingnya Stabilitas Ekonomi

Menyikapi hal tersebut, Menag mengaku telah mengambil langkah dengan mengundang sejumlah pelaku usaha ke Masjid Istiqlal. Pertemuan itu bertujuan memberikan dukungan moral sekaligus mengingatkan peran vital dunia usaha sebagai penopang perekonomian nasional. Nasaruddin menegaskan bahwa kontribusi para pengusaha melalui pajak sangat krusial bagi pembiayaan negara.

“Tanpa dunia usaha, Indonesia tidak mungkin bisa bertahan. Yang paling banyak membayar pajak dan membantu pembiayaan negara adalah para pengusaha,” jelasnya.

Peringatan agar Tidak Melemahkan Perekonomian Domestik

Di akhir penyampaiannya, Nasaruddin mengingatkan masyarakat untuk mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Tindakan yang secara tidak langsung melemahkan sektor usaha dalam negeri, menurutnya, justru dapat menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

“Kalau pengusaha diserang dari berbagai sisi, bagaimana negeri ini bisa tumbuh besar,” ujarnya menekankan.

Konteks Maraknya Gerakan Boikot

Gerakan boikot terhadap produk-produk yang dianggap terkait dengan Israel memang telah menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia, sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina. Gelombang aksi ini menguat seiring eskalasi konflik Hamas-Israel di Gaza yang kembali memanas. Meski dilandasi niat baik, pemerintah mengingatkan pentingnya mempertimbangkan dampak sampingnya terhadap stabilitas ekonomi dan ketenagakerjaan di dalam negeri.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar