PARADAPOS.COM - Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menggelar pertemuan dengan perwakilan Persatuan Pabrik Rokok dan Petani Tembakau Indonesia (P2RPTI) di Semarang. Dalam sarasehan yang digelar di Padepokan Ilir-ilir Sunan Kalijogo, Minggu, politikus tersebut menyimak langsung aspirasi pelaku industri rokok skala menengah ke bawah dan petani tembakau, seraya mengakui kompleksitas isu ini yang menyentuh aspek ekonomi, kesehatan, dan sosial budaya.
Mendengarkan Suara Pelaku Usaha Menengah
Pertemuan ini menjadi salah satu upaya legislator untuk menjaring masukan dari lapangan sebelum membahas kebijakan lebih lanjut. Wattimena mengungkapkan bahwa suara dari produsen rokok kalangan menengah dan petani tembakau, yang jumlahnya signifikan, perlu mendapat perhatian serius. Namun, ia juga menyadari bahwa setiap keputusan yang diambil merupakan hal yang sensitif.
"Ini terus terang suatu hal yang baru ya mengenai rokok, para pelaku produsen rokok kalangan menengah ke bawah," ujarnya di sela acara.
Ia menambahkan bahwa pendekatannya saat ini lebih pada mendengarkan berbagai pihak. Menurutnya, kebijakan tidak bisa dibuat secara hitam putih, mengingat dampak luasnya terhadap mata pencaharian masyarakat.
"Jadi, saya lebih mengambil sikap untuk mendengarkan dan mendapatkan masukan untuk nantinya (dibahas, red.) lintas komisi," jelas Wattimena.
Keseimbangan antara Ekonomi dan Isu Lainnya
Wattimena menegaskan pentingnya mempertimbangkan semua sisi. Di satu sisi, terdapat isu kesehatan yang tidak dapat diabaikan. Di sisi lain, industri ini telah menjadi tulang punggung perekonomian bagi banyak keluarga. Ia menekankan bahwa pelarangan secara serta merta bukanlah solusi yang bijak tanpa mempertimbangkan alternatif ekonomi yang layak bagi para pekerja di sektor tersebut.
"Tidak bisa serta merta mengatakan bahwa rokok itu tidak sehat dan dilarang karena kebijakan akan menyangkut banyak sumber pendapatan masyarakat," tegasnya.
Melihat Potensi Wisata Budaya
Di luar pembahasan tembakau, Wattimena juga menyoroti potensi lokasi pertemuan, Padepokan Ilir-ilir Sunan Kalijogo, sebagai destinasi wisata budaya. Ia melihat peluang untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal Jawa kepada generasi muda, yang dinilainya mulai memudar.
"Sebetulnya dengan (Padepokan, red.) Ilir-ilir ini yang saya ingin lakukan adalah menghadirkan kembali, mengingatkan kembali kepada generasi muda mengenai segala sesuatu yang sebetulnya sudah dimiliki oleh kebudayaan Jawa," ungkapnya.
Ia berpendapat bahwa etika dan tata krama dalam budaya Nusantara merupakan identitas penting yang perlu dilestarikan. Menurut Wattimena, nilai-nilai tersebut justru bisa menjadi pembeda dan kekuatan di kancah global.
Fasilitator Harapkan Arahan Konkret
Pihak penyelenggara dari Padepokan Ilir-ilir menyambut positif pertemuan ini. Pengasuh Padepokan, Romo Lilik Bukhori, menyatakan bahwa kehadiran anggota dewan dinilai penting untuk memberikan arahan yang jelas bagi kelanjutan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tidak hanya di sektor tembakau.
"Hadirnya bapak Samuel ini sangat diperlukan supaya bisa memberikan arahan dan masukan yang harus dikerjakan," tuturnya.
Lilik Bukhori mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap UMKM, namun menekankan bahwa pembinaan sumber daya manusia tetap menjadi kunci. Ia mencontohkan potensi UMKM batik warna alam di Desa Malon yang, dengan pendampingan berkelanjutan, dapat berkontribusi lebih besar bagi perekonomian lokal.
Artikel Terkait
Pemerintah dan DPR Papua Bahas Rancangan RPJMD 2025-2029
BRI Bebaskan Biaya Transaksi Reksa Dana di BRImo hingga 2026
Kesatria Bengawan Solo Hancurkan Pacific Caesar dengan Dominasi 25 Poin di IBL
Jadwal Salat dan Buka Puasa Makassar untuk Senin, 9 Februari 2026