Penipuan Kripto Rp3 Miliar Terungkap, Pelaku Ngaku "Profesor" dari AS
Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya berhasil membongkar sindikat penipuan investasi kripto yang merugikan korban hingga Rp3 miliar. Modus penipuan trading kripto ini melibatkan pelaku yang mengaku sebagai profesor bersertifikat Amerika Serikat.
Tiga Tersangka Penipuan Kripto Ditangkap di Kalimantan Barat
Polisi menetapkan tiga tersangka dalam kasus penipuan kripto ini dengan inisial RJ, LBK, dan NRA. Penangkapan dilakukan di wilayah Kalimantan Barat setelah penyelidikan mendalam oleh tim cyber crime.
Modus Ramalan Runtuhnya Pasar Saham
Kasus penipuan investasi kripto ini dimulai dengan pengakuan pelaku yang menyebut diri sebagai profesor berkualifikasi AS. Menurut AKBP Raffles Langgak Putra dari Ditsiber Polda Metro Jaya, pelaku meramalkan keruntuhan pasar saham pada Juni 2025.
"Pelaku membujuk korban untuk mengalihkan investasi ke aset kripto dengan dalih pasar saham akan runtuh," jelas Raffles.
Trik Membuat Korban Percaya
Agar korban percaya, pelaku penipuan kripto melakukan percobaan dengan memprediksi pergerakan saham. "Saat pelaku mengatakan sebuah saham akan naik, ternyata benar-benar naik keesokan harinya. Ini membuat korban yakin akan kemampuan profesor tersebut," tambah Raffles.
Jaringan Penipuan Lintas Negara dengan Malaysia
Investigasi mengungkap sindikat penipuan kripto ini beroperasi lintas negara. Pelaku membuat akun kripto wallet dan mengambil rekening nominee yang kemudian diserahkan ke sindikat scam di Malaysia.
"Rekening-rekening ini digunakan untuk penipuan online, dan pelaku menerima upah dari setiap pembuatan rekening," papar Raffles.
Para tersangka juga mengirimkan telepon genggam, SIM card, buku rekening, dan token bank kepada kurir di Malaysia untuk memverifikasi transaksi dalam aksi penipuan kripto ini.
Artikel Terkait
Polisi London Selidiki Seruan Kematian untuk IDF oleh Rapper dalam Aksi Al-Quds Day
Politikus Golkar Ingatkan WFH PNS Jangan Abaikan Pelayanan Publik
Tujuh Smartphone RAM 8 GB di Bawah Rp2 Juta Siap Dukung Multitasking Lancar
IRGC Klaim Serang Gudang Amunisi AS di UEA, Otoritas Setempat Sebut 90% Serangan Dijatuhkan