Polisi London Selidiki Seruan Kematian untuk IDF oleh Rapper dalam Aksi Al-Quds Day

- Senin, 16 Maret 2026 | 15:50 WIB
Polisi London Selidiki Seruan Kematian untuk IDF oleh Rapper dalam Aksi Al-Quds Day

PARADAPOS.COM - Kepolisian Metropolitan London membuka penyelidikan resmi menyusul seruan "kematian untuk IDF" yang dipimpin rapper Bobby Vylan dalam aksi Al-Quds Day, Minggu (15/3/2026). Aksi solidaritas untuk Palestina yang hanya diizinkan statis tahun ini tetap memicu ketegangan, memaksa polisi mengerahkan seribu personel untuk memisahkan massa dan menangkap 12 orang.

Penyelidikan atas Seruan Kontroversial

Suasana di pusat kota London pada Minggu sore itu memanas ketika teriakan "death, death to the IDF" bergema dari kerumunan. Seruan itu dipimpin secara vokal oleh musisi Bobby Vylan, yang bernama asli Pascal Robinson-Foster, dari atas panggung. Rekaman momen tersebut dengan cepat menyebar di media sosial, menarik perhatian luas dan memicu reaksi resmi dari aparat.

Merespons insiden itu, Kepolisian Metropolitan London mengonfirmasi telah memulai proses penyelidikan. Mereka menyatakan kesiapan untuk menindaklanjuti seruan yang dinilai melanggar hukum.

"Kami mengetahui adanya chant dalam aksi Al-Quds dan akan melakukan penyelidikan," jelas pernyataan resmi kepolisian. Dalam pernyataannya, polisi juga mengungkapkan bahwa kasus serupa pernah terjadi di masa lalu, namun belum memenuhi ambang bukti untuk dibawa ke pengadilan.

Pengamanan Ketat dan Belasan Penangkapan

Aksi Al-Quds tahun ini berlangsung dalam atmosfer keamanan yang sangat ketat. Pemerintah Inggris, melalui Menteri Dalam Negeri, sebelumnya telah menyetujui permintaan polisi untuk melarang bentuk pawai, mengkhawatirkan potensi kerusuhan. Kebijakan ini membatasi demonstrasi hanya pada bentuk aksi statis di lokasi yang ditentukan.

Meski demikian, ratusan peserta masih memadati titik kumpul. Di seberangnya, kelompok tandingan yang membawa bendera Israel dan spanduk anti-Hamas juga berkumpul, menciptakan potensi konflik yang nyata. Untuk mencegah bentrokan, polisi tidak hanya menempatkan sekitar 1.000 personel sebagai pemisah, tetapi juga menutup sementara akses ke Lambeth Bridge.

Operasi pengamanan yang masif itu berhasil mencegah kerusuhan luas, namun tetap menghasilkan 12 penangkapan. Para tersangka ditahan dengan berbagai tuduhan, mulai dari mendukung organisasi terlarang, perilaku mengancam, hingga pelanggaran ketertiban umum.

Nuansa Politik dan Latar Belakang Aksi

Aksi tersebut diwarnai oleh simbol-simbol politik yang kompleks. Sebagian demonstran terlihat membawa bendera Iran dan poster bertuliskan "Choose the right side of history". Polisi mencatat bahwa penyelenggara acara memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok yang mendukung pemerintah Iran, sebuah klaim yang dibantah oleh panitia yang bersikeras bahwa acara murni merupakan bentuk solidaritas dengan rakyat Palestina.

Al-Quds Day sendiri adalah peristiwa tahunan yang digelar di berbagai negara pada akhir bulan Ramadan. Aksi ini pertama kali diinisiasi setelah Revolusi Iran 1979 dan secara konsisten menjadi platform untuk menyuarakan dukungan terhadap perjuangan Palestina serta kritik terhadap kebijakan Israel. Perhelatan tahun ini sekali lagi menunjukkan bagaimana isu tersebut tetap mampu memobilisasi massa dan memantik debat tentang batasan kebebasan berekspresi di ruang publik.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar