PARADAPOS.COM - Peneliti dan budayawan Mohamad Sobary hadir sebagai ahli dalam kasus dugaan pemalsuan ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dilaporkan terhadap Roy Suryo dan kawan-kawannya. Dalam keterangannya di Polda Metro Jaya, Kamis (12 Februari 2026), Sobary menegaskan bahwa langkah yang diambil ketiga tokoh tersebut merupakan bagian dari peran intelektual dalam masyarakat.
Membela Peran Kaum Intelelektual
Di hadapan awak media, Sobary dengan tenang memaparkan landasan keilmuannya. Kehadirannya di Mapolda, menurutnya, adalah untuk memberikan penjelasan dari perspektif metodologi penelitian budaya, sebuah bidang yang ia geluti selama puluhan tahun.
"Nah, yang dilakukan mereka bertiga tokoh ini sedang menjalankan apa yang namanya the role of the intellectuals. Peranan kaum intelektual, peranan mereka ya begitu itu, melakukan penelitian, untuk apa penelitian, untuk menyampaikan suatu pesan dunia imajiner, pesan dunia imajiner, tapi itu dunia ilmu," jelasnya.
Penjelasan Metodologi Penelitian
Sobary kemudian merinci bahwa proses penelitian memiliki tahapan dan instrumen yang baku. Ia menyebutkan mulai dari munculnya inspirasi, perumusan proposal, hingga pemilihan metode pengumpulan data. Penjelasannya berusaha menempatkan tindakan Roy Suryo Cs dalam kerangka kerja akademis yang sistematis.
"Ada dengan wawancara, ada dengan studi dokumen atau archive research, ada dengan studi media, bukan media berita pada umumnya, kalau media menuliskan investigative journalism atau inspect negative report, kalau report (studi media) semacam itu bisa menjadi bahan penelitian, itu spesifik," tuturnya.
Ia menambahkan penekanan pada kepatuhan terhadap kaidah ilmiah. "Jadi secara keilmuan saya akan pertanggungjawabkan yang dilakukan ini tidak ada sesuatu apa pun, sekecil apa pun yang menyimpang dari kaidah keilmuan. Kalau kaidah keilmuan ini sudah terjabar dengan baik, saya akan menjelaskan tiga tokoh ini dalam peran apa," lanjut Sobary.
Risiko Menyuarakan Kebenaran
Lebih jauh, budayawan yang kerap menulis kolom ini melihat tindakan Roy Suryo Cs sebagai representasi dari suara yang sering kali tidak terdengar di dunia ilmu pengetahuan. Menurut pengamatannya, hanya segelintir orang yang berani menyatakan kebenaran dengan segala konsekuensi yang mungkin dihadapi.
Dalam pandangannya, penelitian yang dilakukan bertujuan menyampaikan suatu risalah atau pesan kebenaran kepada publik. Pesan itu, bagaimanapun, sifatnya terbuka untuk dikaji ulang.
"Kalau risalah kebenaran yang disampaikan tiga sahabat kita ini (Roy Suryo Cs), itu risalah ilmiah, risalah terbatas, bisa saja didebat. Kalau Anda mau mendebat, debatlah pada wilayah yang namanya dunia ilmu," pungkasnya.
Pernyataan Sobary ini memberikan dimensi baru dalam kasus yang tengah berjalan, dengan mengalihkan fokus dari narasi hukum semata ke dalam diskusi tentang etika, peran sosial, dan tanggung jawab intelektual dalam kehidupan berbangsa.
Artikel Terkait
Ditjenpas Bantah Video Viral Sel Mewah di Lapas Cilegon, Pastikan Fasilitas Warga Binaan Setara
Kementerian Haji Perketat Pengawasan Kesehatan Usai 24 Jemaah Haji Meninggal
Sekjen Kemenimipas Tinjau Program Ketahanan Pangan Mandiri di Lapas Garut, Temukan Telur Berkualitas
Ibu Rumah Tangga di Palangka Raya Dibacok ODGJ yang Kehabisan Obat, Korban Kritis di ICU