PARADAPOS.COM - Kecelakaan maut antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Selasa (28/4/2026) menewaskan 15 orang dan melukai 88 lainnya. Peristiwa tragis ini memicu desakan dari Anggota Komisi VI DPR, Firnando Ganinduto, yang meminta Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, untuk mundur sebagai bentuk tanggung jawab atas insiden yang dinilai mencerminkan kegagalan sistemik dalam tata kelola BUMN.
Desakan Mundur dari DPR
Firnando Ganinduto, politikus Partai Golkar, menyampaikan pernyataan tegasnya di Jakarta. Menurutnya, kegagalan fatal seperti ini tidak bisa ditoleransi, apalagi jika kesalahan hanya dibebankan kepada level teknis di lapangan.
“Ada pertanyaan mendasar mengenai efektivitas pengawasan, kesiapan sistem keselamatan, serta standar operasional yang diterapkan. Ini adalah tanggung jawab manajemen puncak. Kami mendesak dirut KAI untuk mengundurkan diri,” ujarnya.
Ia menilai insiden ini menjadi bukti lemahnya implementasi manajemen keselamatan yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam industri transportasi publik. Keselamatan, tegasnya, tidak boleh hanya menjadi formalitas administratif.
Kritik terhadap Sistem Keselamatan
Firnando menekankan bahwa aspek keselamatan harus terintegrasi di seluruh lini operasional. Mulai dari perencanaan perjalanan, pengaturan sinyal, hingga pengendalian lalu lintas kereta secara real time.
Ia mendorong audit menyeluruh terhadap manajemen operasional KAI. Evaluasi, menurutnya, perlu mencakup sistem komunikasi antarstasiun, prosedur pemberhentian darurat, serta keandalan teknologi deteksi dan pengendalian kereta.
“Insiden ini harus menjadi momentum bagi KAI untuk melakukan reformasi serius dalam sistem keselamatan transportasi,” tegasnya.
Kronologi Kejadian di Lapangan
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kecelakaan berawal saat KRL relasi Cikarang–Jakarta menabrak kendaraan di perlintasan sebidang tanpa palang pintu. Akibat benturan tersebut, perjalanan KRL lain di lintas Jakarta–Cikarang terhenti di Stasiun Bekasi Timur.
Nahas, rangkaian yang berhenti itu kemudian ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Pasar Turi (Jakarta-Surabaya). Tabrakan beruntun ini menyebabkan korban jiwa yang cukup besar.
Hingga Selasa (28/4) pukul 13.26 WIB, tercatat 15 orang meninggal dunia dan 88 orang mengalami luka-luka. Seluruh korban meninggal telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi, sementara korban luka dirawat di sejumlah rumah sakit.
Tanggapan dan Langkah KAI
Di tengah penanganan darurat, Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan pernyataan resmi perusahaan.
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada korban dan keluarga yang ditinggalkan. Kami juga memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan pelanggan dalam situasi ini,” tuturnya.
KAI berupaya memastikan seluruh korban tertangani dengan baik. Pihaknya juga berkomitmen memberikan informasi yang jelas kepada keluarga korban serta mengembalikan tiket secara penuh bagi para pelanggan yang terdampak.
“KAI akan terus menyampaikan pembaruan informasi secara berkala seiring perkembangan penanganan di lapangan,” ungkapnya.
Pentingnya Transparansi Investigasi
Firnando juga menyoroti pentingnya transparansi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam proses investigasi. Menurutnya, keterbukaan ini krusial untuk mengembalikan kepercayaan publik dan memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Penyintas Kecelakaan Maut di Bekasi Timur Ceritakan Detik-Detik Sebelum Hantaman KA Argo Bromo Anggrek
Kecelakaan Beruntun di Bekasi: Mobil Taksi Macet di Rel Picu Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek
Susi Pudjiastuti Resmi Jadi Komisaris Utama Independen bank bjb, Ayi Subarna Ditunjuk sebagai Direktur Utama
JK Yakin Ijazah Jokowi Asli dan Sarankan Agar Ditunjukkan ke Publik