Menteri Amran Sebut Pengkritik Program Makan Bergizi Gratis Tak Pernah Merasakan Miskin

- Kamis, 09 April 2026 | 14:25 WIB
Menteri Amran Sebut Pengkritik Program Makan Bergizi Gratis Tak Pernah Merasakan Miskin

PARADAPOS.COM - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memicu polemik usai menyatakan bahwa para pengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah pihak yang "tidak pernah merasakan miskin". Pernyataan itu dilontarkan Amran di Makassar, Senin (6/4/2026), dan langsung memantik gelombang reaksi keras di ruang digital. Di tengah upaya pemerintah memaparkan tujuan strategis program ini, komentar sang mentan justru mengalihkan perdebatan ke arah personal, memicu pertanyaan tentang substansi dan efektivitas kebijakan bantuan sosial tersebut.

Pernyataan Kontroversial di Makassar

Saat menjelaskan program MBG yang digagas Presiden Prabowo Subianto, Amran Sulaiman menekankan bahwa inisiatif ini lebih dari sekadar bantuan pangan. Menurutnya, program tersebut merupakan intervensi negara untuk memenuhi kebutuhan gizi kelompok kurang mampu sekaligus investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia. Ia juga menyebut MBG memiliki efek pengganda bagi perekonomian, khususnya dalam menggerakkan sektor pertanian dan peternakan secara berantai.

Namun, penjelasan itu kemudian diwarnai pernyataan yang menuai sorotan. Amran berargumen bahwa banyak kritik yang muncul tidak melihat program secara utuh dan kontekstual.

“Mungkin yang mengkritik tidak pernah merasakan miskin,” ujarnya tegas.

Pernyataan itu, yang dimaksudkan sebagai pembelaan, justru dianggap banyak kalangan mereduksi diskusi publik yang sehat tentang akuntabilitas dan implementasi sebuah program pemerintah.

Gelombang Kritik dari Warganet

Reaksi di media sosial berlangsung cepat dan masif. Banyak warganet menilai pernyataan Amran sebagai bentuk argumentasi ad hominem yang menghindari substansi kritik. Isu yang mengemuka justru berkisar pada efisiensi anggaran, kualitas pelaksanaan di lapangan, dan akurasi data penerima manfaat, bukan sekadar pemahaman tentang kemiskinan.

Seorang netizen berkomentar dengan sarkasme, “Bapak kali yang gak pernah miskin. Mau gak cobain menu MBG Rp10.000? Tapi yang jelas pengkritik MBG gak pernah ngerasain jadi koruptor!”

Kritik lain menyoroti persoalan targeting. Banyak pihak meragukan program ini tepat sasaran, justru dinikmati kalangan yang tidak terlalu membutuhkan.

“Rakyat miskin selalu jadi alasan untuk menguras anggaran triliunan, tapi bukti nyata masih banyak yang belum mendapatkannya. Jangan bawa-bawa orang miskin kalau tujuannya hanya cuan untuk pribadi dan kroni,” tulis seorang pengguna media sosial.

Ada pula kekhawatiran bahwa nilai manfaat per siswa dari anggaran besar ternyata tidak mencukupi untuk menyediakan menu bergizi seimbang. “Jangan bela program dengan menyerang karakter pengkritik. Beri gizi yang efisien dan tepat sasaran, bukan populisme murahan,” imbuh warganet lainnya.

Dukungan dan Pertanyaan yang Masih Menggantung

Di tengah kritik yang mendominasi, sejumlah pihak tetap mendukung semangat program MBG. Mereka melihatnya sebagai langkah berani untuk menangani masalah stunting dan defisit gizi anak Indonesia, sebuah masalah kesehatan yang memerlukan intervensi serius. Dukungan ini berangkat dari keyakinan bahwa program semacam ini, jika dijalankan dengan baik, dapat memberi dampak signifikan.

Namun, hingga saat ini, Kementerian Pertanian belum memberikan klarifikasi atau respons lebih lanjut untuk meredakan polemik yang timbul. Program MBG sendiri terus berjalan dengan target menjangkau jutaan penerima di seluruh Indonesia.

Kontroversi terbaru ini menambah catatan panjang perdebatan publik seputar program-program bantuan sosial pemerintah, di mana transparansi, mekanisme distribusi, dan pengawasan anggaran selalu menjadi ujian utama untuk membangun kepercayaan masyarakat.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar