PARADAPOS.COM - Pengadaan motor listrik untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan setelah seorang kreator konten mengungkapkan dugaan selisih harga yang signifikan. Aryo Pamungkas, dalam sebuah video yang viral pada Minggu (12/4/2026), mempertanyakan harga motor listrik Emmo JVX GT yang dibeli Badan Gizi Nasional (BGN) setelah membandingkannya dengan produk serupa di platform e-commerce global. Isu ini memicu diskusi publik mengenai transparansi pengadaan barang pemerintah dan mendorong tuntutan untuk audit yang lebih mendalam.
Tudingan Markup dan Komparasi Harga di Pasar Global
Inti dari tudingan yang berkembang adalah kemiripan yang sangat kuat antara motor listrik Emmo JVX GT yang digunakan petugas gizi dengan produk Kollter ES1-X Pro asal Tiongkok. Aryo Pamungkas menyatakan bahwa analisisnya, yang dibantu teknologi, menunjukkan banyak kesamaan identik antara kedua kendaraan tersebut. Perbedaan yang paling mencolok, menurutnya, terletak pada harganya.
"Ternyata, motor listrik Trail MBG yang katanya dibanderol Rp42 juta, netizen sudah menemukan motor aslinya di Alibaba. Impor dari Cina dengan harga kisaran Rp10 jutaan saja," ungkapnya.
Dengan asumsi selisih sekitar Rp32 juta per unit, Aryo kemudian memperkirakan potensi nilai yang sangat besar jika dikalikan dengan total 21.800 unit yang direncanakan. Perhitungan kasar ini yang kemudian memanaskan perbincangan di ruang publik.
Membedah Kemiripan dan Perbedaan Spesifikasi
Memang, dari sisi visual, kedua motor listrik trail itu sulit dibedakan. Desain rangka yang kokoh dan ground clearance yang tinggi menjadi ciri khas keduanya. Kollter ES1-X Pro sendiri bukan produk baru dan telah dipasarkan di sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Kanada.
Namun, klaim harga Rp10 juta untuk unit yang siap pakai di Alibaba patut dikaji lebih hati-hati. Di pasar internasional, varian Kollter dengan spesifikasi lengkap justru dijual dengan harga premium, bisa mencapai ratusan juta rupiah. Harga yang sangat rendah di platform e-commerce kerap hanya untuk sasis atau unit dalam skema grosir besar, tanpa memasukkan komponen vital seperti baterai dan motor penggerak, atau biaya pengiriman dan bea masuk. Perbandingan harga yang tidak apple-to-apple ini dapat menyesatkan jika tidak dilihat secara kontekstual.
Penjelasan Resmi dari Badan Gizi Nasional
Menanggapi gelombang pertanyaan, Kepala BGN Dadan Hindayana memberikan klarifikasi. Ia mengakui adanya kemiripan desain karena produk tersebut berasal dari pabrikan yang sama, namun menegaskan strategi pemasaran dan penyesuaian spesifikasinya.
Dadan menjelaskan bahwa merek Emmo digunakan untuk pasar Indonesia, sementara untuk wilayah lain, pabrikan yang sama menggunakan nama seperti Tinbot atau Kollter. Ia menekankan bahwa unit yang diadakan untuk operasional MBG telah melalui penyesuaian teknis sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di dalam negeri, yang tentu mempengaruhi komponen dan nilai akhirnya.
Artikel Terkait
Sopir Tewas Gantung Diri Diduga Akibat Cekcok Soal Uang Kerja untuk Judi Online
16 Mahasiswa FH UI Dipertemukan dengan Korban dalam Forum Internal Usai Dugaan Pelecehan Seksual Grup Chat
KPK Tahan Ajudan Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid Terkait Kasus Pemerasan
Krisis Energi Lumpuhkan Kuba, Trump Siap Ambil Alih di Tengah Kecaman Internasional