Anies Baswedan Sibuk di Balik Layar: Elektabilitas Kedua di Survei, Konsolidasi Partai dan Aktivitas Akademik Jadi Fokus

- Jumat, 08 Mei 2026 | 00:25 WIB
Anies Baswedan Sibuk di Balik Layar: Elektabilitas Kedua di Survei, Konsolidasi Partai dan Aktivitas Akademik Jadi Fokus
PARADAPOS.COM - Di tengah hiruk-pikuk politik nasional yang terus bergerak, nama Anies Baswedan kerap menjadi bahan perbincangan. Pertanyaan “Kemana Anies?” sering muncul di grup-grup WhatsApp dan media sosial, bahkan di obrolan warung kopi. Ternyata, di balik senyapnya pemberitaan, mantan Gubernur DKI Jakarta yang genap berusia 57 tahun pada 7 Mei 2026 ini masih memiliki jadwal yang padat, terutama di lingkungan akademik dalam dan luar negeri serta konsolidasi partai.

Aktivitas di Balik Layar

Banyak pihak yang ingin bersilaturahmi mengaku kesulitan mendapatkan waktu luang dari Anies. Hal ini menunjukkan bahwa meski tidak banyak terekspos di media arus utama, aktivitasnya tidak surut. Dari unggahan di media sosial, terlihat Anies beberapa kali berada di Inggris, Australia, Singapura, hingga tampil di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan sejumlah kampus lain di Indonesia. Selain itu, kesibukannya di Partai Gerakan Rakyat juga membutuhkan perhatian penuh. Partai tersebut, menurut sumber internal, masih memerlukan kehadiran Anies untuk melakukan konsolidasi. Proses ini dilakukan dengan cara yang tidak mencolok, atau yang biasa disebut dengan istilah “senyap”.

Survei dan Elektabilitas

Membaca hasil survei Median pada Januari lalu, posisi elektabilitas Anies berada di urutan kedua setelah Presiden Prabowo Subianto. Prabowo mencatatkan angka 26,8 persen, sementara Anies memperoleh 19,9 persen. Selisih tipis 6,9 persen ini menjadi indikasi bahwa nama Anies masih kuat di benak publik. “Dari survei ini kita membaca satu hal bahwa rakyat masih merindukan Anies untuk berkontribusi terhadap bangsa ini,” ujar seorang pengamat politik yang enggan disebut namanya.

Rekam Jejak di Jakarta

Angka elektabilitas yang solid tersebut tidak lepas dari catatan kinerja Anies selama memimpin Jakarta selama lima tahun. Wajah metropolitan ibu kota berubah secara signifikan. Jakarta bertransformasi menjadi kota modern dengan tata ruang yang mampu bersaing dengan kota-kota besar dunia. Sistem transportasi umum menjadi salah satu andilannya. MRT, LRT, KRL, dan Busway kini saling terintegrasi. Tarifnya pun terjangkau, dan beberapa angkutan umum bahkan gratis serta dilengkapi pendingin udara. Pembangunan infrastruktur ikonik seperti Jakarta International Stadium (JIS) juga menjadi sorotan. Stadion berkelas internasional ini memiliki teknologi buka-tutup atap yang jarang dimiliki negara lain. Ajang Formula E juga pertama kali digelar di Indonesia pada era kepemimpinannya. Ruang publik yang nyaman dan representatif semakin banyak bermunculan di berbagai sudut kota.

Kepemimpinan dan Tim TGUPP

Anies diakui memiliki kemampuan mendesain Jakarta dengan modernisasi kota, menjadikan pelayanan publik sebagai prioritas, serta menjaga stabilitas ekonomi. Sebagai pemimpin, ia dinilai cukup berhasil menjadi “dirigen” yang mampu menggerakkan bawahannya bekerja sesuai visi dan misi. Salah satu inovasi yang lahir di era Anies adalah pembentukan Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP). Tim ini kemudian diadopsi oleh sejumlah kepala daerah di wilayah lain setelahnya. “Seorang pemimpin dianggap hebat jika ia mampu menggerakkan bawahannya bekerja untuk visi dan misinya. Anies memiliki itu,” jelas seorang akademisi yang pernah terlibat dalam tim tersebut.

Menatap 2029

Integritas dan rekam jejak kinerja Anies Baswedan telah melahirkan semangat bagi para pendukungnya untuk mendorongnya kembali mengambil bagian tanggung jawab terhadap negara. Namun, peluang Anies di 2029 masih sangat bergantung pada situasi politik yang berkembang ke depan. Seperti kata Benjamin Disraeli, mantan Perdana Menteri Inggris pada 1874-1880: “The secret of success is to be ready when your opportunity comes.” Anies Baswedan, menurut pengamat, telah mempersiapkan segalanya. Kini, tinggal menunggu kapan momentum itu tiba.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar