PARADAPOS.COM - Menjelang bulan Ramadan, anggota DPR RI Novita Wijayanti mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kebijaksanaan dalam menyaring arus informasi di ruang digital. Dalam kunjungan kerjanya ke Cilacap, Jawa Tengah, politisi Fraksi Gerindra itu menekankan pentingnya menjaga persatuan nasional dengan memperkuat literasi kebangsaan dan menghindari provokasi yang dapat memecah belah.
Seruan di Tengah Dinamika Digital
Arus informasi yang kian deras, terutama pada bulan suci, diibaratkan Novita sebagai fenomena yang kompleks. Ruang digital, menurutnya, bagai dua mata pisau. Di satu sisi, ia membuka gerbang pengetahuan yang luas. Namun, di sisi lain, ia juga bisa menjadi lahan subur bagi penyebaran hoaks dan ujaran kebencian yang mengancam kohesi sosial.
Oleh karena itu, dibutuhkan filter yang kuat dari setiap warga negara. Filter itu, tegasnya, haruslah berlandaskan pada nilai-nilai kebangsaan yang kokoh, agar masyarakat tidak mudah terseret dalam polarisasi yang merusak.
Pancasila dan Empat Pilar sebagai Kompas
Novita Wijayanti, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Perempuan Indonesia Raya (PIRA), menegaskan bahwa pengamalan nilai-nilai kebangsaan tidak boleh hanya berhenti pada hafalan. Nilai-nilai itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata, mulai dari lingkup keluarga hingga kehidupan bermasyarakat.
Ia menilai, pemahaman terhadap Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—adalah kompas utama untuk merawat persatuan di tengah kemajemukan.
"Kunci menjaga persatuan adalah literasi kebangsaan dan sikap dewasa dalam menyikapi perbedaan," tuturnya dalam keterangan tertulis, Selasa (10/2).
Tanpa pemahaman yang utuh, lanjut Novita, nilai-nilai fundamental bangsa ini rentan tergerus oleh kepentingan-kepentingan yang bersifat sempit dan sesaat. Karena itu, sosialisasi mengenai pilar-pilar kebangsaan ini harus dilakukan secara berkelanjutan agar benar-benar menjadi pedoman hidup sehari-hari.
Momentum Ramadan sebagai Perekat
Memasuki Ramadan, ruang publik kerap diwarnai oleh beragam narasi, baik keagamaan maupun sosial. Novita melihat momentum ini sebagai ujian sekaligus peluang. Ramadan, katanya, harus dijaga agar menjadi perekat yang memperkuat tali persaudaraan, bukan justru menjadi sumber perpecahan.
Pancasila dinilainya mengandung nilai-nilai yang sangat relevan untuk menjawab tantangan ini, mulai dari semangat toleransi, gotong royong, hingga keadilan sosial.
"Sedangkan UUD NKRI Tahun 1945 sebagai hukum dasar negara yang mengatur penyelenggaraan negara serta hak dan kewajiban warga negara," jelasnya.
Pemahaman terhadap konstitusi, menurut Novita, akan menumbuhkan kesadaran hukum warga negara sekaligus mendorong partisipasi dalam mengawal demokrasi secara lebih bertanggung jawab. Seruannya ini sejalan dengan pesan persatuan yang kerap disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto.
"Adapun Bhinneka Tunggal Ika menjadi prinsip dasar yang menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman bangsa Indonesia," pungkas Novita menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Jadwal Salat Surabaya 11 Februari 2026: Imsak Pukul 04.04 WIB
GoTo dan MRT Jakarta Resmikan Blok M Hub, Integrasikan Transportasi dan Ekosistem Digital
Andre Rosiade Salurkan Bantuan dan Soroti Proyek Strategis Sumbar di HUT Gerindra
Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono Meninggal Dunia