Media Malaysia Soroti Ketertinggalan Futsal, Indonesia Jadi Tolok Ukur

- Sabtu, 07 Februari 2026 | 18:25 WIB
Media Malaysia Soroti Ketertinggalan Futsal, Indonesia Jadi Tolok Ukur

PARADAPOS.COM - Media olahraga Malaysia secara terbuka mengkritisi ketertinggalan perkembangan futsal negaranya dibandingkan Indonesia. Sorotan ini muncul menyusul pencapaian historis Timnas Futsal Indonesia yang melaju ke final Piala Asia Futsal 2026, sementara Malaysia tersingkir di fase awal. Analisis tersebut menilai kondisi ini sebagai sebuah ironi, mengingat Malaysia adalah salah satu pionir futsal di Asia.

Sorotan Media Malaysia atas Ketertinggalan

Kritik pedas datang dari media Malaysia, Flash Sukan, yang secara khusus membandingkan perjalanan kedua negara. Media itu menggarisbawahi bahwa Malaysia pernah menjadi kekuatan awal dengan tampil di Piala Dunia Futsal 1996, sebuah era keemasan yang kini justru berbanding terbalik dengan realitas yang ada. Kini, mereka menyaksikan negara tetangganya yang lebih belakangan serius, justru melesat jauh meninggalkan mereka di peta persaingan Asia.

Flash Sukan menulis, "Dahulu, Malaysia adalah salah satu pelopor futsal di Asia ketika bermain di Piala Dunia Futsal 1996 tetapi kenyataan yang ada saat ini sangat menyedihkan."

Media tersebut melanjutkan kritiknya dengan nada bertanya, menyoroti lemahnya sistem pembinaan yang dianggap gagal menghasilkan kemajuan. Pencapaian Indonesia di turnamen 2026 dijadikan sebagai cermin yang menyakitkan.

"Ketika tim nasional [Malaysia] terus merosot, sementara Indonesia yang mulai serius menekuni futsal belakangan, jauh telah meninggalkan Malaysia di kancah Asia," tambah mereka.

Prestasi Indonesia yang Menjadi Pembanding

Pertanyaan retoris dari media Malaysia itu memiliki dasar yang konkret. Indonesia berhasil menciptakan kejutan besar dengan mengalahkan kekuatan seperti Jepang di semifinal dengan skor 5-3. Kemenangan itu melambungkan Garuda Futsal ke partai puncak untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah lompatan prestasi yang dramatis.

Flash Sukan pun mempertanyakan, "Pertanyaannya adalah, bagaimana sebuah tim yang sudah ada lebih dulu [Malaysia] bisa tertinggal jauh dari negara tetangga yang baru mulai mengembangkan futsal secara serius sekitar tahun 2002 tetapi kini telah menciptakan sejarah dengan melaju ke final AFC Futsal usai mengalahkan Jepang."

Di sisi lain, perjalanan Malaysia di turnamen yang sama berakhir sangat prematur. Mereka harus pulang lebih cepat setelah finis sebagai juru kunci di grupnya, sebuah hasil yang semakin mempertegas jarak yang terbentang.

Final Heroik dan Pencapaian Bersejarah

Meski akhirnya tak mampu mengangkat trofi, perjalanan Timnas Futsal Indonesia di final Piala Asia Futsal 2026 layak dicatat sebagai pertunjukan yang heroik. Bertanding di hadapan pendukungnya sendiri di Indonesia Arena, Jakarta, mereka berhasil membawa Iran, raksasa Asia yang tak terbantahkan, ke babak adu penalti setelah bermain imbang 5-5 hingga perpanjangan waktu.

Kekalahan tipis 4-5 dari titik putih tidak mengurangi nilai pencapaian tersebut. Gelar runner-up tersebut merupakan posisi tertinggi yang pernah dicapai Indonesia, sekaligus memecahkan batasan yang selama ini selalu mentok di babak perempat final.

Prestasi ini, diamati dari sudut pandang perkembangan olahraga, bukanlah sebuah kebetulan. Ia tampak sebagai buah dari komitmen dan pembinaan yang lebih terstruktur dalam beberapa tahun terakhir, yang kontras dengan stagnasi yang dialami oleh negara perintis seperti Malaysia. Perbandingan ini menjadi bahan refleksi berharga tentang bagaimana konsistensi dan sistem yang matang lebih menentukan daripada sekadar memiliki sejarah yang lebih panjang.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar