Cair! Menko AHY Beberkan 2 Skema Baru untuk Lunasi Utang Kereta Cepat Whoosh

- Senin, 20 Oktober 2025 | 23:50 WIB
Cair! Menko AHY Beberkan 2 Skema Baru untuk Lunasi Utang Kereta Cepat Whoosh

PARADAPOS.COM - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sedang mengembangkan dua opsi pendanaan untuk melunasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh. Pembahasan solusi pembiayaan ini melibatkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga terkait.

Pencarian solusi pendanaan dilakukan setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak penggunaan dana APBN untuk menutup utang proyek kereta cepat pertama di Indonesia tersebut. AHY mengungkapkan bahwa kedua opsi yang sedang dikaji adalah restrukturisasi utang melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara atau kontribusi pembiayaan dari Kementerian Keuangan melalui skema tertentu di APBN.

"Nah, di sini masih terus dikembangkan sejumlah opsi. Saya belum bisa menyampaikan secara final karena semuanya masih dihitung dan dikaji," kata AHY usai sidang kabinet paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (20/10/2025).

Proses pembahasan opsi pendanaan telah dilakukan dalam rapat koordinasi yang intensif antara Kemenko Infrastruktur dengan Kementerian Perhubungan, PT KAI (Persero), dan BPI Danantara. Penyelesaian masalah utang ini dinilai mendesak karena pemerintah juga sedang merencanakan pengembangan rute kereta cepat hingga Surabaya.

Beban Utang Kereta Cepat Whoosh

Beban keuangan proyek KCJB Whoosh tercermin dalam laporan keuangan PT KAI (Persero) sebagai induk usaha dan pemegang saham terbesar. PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PT PSBI), entitas anak KAI, mencatat kerugian hingga Rp 4,195 triliun sepanjang tahun 2024.

Kerugian tersebut setara dengan Rp 11,493 miliar per hari dan masih berlanjut hingga tahun 2025. Hingga semester I-2025, PSBI telah membukukan kerugian sebesar Rp 1,625 triliun.

Sebagai pemimpin konsorsium, PT KAI memegang porsi saham terbesar di PSBI sebesar 58,53%. Pemegang saham lainnya adalah Wika (33,36%), Jasa Marga (7,08%), dan PTPN VIII (1,03%).

Pemerintah masih menunggu arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto sebelum memutuskan skema pembiayaan terbaik untuk menyelesaikan masalah utang Whoosh sekaligus mempersiapkan pengembangan jaringan kereta cepat di masa depan.

Sumber: Wartakota

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar