Korban Penganiayaan Ungkap Keterlibatan Bahar bin Smith dalam Aksi Solidaritas Ansor-Banser

- Minggu, 08 Februari 2026 | 07:25 WIB
Korban Penganiayaan Ungkap Keterlibatan Bahar bin Smith dalam Aksi Solidaritas Ansor-Banser

PARADAPOS.COM - Rida, seorang kader GP Ansor dan Banser, akhirnya tampil di depan publik untuk menceritakan pengalaman pahitnya menjadi korban penganiayaan yang diduga melibatkan Bahar bin Smith. Pria yang juga menjabat sebagai Kasatkoryon Banser Kecamatan Tangerang itu mengungkap detail penyiksaan yang dialaminya selama lebih dari tiga jam dalam sebuah ruangan, Sabtu (7/2/2026), di sela-sela aksi solidaritas ratusan anggota Ansor dan Banser di depan Polres Metro Tangerang Kota.

Kisah Penyiksaan dari Mulut Korban

Dengan langkah yang masih sedikit tertatih namun penuh semangat, Rida berdiri di hadapan massa aksi. Pria bertubuh gempal itu mengenakan seragam khas Banser—jaket loreng hijau-cokelat, kemeja merah, celana hitam, dan peci—dengan tas selempang biru di bahunya. Meski luka memar di sekujur tubuhnya akibat insiden pada Minggu (21/9/2025) lalu sudah tak terlihat, bekas trauma itu masih jelas terasa dalam pengakuannya.

Dengan suara lantang, ia mengisahkan detik-detik mengerikan dimana ia dipukuli bergantian oleh lebih dari sepuluh orang.

"Malam itu saya dipersekusi di sebuah kamar itu lebih dari 10 orang dan mereka bolak-balik orang itu memukuli saya selama lebih dari tiga jam," tuturnya di hadapan massa yang menyimak dengan khidmat.

Ia dengan tegas menyebut Bahar bin Smith terlibat langsung dalam penyiksaan hingga Senin dini hari. Aksi yang paling membekas dalam ingatannya adalah saat ia dicekik dan disekap dengan handuk hingga nyaris kehabisan napas.

"Yang membekas bagi saya saat Bahar bin Smith dua kali menyekap saya pakai handuk bahkan sampai saya kehabisan nafas terus saya disiram air," terang Rida.

Dukungan dan Tiga Tuntutan Tegas Organisasi

Kehadiran Rida dalam aksi tersebut disambut hangat oleh rekan-rekannya. Midyani, Pimpinan Cabang GP Ansor Kota Tangerang, dalam orasinya menyatakan bahwa kondisi Rida telah pulih dan ia siap menyampaikan aspirasi. Aksi ini sendiri bukanlah inisiatif lokal semata, melainkan bagian dari gerakan yang diperintahkan langsung oleh pimpinan pusat.

"Alhamdulillah kondisi Sahabat Rida sudah kembali pulih dan bisa bergabung bersama kami menyampaikan aspirasi di hadapan pihak kepolisian," ujar Midyani.

Lebih lanjut, ia menguraikan tiga poin tuntutan utama massa aksi. Pertama, sebagai bentuk dukungan penuh kepada Rida. Kedua, mendesak kepolisian untuk mengungkap tuntas kasus penganiayaan pasca-tablig akbar di Masjid Nurul Islam, Poris Plawad Utara, dengan transparan. Midyani menekankan bahwa berdasarkan pengakuan korban, pelaku berjumlah lebih dari sepuluh orang dan proses hukum harus menjangkau mereka semua.

"Proses hukum yang berlaku kami ikuti dan hormati, karena keterangan korban pelakunya itu lebih dari 10 orang, jadi ya semua itu harus diberi hukuman," tegasnya.

Poin ketiga adalah protes terhadap penangguhan penahanan terhadap tiga tersangka selain Bahar. Organisasi menilai langkah ini menimbulkan tanda tanya dan mendesak agar ketiganya kembali ditahan.

"Lalu tiga tersangka yang sempat dilepaskan harus dimasukkan kembali ke dalam penjara, sebab kalau pelaku melakukan penangguhan penahanan, kami berpikirnya aneh-aneh ada apa yang terjadi di sana (dalam ruang pemeriksaan)," ungkap Midyani.

Di sisi lain, mereka juga menyatakan dukungan moril kepada Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Raden Muhammad Jauhari, agar tidak ragu menuntaskan kasus ini meski melibatkan nama besar.

"Tujuan kehadiran kami adalah mendukung moril dan materilnya bapak-bapak polisi yang ada di Polres Metro Tangerang Kota, InshaAllah Ansor Banser siap mendukung, mendoakan Kapolres dan jajaran agar tidak ragu menyelesaikan kasus ini sesegera mungkin," jelasnya.

Gelombang Solidaritas dari Berbagai Daerah

Aksi yang berlangsung pada Sabtu siang itu diwarnai oleh kedatangan ratusan massa dari berbagai daerah. Sejak pukul 13.30 WIB, mereka telah berkumpul di Jalan Perintis Kemerdekaan, Babakan, setelah melakukan long march dari Kawasan Pendidikan Cikokol. Massa yang didominasi oleh seragam loreng Banser dan atribut hijau NU itu membawa bendera, poster, dan alat pengeras suara.

Suasana semangat terus dipupuk dengan selawat dan lagu-lagu khas GP Ansor yang dikumandangkan dari atas mobil bak terbuka. Begitu tiba di depan Mapolresta, jalan pun ditutup dan orasi pun bergulir. Tuntutan untuk menangkap Bahar bin Smith bergema berulang kali, diteriakkan secara serentak oleh massa.

"Tangkap Bahar, tangkap Bahar, jebloskan ke dalam penjara," seru mereka kompak.

Yang menarik, solidaritas ini tidak hanya datang dari kader lokal Tangerang. Ratusan kader Banser dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dilaporkan telah tiba sejak Kamis (5/2/2026), menunjukkan bahwa kasus ini mendapat perhatian luas dari jaringan organisasi di tingkat nasional. Kehadiran mereka memperlihatkan sebuah tekanan kolektif yang terorganisir, menunggu tindakan tegas dari aparat penegak hukum.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar