Mendiktisaintek Izinkan Kampus Bangun Dapur MBG sebagai Sarana Praktik Mahasiswa, Tanpa Kewajiban

- Rabu, 03 Juni 2026 | 01:25 WIB
Mendiktisaintek Izinkan Kampus Bangun Dapur MBG sebagai Sarana Praktik Mahasiswa, Tanpa Kewajiban
PARADAPOS.COM - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyatakan bahwa perguruan tinggi diperbolehkan memiliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Fasilitas ini dirancang sebagai wadah teaching factory dan sarana praktik langsung bagi mahasiswa. Keberadaan SPPG tersebut terintegrasi dengan implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), di mana kampus diharapkan mengambil peran strategis melalui riset dan pengabdian masyarakat. Pernyataan ini disampaikan Brian dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi X DPR RI.

Kampus Boleh Bangun Dapur MBG, Tapi Tidak Diwajibkan

Brian menjelaskan bahwa beberapa kampus telah mulai membangun SPPG sebagai bagian dari teaching factory. Tujuannya adalah memberikan pengalaman praktik langsung bagi mahasiswa sekaligus menjadi objek penelitian. “Ada beberapa kampus yang membuat SPPG dalam rangka teaching factory, dalam rangka mahasiswa praktik, dalam rangka itu juga sekaligus diteliti, yaitu kami mempersilahkan kepada kampus-kampus tersebut,” kata Brian dalam RDP bersama Komisi X DPR RI, dikutip Rabu, 3 Juni 2026. Meskipun memberikan izin, Brian menegaskan bahwa kebijakan ini bukanlah sebuah paksaan atau kewajiban administratif yang dibebankan kepada pihak rektorat. Tidak ada edaran resmi yang mewajibkan setiap kampus mendirikan SPPG. “Jadi, kami tidak pernah ada edaran kebijakan bahwa setiap kampus harus mendirikan SPPG, itu tidak pernah ada. Tapi yang kita dorong adalah kependidikan kampus dalam seluruh program-program nasional,” ujarnya.

Peran Strategis Kampus dalam Program MBG

Menurut Brian, pelibatan kampus dalam Program MBG merupakan bentuk dukungan sivitas akademika terhadap proyek-proyek strategis pemerintah. Ia menilai partisipasi ini setara dengan dukungan riset perguruan tinggi pada program mobil listrik, semikonduktor, hingga tanggul laut raksasa (giant sea wall). Lebih lanjut, Brian mendorong perguruan tinggi untuk fokus pada penelitian jangka panjang yang dapat mengawal keberhasilan Program MBG dari sisi kesehatan publik. Ia mencontohkan penelitian di India yang menunjukkan bahwa program serupa berhasil menaikkan angka perbaikan gizi dan menurunkan stunting. “Jadi yang kami dorong adalah bagaimana lakukan riset-riset untuk misalnya stuntingnya bagaimana, dicek. Kan saya pernah mendapatkan paper itu di India, Program MBG ini berhasil menaikkan angka perbaikan gizi dan menurunkan stunting. Nah ini kan perlu jangka panjang, yang barangkali tidak terfikir oleh oleh para SPPG-nya,” ucap Brian.

Riset sebagai Kunci Keberhasilan MBG

Di tengah hiruk-pikuk operasional dapur MBG, Brian mengingatkan pentingnya riset berkelanjutan. Ia menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah porsi makanan yang dibagikan, tetapi juga dari dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat. Pernyataan ini muncul di tengah berbagai dinamika pelaksanaan MBG di lapangan. Beberapa waktu lalu, Badan Gizi Nasional (BGN) bahkan membekukan operasional 2.213 dapur MBG dan meminta ribuan SPPG untuk membenahi tata kelola. Hal ini menunjukkan bahwa aspek kualitas dan tata kelola menjadi perhatian serius pemerintah.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar