PARADAPOS.COM - Para ahli geologi menemukan karakteristik yang tidak biasa pada fenomena tanah ambles atau sinkhole yang terjadi di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Berdasarkan kajian cepat Badan Geologi Kementerian ESDM, sinkhole ini tergolong unik karena terbentuk di material vulkanik, berbeda dengan mayoritas kasus serupa yang terjadi di batuan gamping. Proses pembentukannya didorong oleh erosi internal dan kondisi tanah yang labil di kawasan tersebut.
Karakter Unik di Material Vulkanik
Fenomena di Situjuah ini dikategorikan sebagai pseudokarst atau kars semu. Yang membuatnya mencolok bagi para peneliti adalah lokasi kemunculannya. Sinkhole umumnya identik dengan daerah kapur, namun lubang di Limapuluh Kota ini justru muncul pada endapan vulkanik tua.
Ahli Geologi Teknik Badan Geologi Kementerian ESDM, Taufiq Wira Buana, mengonfirmasi keunikan tersebut. "Dari hasil kaji cepat yang kita lakukan, sebenarnya sinkhole di Situjuah ini termasuk kategori yang unik," jelasnya saat dihubungi di Kota Padang.
Ia menambahkan perbedaan mendasar dengan kasus pada umumnya. "Biasanya sinkhole ini terjadi di batu gamping, tapi sinkhole Situjuah terjadi di batuan kapur," ujarnya.
Mekanisme Pembentukan dan Penampakan
Proses utama yang membentuk sinkhole ini adalah erosi buluh, yaitu pengikisan partikel tanah dari dalam yang membentuk saluran atau "pipa" alami di dalam material vulkanik jenis tuf lapili. Adanya sungai bawah tanah turut memperbesar rongga di bawah permukaan.
Ketika tim peneliti mendatangi lokasi, mereka menjumpai lubang sinkhole yang telah terisi air dengan warna biru yang khas. Dalam bentang alam kars, fenomena serupa dikenal sebagai cenote. Hasil pengukuran menunjukkan air di dalamnya memiliki tingkat keasaman (pH) dalam kategori agak asam hingga netral.
Keunikan-keunikan inilah yang kemudian mendasari pemberian nama khusus. "Karena keunikan ini Badan Geologi menamainya dengan Sinkhole Situjuah," tutur Taufiq.
Faktor Pemicu Tanah Ambles
Secara umum, kemunculan sinkhole di daerah ini disebabkan oleh interaksi dua faktor kunci: air dan stabilitas material tanah. Faktor air meliputi suplai yang melimpah dari curah hujan dan air tanah, yang secara konstan menggerus material dari dalam. Sementara itu, faktor stabilitas tanah sangat dipengaruhi oleh jenis material berupa tuf atau abu vulkanik yang secara alami lebih mudah tererosi.
Kondisi ini diperparah dengan adanya jalur retakan di dalam tanah yang memperlancar proses erosi buluh. Perubahan tekanan di dalam rongga bawah tanah yang melemah hingga di bawah ambang batasnya akhirnya menyebabkan tanah di atasnya tidak lagi mampu menahan beban dan ambles secara tiba-tiba.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Perlindungan Rakyat dari Kemiskinan dan Korupsi
Presiden Prabowo Umumkan Arab Saudi Izinkan Indonesia Bangun Kampung Haji di Makkah
Bumi Hangus Belanda, Bukan Jepang, yang Hanguskan Banjarmasin pada 1942
Presiden Prabowo Sebut NU Pilar Kebesaran dan Benteng Negara