Mantan Ketum Hipmi Gelar Silaturahmi Lintas Generasi Bahas Tekanan Ekonomi Global

- Selasa, 02 Juni 2026 | 07:25 WIB
Mantan Ketum Hipmi Gelar Silaturahmi Lintas Generasi Bahas Tekanan Ekonomi Global
PARADAPOS.COM - Sejumlah mantan Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) menggelar pertemuan di Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026. Acara bertajuk "Persaudaraan yang Tak Pernah Usai" ini diinisiasi oleh Ade Jona Prasetyo, salah satu kandidat Ketua Umum BPP Hipmi periode 2026–2029, sebagai forum silaturahmi dan diskusi antargenerasi pengusaha di tengah tekanan ekonomi global.

Silaturahmi Lintas Generasi Pengusaha

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai pertemuan yang berlangsung di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Hadir dalam kesempatan itu para tokoh pengusaha senior seperti Sharif Cicip Sutarjo yang memimpin Hipmi pada periode 1986–1989, Bambang Riyadi Soegomo (1989–1992), Adi Putra Darmawan Tahir (1992–1995), Sandiaga Salahuddin Uno (2005–2008), Erwin Aksa Mahmud (2008–2011), dan Raja Sapta Oktohari (2011–2015). Beberapa pengusaha lainnya juga turut meramaikan diskusi. Cicip memberikan apresiasi terhadap inisiatif Ade Jona yang menyatukan para senior Hipmi dalam satu forum. Menurutnya, organisasi ini bukan sekadar wadah melahirkan pengusaha, melainkan juga ruang yang membangun persahabatan dan solidaritas lintas generasi yang mampu bertahan lama. "Di Hipmi, kita tidak pernah melihat siapa atau apa jabatannya. Kita bergaul apa adanya karena itu persahabatan yang lahir di Hipmi bisa bertahan puluhan tahun," ujar Cicip di sela-sela acara.

Menjaga Semangat di Tengah Ketidakpastian

Cicip menekankan bahwa semangat egaliter tersebut harus terus dijaga oleh kepemimpinan Hipmi ke depan. Ia menyoroti kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian dan tekanan geopolitik yang berdampak pada nilai tukar rupiah. Dalam situasi seperti ini, Hipmi diharapkan hadir sebagai bagian dari solusi, terutama bagi para pengusaha di daerah. “Kondisi saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal. Karena itu Hipmi harus berperan, bukan hanya menunggu keadaan membaik. Yang dibutuhkan para pengusaha adalah program yang konkret, kepastian hukum, dan kepastian berusaha. Jika kepastian itu ada, pengusaha akan mampu menghitung dan mengambil keputusan bisnisnya sendiri,” jelas mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini.

Pelajaran dari Krisis 2008

Sementara itu, Erwin Aksa mengingatkan pentingnya mempertahankan budaya egaliter yang selama ini menjadi kekuatan organisasi. Menurutnya, tantangan yang dihadapi dunia usaha dan organisasi ke depan tidaklah ringan. Pemimpin yang dibutuhkan adalah mereka yang mampu merangkul semua pihak dan menghadirkan solusi nyata. Ia pun berbagi pengalaman saat memimpin Hipmi di tengah krisis ekonomi global akibat subprime mortgage di Amerika Serikat pada 2008. Saat itu, akses pembiayaan menjadi sangat sulit dan dampaknya terasa hingga ke Indonesia. "Kami di Hipmi berusaha karena perbankan tidak mau mengucurkan pembiayaan kepada pelaku usaha kecil karena bunga mahal dan krisis global ikut menghantam Indonesia. Saya dan mantan Menteri Perindustrian Pak MS Hidayat yang saat itu menjabat sebagai Ketua Kadin berusaha menyelesaikannya," ungkap Erwin Aksa.

Forum untuk Bertukar Pikiran

Ade Jona menjelaskan bahwa silaturahmi ini digelar sebagai ruang bertukar pikiran antara generasi muda dan senior Hipmi. Ia sendiri merupakan salah satu kandidat Ketua Umum BPP Hipmi periode 2026–2029 dalam Musyawarah Nasional yang akan digelar di Lampung pada 10 Juni 2026. “Hipmi merupakan organisasi kader, karena itu kami membutuhkan banyak masukan dan bimbingan dari para senior karena tentunya para senior kami lebih berpengalaman. Persahabatan dan persaudaraan yang terbangun di Hipmi harus terus dijaga,” ujar Ade Jona. “Melalui forum seperti ini, kami bisa bernostalgia sekaligus mendengarkan saran dan pandangan para senior untuk menjadi bekal bagi generasi berikutnya dalam membangun organisasi dan dunia usaha Indonesia,” lanjut dia.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar