PARADAPOS.COM - Seorang selebritas lokal asal Ambon, Gilcan, menjadi sorotan luas setelah potongan video berdurasi 54 detik yang melibatkan dirinya beredar viral di media sosial, terutama TikTok dan Facebook. Gelombang perbincangan ini muncul tak lama setelah penampilannya dalam sebuah podcast yang membahas transparansi dunia endorse, di mana ia mengungkap tarifnya yang mencapai Rp 1,5 juta per menit. Video viral yang di dalamnya disebut-sebut terdapat "sprei hijau" itu memicu beragam reaksi publik, mulai dari candaan hingga kecaman, dan mengangkat namanya sekaligus membawa kontroversi baru.
Popularitas Awal dan Karakter yang Khas
Sebelum viral secara nasional, Gilcan telah dikenal di kalangan pengguna media sosial lokal Ambon. Karakternya yang blak-blakan dan gaya bicaranya yang khas membuatnya dijuluki sebagai "primadona Ambon" oleh sebagian warganet. Ia aktif tampil dalam berbagai konten hiburan dan podcast, membangun citra sebagai figur yang berani dan tidak ragu menyuarakan pendapat. Latar belakang inilah yang kemudian menjadi konteks penting saat publik menyaksikan pengakuannya di podcast dan merespons video yang beredar.
Pengakuan di Podcast dan Transaksi di Balik Layar
Dalam penampilannya di podcast tersebut, Gilcan memberikan gambaran nyata tentang mekanisme bisnis endorsemen yang dijalaninya. Ia menjelaskan alasan di balik konten berpart atau berseri yang sering ia buat.
"Sering bikin konten berpart atau berseri karena sistem pembayaran endorse dihitung per menit," tuturnya. Ia kemudian merinci nilai transaksi di balik layar, "Tarif endorse bisa mencapai sekitar 1,5 juta rupiah per menit. Makanya, hampir nggak pernah ada video endorse yang durasinya panjang banget, soalnya setiap menit itu mahal."
Pengakuan jujur ini awalnya diapresiasi sebagai bentuk transparansi, namun kemudian justru menambah ketertarikan publik untuk mengulik lebih jauh kehidupan pribadinya.
Gelombang Reaksi atas Video Viral 54 Detik
Potongan video berdurasi pendek itu menyebar cepat melalui pesan pribadi dan kolom komentar, bukan melalui unggahan resmi. Meski detail visualnya banyak dibicarakan secara tersirat, "sprei hijau" yang disebut ada dalam video menjadi semacam kode dan bahan lelucon di antara netizen. Reaksi yang muncul sangat beragam dan menggambarkan polarisasi opini di ruang digital.
Di satu sisi, banyak komentar bernada mengejek dan menyindir. Di sisi lain, tak sedikit warganet yang justru membelanya atau mengingatkan agar publik tidak terlalu menghakimi. Salah satu tanggapan yang bernuansa reflektif bahkan mengajak untuk melihat sisi kemanusiaan.
"Jangan hanya menghujat, tapi juga doakan agar dia bisa berubah dan bertobat," tulis seorang warganet, menekankan pentingnya memberi ruang untuk perbaikan diri di tengah sorotan.
Kompleksitas respons ini menunjukkan bahwa di balik gelombang sensasi, masih ada suara-suara yang mempertimbangkan etika dan dampak psikologis dari viralitas terhadap seorang individu.
Dampak dan Refleksi di Era Digital
Fenomena ini jelas memberikan dampak signifikan pada citra Gilcan. Popularitasnya melesat, tetapi dibayangi oleh reputasi yang kini terbelah. Kasus ini menjadi contoh nyata betapa rapuhnya batas antara kehidupan publik dan privat di era digital, di mana sebuah momen singkat dapat mengubah narasi tentang seseorang secara drastis.
Lebih dari sekadar gossip, peristiwa ini mengundang refleksi tentang konsumsi konten dan kecepatan masyarakat dalam membentuk serta menggugurkan opini. Ia juga menyoroti dilema yang dihadapi figur publik lokal ketika ketenaran yang mereka dapatkan ternyata memiliki dua sisi mata uang: pengakuan dan pengawasan yang tak kenal ampun.
Artikel Terkait
Pengacara Klaim Denada Punya Tiga Anak, Ungkap Gaya Hidup Masa Lalu
Pengacara Klaim Denada Memiliki Tiga Anak, Bukan Dua
Presiden Prabowo Targetkan Program Makan Bergizi Gratis Capai 82,3 Juta Penerima pada 2026
Korban Penganiayaan Ungkap Keterlibatan Bahar bin Smith dalam Aksi Solidaritas Ansor-Banser