Penyintas Kecelakaan Maut di Bekasi Timur Ceritakan Detik-Detik Sebelum Hantaman KA Argo Bromo Anggrek

- Selasa, 28 April 2026 | 16:25 WIB
Penyintas Kecelakaan Maut di Bekasi Timur Ceritakan Detik-Detik Sebelum Hantaman KA Argo Bromo Anggrek

PARADAPOS.COM - Seorang penyintas bernama Sausan Sharifa selamat dari kecelakaan maut antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin (27/4/2026) malam. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 20.45 WIB itu menewaskan 15 orang dan melukai 84 lainnya. Sausan, yang saat itu berada di gerbong khusus wanita yang menjadi titik hantaman, menceritakan detik-detik mencekam sebelum dan sesudah benturan terjadi. Ia menjalani perawatan di RSUD Kota Bekasi dan mengaku bersyukur masih diberi kesempatan hidup, meski mengalami luka di bagian kiri tubuhnya.

Kronologi Mencekam di Stasiun Bekasi Timur

Sausan baru saja pulang bekerja dan menaiki Commuter Line dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Tambun. Perjalanan yang biasanya lancar itu mendadak berubah ketika kereta berhenti lebih lama dari biasanya di Stasiun Bekasi Timur. Dari pengeras suara, terdengar pengumuman berulang kali bahwa ada kecelakaan antara kereta dan sebuah taksi di jalur yang sama.

"Kayaknya sekitar dua sampai tiga kali pemberitahuan itu kedengeran. Kita juga kayak sudah mulai agak bingung gitu kan 'ah, kok lama ya'," ucap Sausan saat ditemui di RSUD Bekasi, Selasa (28/4/2026).

Merasa cemas, ia sempat menghubungi kerabat untuk meminta saran—apakah tetap bertahan di dalam kereta atau turun lebih dulu. Keputusan itu tak sempat diambil. Seketika, suasana berubah menjadi kacau.

"Pas banget, pas banget habis chat dia itu, ya kejadiannya sepersekian detik," tuturnya menggambarkan momen sebelum benturan.

Benturan dan Kepanikan di Gerbong Wanita

Sausan mengingat bunyi klakson kereta yang tidak diketahui asalnya, lalu disusul hantaman keras dari belakang. Lokomotif Argo Bromo Anggrek menghantam gerbong wanita tempat ia berada dengan kekuatan luar biasa. Dalam sekejap, ruangan yang semula lapang terasa menyempit dan para penumpang bertumpuk satu sama lain.

"Sudah semuanya terlalu menyeramkan buat saya, karena semuanya numpuk, orang tuh numpuk dari paling bawah termasuk saya," ucapnya.

Ia sempat melihat seorang penumpang lain melompat keluar melalui jendela sebelum benturan terjadi. Penumpang itu, menurut Sausan, berdiri di dekat pembatas gerbong masinis dan langsung mengambil keputusan untuk menyelamatkan diri. Sementara itu, penumpang lain, termasuk dirinya, tidak sempat melakukan apa pun.

"Yang saya lihat itu memang yang kebetulan menyandar di belakang dekat masinis, jadi dia sudah langsung lompat, yang lain sudah enggak ada kesempatan ngapa-ngapain," ujarnya.

Di Antara Tumpukan dan Jeritan

Saat benturan terjadi, Sausan terpental dan berada di atas tumpukan penumpang lain. Dalam keadaan sadar, ia mendengar jeritan histeris para perempuan di sekitarnya yang berteriak minta tolong. Suasana itu begitu mencekam hingga membuatnya sempat berpikir bahwa ia telah meninggal dunia.

"Dan waktu pertama kali saya terlempar itu juga saya sudah mikirnya 'eh saya meninggal deh' gitu kan. Karena semua orang sudah teriak-teriak apalagi perempuan semua kan sudah yang teriaknya histeris banget," ujarnya.

"Terus saya kayak sudah 'ah ini kalau sudah meninggal ya sudah gimana nih kalau misalkan ini'," sambungnya.

Namun, perasaan itu hanya sesaat. Proses evakuasi berlangsung relatif cepat karena Sausan berada di posisi paling atas dari tumpukan penumpang. Petugas dan beberapa penyintas lain segera menariknya keluar dari gerbong yang ringsek.

"Iya saya bersyukur banget, Alhamdulillah banget karena saya ada di atas. Jadi ketika evakuasi enggak terlalu lama, jadi didahului karena yang paling atas dulu kan dimulai," ucapnya.

Trauma dan Rasa Syukur

Di tengah perawatan, Sausan mendengar banyak penumpang lain yang mengalami trauma berat dan mengaku tidak ingin naik kereta lagi. Namun, ia sendiri belum bisa memastikan apakah trauma serupa akan menghantuinya. Rutinitas hariannya selama ini bergantung pada kereta untuk pulang-pergi bekerja di Jakarta.

"Kebanyakan korban-korban sebelah saya pada bilang mereka enggak mau naik kereta lagi kayak gitu. He'eh (dengar) Mereka di sebelah saya enggak mau, trauma naik kereta kayak gitu," katanya saat ditemui di RSUD Bekasi, Selasa (28/4/2026).

Yang terpikir di benaknya saat ini hanyalah rasa syukur karena masih bisa hidup dan tidak mengalami cedera yang lebih parah. "Kalau saya, saya enggak tahu sekarang saya enggak kepikiran itu karena saya masih bersyukur banget masih bisa hidup dan maksudnya enggak separah itu, aman kepala gitu kan, cuma bagian kiri aja ini patah sama luka," ucapnya.

Allah Baik Sama Saya

Senin malam itu, Sausan menjalankan ibadah puasa sunnah Senin-Kamis. Beberapa menit sebelum kecelakaan terjadi, ia baru saja membatalkan puasanya. "Kemarin kan Senin, iya puasa. Habis buka puasa, he'eh," kenangnya.

Banyak yang mungkin mengaitkan keselamatannya dengan amalan puasa tersebut. Namun, Sausan menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa. Ia menolak untuk terlihat jemawa atau mengeksploitasi ibadahnya sebagai "jimat" keselamatan. Menurutnya, ia selamat semata-mata karena pertolongan Tuhan.

"Enggak sih (selamat semata karena puasa), karena Allah baik saja sama saya," ucapnya lirih.

Bagi Sausan, keselamatan ini murni bentuk kasih sayang Sang Pencipta. Ia menjadikan tragedi ini sebagai momentum untuk merenungi kesempatan hidup kedua, di tengah duka yang juga menyelimuti keluarga korban lain, termasuk almarhumah Nuryati yang berpulang dalam tragedi yang sama.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar