Dokter Kulit Ingatkan Risiko Infeksi dari Pakaian Bekas yang Tak Dicuci Bersih

- Minggu, 08 Februari 2026 | 00:00 WIB
Dokter Kulit Ingatkan Risiko Infeksi dari Pakaian Bekas yang Tak Dicuci Bersih

PARADAPOS.COM - Tren membeli pakaian bekas atau thrifting yang kian populer perlu diimbangi dengan kewaspadaan akan risiko kesehatan kulit. Dokter spesialis kulit mengingatkan, pakaian bekas yang tidak dicuci dengan benar berpotensi menjadi media penularan infeksi bakteri, jamur, hingga parasit seperti skabies dan kutu, terutama bagi pemilik kulit sensitif.

Risiko Kesehatan yang Mengintai di Balik Pakaian Bekas

Menurut penjelasan ahli, pakaian bekas berpotensi menyimpan berbagai kontaminan dari pemilik sebelumnya. Sisa keringat, sel kulit mati, residu deterjen atau pelembut, serta mikroorganisme dapat menempel pada serat kain. Bagi mereka yang kulitnya sensitif, paparan terhadap zat-zat asing ini dapat memicu reaksi iritasi, mulai dari gatal-gatal dan ruam kemerahan hingga infeksi yang lebih serius.

dr. Fitria Agustina, Sp.KK, dokter spesialis kulit dan kelamin lulusan Universitas Indonesia, memaparkan ancaman yang lebih spesifik. Ia menekankan bahwa risiko utama datang dari organisme hidup yang mungkin masih menempel.

“Risiko utama memakai baju bekas yang tidak dibersihkan dengan baik adalah penularan penyakit kulit dan iritasi pada kulit,” jelasnya dalam keterangan pers, Kamis (5/2/2026).

Ketahanan Mikroorganisme pada Kain

Yang perlu diperhatikan, mikroba penyebab penyakit ternyata bisa bertahan cukup lama di permukaan tekstil. Tungau penyebab skabies, misalnya, diketahui dapat hidup selama dua hingga tiga hari pada kain. Sementara itu, spora jamur memiliki ketahanan yang lebih tinggi; mereka bisa bersembunyi di dalam serat kain selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, terutama jika pakaian disimpan dalam kondisi lembap dan kurang udara.

dr. Fitria juga mengingatkan bahwa penularan tidak hanya terbatas pada jamur dan bakteri.

“Selain jamur, ada juga skabies dan kutu yang bisa berpindah kalau bajunya dipakai cukup lama. Infeksi bakteri ringan juga bisa terjadi, meski lebih jarang,” tambahnya.

Langkah Pencegahan dan Kewaspadaan

Masyarakat yang gemar berburu pakaian bekas disarankan untuk selalu membersihkan barang belanjaannya secara maksimal sebelum digunakan. Pencucian dengan deterjen dan air hangat, serta penjemuran di bawah sinar matahari, dapat membantu membunuh sebagian besar mikroorganisme.

Selain itu, penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika muncul gejala mencurigakan setelah mengenakan pakaian thrifting. Gejala seperti bentol kecil yang sangat gatal, kulit bersisik, atau munculnya bercak melingkar kemerahan patut diwaspadai sebagai tanda infeksi jamur atau parasit.

Lingkup Permasalahan yang Lebih Luas

Isu kesehatan ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan peredaran pakaian bekas impor ilegal yang menjadi perhatian pemerintah. Selain berisiko secara medis karena seringkali lolos dari pemeriksaan kualitas dan kebersihan, membanjirnya barang bekas impor ini juga dinilai dapat menekan industri tekstil dan garmen dalam negeri.

Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, pernah menegaskan bahwa serbuan komoditas ini sangat merugikan pasar produk lokal. Dengan nilai belanja sandang nasional yang besar, upaya pengawasan dan perlindungan baik bagi konsumen maupun pelaku usaha domestik terus menjadi prioritas untuk meminimalisir dampak negatifnya.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar