Menag: Hilal Awal Ramadan 2026 Mustahil Terlihat, Sidang Isbat Tetap Digelar

- Selasa, 17 Februari 2026 | 08:25 WIB
Menag: Hilal Awal Ramadan 2026 Mustahil Terlihat, Sidang Isbat Tetap Digelar

PARADAPOS.COM - Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan hilal penentu awal Ramadan 1447 H mustahil teramati pada Selasa, 17 Februari 2026. Pernyataan ini didasarkan pada data hisab kontemporer yang menunjukkan posisi bulan masih di bawah ufuk saat matahari terbenam, jauh dari kriteria visibilitas yang berlaku. Penetapan akhir tetap akan menunggu hasil sidang isbat yang digelar pemerintah malam ini.

Data Hisab Menunjukkan Hilal di Bawah Ufuk

Berdasarkan perhitungan astronomi terkini, ketinggian hilal saat matahari terbenam di wilayah Indonesia masih berada pada posisi negatif, antara minus 2 derajat hingga mendekati 1 derajat. Angka ini berada jauh di bawah ambang batas minimum yang disepakati.

Menag Nasaruddin Umar menjelaskan, “Kalau kita lihat perhitungan teknologi saat ini, wujud hilal (saat terbenam matahari di Indonesia) masih dalam posisi minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga 0 derajat 58 menit 47 detik. Jadi hampir mustahil bisa dirukyat.”

Tantangan Berlapis dalam Rukyat

Selain faktor ketinggian yang sangat rendah, tantangan lain turut berperan. Kriteria MABIMS—yang diikuti Indonesia, Brunei, Malaysia, dan Singapura—menetapkan syarat minimal hilal setinggi 3 derajat dengan elongasi atau jarak sudut bulan-matahari minimal 6,4 derajat. Kondisi cuaca yang tidak menambah seperti mendung juga menjadi kendala praktis di lapangan.

“Jadi memang berlapis-lapis tantangannya,” ungkap Nasaruddin Umar. “Bisa saja hari ini mendung, atau ketinggian hilal dan sudut elongasinya rendah. Semua itu kita pertimbangkan secara cermat.”

Sidang Isbat Tetap Mekanisme Penentu

Meski data hisab telah memberikan gambaran yang jelas, pemerintah menegaskan bahwa sidang isbat tetap menjadi prosedur resmi dan penentu akhir. Mekanisme ini memadukan pertimbangan ilmiah dari ahli hisab dengan laporan rukyat dari berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia.

Menag menegaskan peran sentral sidang isbat, “Kalau kita lihat sejarah bangsa Indonesia, memang sidang isbat selalu jadi faktor penentu lebaran dan puasa. Dalam dua tahun terakhir memang ada perkembangan dan perbedaan, tetapi kita berusaha menjadi media penyatu dalam penentuan hari penting keagamaan.”

Dengan demikian, meski peluang terlihatnya hilal secara ilmiah hampir tertutup, proses verifikasi dan musyawarah melalui sidang isbat tetap dijalankan untuk memberikan kepastian dan menjaga kesatuan umat.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar