PARADAPOS.COM - Pemerintah menjelaskan bahwa penumpukan truk di Pelabuhan Bandar Bakau Jaya (BBJ), Serang, Banten, merupakan bagian dari strategi untuk meredam kepadatan di Pelabuhan Merak. Fenomena antrean panjang yang telah berlangsung sejak 13 Maret 2026 ini memaksa para sopir menunggu hingga dua hari untuk dapat menyeberang ke Sumatera. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi meninjau langsung lokasi pada Minggu (15/3/2026) untuk memantau situasi.
Strategi Pengalihan dari Merak
Dalam kunjungannya, Menhub Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa kondisi di BBJ bukanlah antrean yang stagnan, melainkan proses menunggu naik kapal sebagai bentuk pengaturan lalu lintas. Ia menyatakan bahwa pengalihan truk golongan besar ke BBJ adalah langkah antisipatif untuk menjaga kelancaran di Merak, yang dikenal sebagai pintu gerbang utama ke Sumatera.
“Ini sebagai bagian dari strategi kita untuk mengurai kepadatan atau mengantisipasi terjadinya kepadatan di wilayah Merak. Jadi, sebagaimana teman-teman ketahui, pelabuhan BBJ Bojonegara ini merupakan salah satu tempat untuk pemberangkatan dari truk-truk yang golongan besar 7, 8, 9 ya,” jelas Dudy.
Operasional Kapal dan Klarifikasi Antrean
Dudy memaparkan, setidaknya ada 12 kapal yang disiapkan di BBJ untuk mengangkut kendaraan berat menuju Lampung. Ia menekankan bahwa pengaturan waktu keberangkatan kapal-kapal inilah yang menyebabkan truk harus menunggu di pelabuhan, bukan karena kemacetan yang tidak terkelola.
“Kalau sudah masuk ke pelabuhan itu bukan berarti antri tapi mereka sedang menunggu untuk naik ke kapal. Kapal yang disediakan di sini ada 12 kapal dan semua berjalan dengan baik. Jadi memang menunggu ya karena kita juga harus mengatur perjalanan kapal-kapal tersebut,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan, “Tidak ada antrian sampai berhari-hari apa tidak ada menunggu untuk naiknya sampai berhari-hari.”
Kisah Lapangan dari Sopir Truk
Di sisi lain, pengalaman di lapangan yang dirasakan para sopir terasa berbeda. Warsito, salah seorang pengemudi, mengaku telah menghabiskan waktu dua malam di pelabuhan untuk menunggu giliran masuk kapal. Hingga Minggu malam, ia dan rekan-rekannya masih berada dalam antrean panjang yang terlihat jelas memadati area pelabuhan.
“Alhamdulillah 2 malem (menunggu giliran masuk kapal), kendalanya ya ini antriannya terlalu banyak, ya ini lah bisa dilihat,” ujarnya.
Kondisi itu memaksa Warsito dan sopir lainnya untuk bermalam di lokasi. Meski dalam situasi yang tidak nyaman, mereka mengaku masih mendapat bantuan makanan dari pengelola pelabuhan, meski terbatas sekali dalam sehari.
“Ya nginep di sini, mau gimana lagi. Dapet makan, sekali,” imbuhnya.
Dengan adanya pernyataan resmi dan kesaksian langsung ini, terlihat gap antara narasi strategi pengaturan logistik dengan realitas operasional yang dihadapi para pekerja. Efektivitas skema pengalihan ini masih terus diuji di tengah tingginya volume arus barang menuju Sumatera.
Artikel Terkait
Patroli Polisi Gagalkan Potensi Tawuran dan Sita Tiga Celurit di Muara Baru
Kapolri Imbau Pemudik Lebaran 2026 Utamakan Keselamatan, Jangan Paksakan Diri
PBVSI Siapkan Naturalisasi Empat Pemain Brasil untuk Bidik Olimpiade 2032
Manchester United Kukuhkan Posisi Ketiga Usai Kalahkan Aston Villa 3-1