Utusan Khusus Presiden Peringatkan Anomali Valuasi Saham, 76 Emiten Catat PE Ratusan hingga Ribuan Kali

- Kamis, 12 Februari 2026 | 07:50 WIB
Utusan Khusus Presiden Peringatkan Anomali Valuasi Saham, 76 Emiten Catat PE Ratusan hingga Ribuan Kali

PARADAPOS.COM - Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, menyoroti kondisi pasar modal Indonesia yang diwarnai oleh valuasi saham yang dinilainya tidak wajar. Dalam sebuah forum publik, Rabu (11/2/2026), ia menyebut saham-saham dengan rasio price to earnings (PE) yang mencapai ratusan hingga ribuan kali sebagai "red flag" atau tanda bahaya yang mengindikasikan anomali di pasar. Peringatan ini muncul di tengah data yang menunjukkan puluhan emiten di Bursa Efek Indonesia memiliki rasio PE ekstrem, menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan fundamental bisnis di balik harga saham tersebut.

Daftar Saham dengan Valuasi Ekstrem

Berdasarkan pencatatan terkini, setidaknya terdapat 76 saham yang tercatat memiliki rasio PE dalam kategori ratusan hingga ribuan kali. Beberapa di antaranya adalah nama-nama yang cukup dikenal di pasar. Saham PT Golden Flower Tbk (POLU), misalnya, yang bergerak di industri garmen, tercatat memiliki PE fantastis sebesar 1.636 kali dengan harga saham mendekati Rp 20.000.

Tidak kalah mencolok, saham PT Surya Semesta Indonusa Tbk (SSIA) di sektor kawasan industri dan properti menunjukkan PE 562,99 kali. Sementara itu, saham termahal di bursa, PT DCI Indonesia Tbk (DCII), yang diperdagangkan di atas Rp 225.000 per saham, juga memiliki rasio PE yang tinggi, yakni 459,81 kali.

Yang menarik, sorotan ini juga menyentuh saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), emiten dengan market cap tertinggi di BEI yang dikendalikan konglomerat Prajogo Pangestu, masuk dalam daftar dengan PE 446,17 kali. Bahkan, sebuah emiten di mana Hashim Djojohadikusumo memiliki kepentingan melalui grup usahanya, PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), juga tercatat memiliki PE 516,82 kali, menunjukkan bahwa peringatannya bersifat umum dan tidak memandang latar belakang kepemilikan.

Peringatan Keras dari Utusan Khusus Presiden

Dalam forum Asean Climate Forum (ACF) 2026, Hashim dengan tegas menyampaikan kekhawatirannya. Ia melihat angka-angka PE yang tidak masuk akal sebagai pertanda adanya masalah mendasar di pasar modal.

"Ketika ada perusahaan dengan PE ratio 167, 900, 1.200, bahkan 4.000, ada sesuatu yang salah. Itu red flag," tegasnya.

Hashim lebih lanjut menjelaskan bahwa gejolak dan anomali semacam ini seringkali berakar pada kurangnya transparansi. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan meningkatkan pengawasan secara ketat untuk menjaga kesehatan pasar. Menurutnya, kepercayaan dan kredibilitas adalah dua pilar utama yang menopang keberhasilan pasar modal, dan keduanya bisa tergerus oleh praktik yang tidak transparan.

Memahami Rasio PE dan Implikasinya bagi Investor

Bagi kalangan investor, rasio price to earnings merupakan alat ukur valuasi yang fundamental. Rasio ini, sederhananya, membandingkan harga saham dengan laba bersih per saham yang dihasilkan perusahaan. PE yang tinggi dapat diartikan pasar mengharapkan pertumbuhan laba yang sangat pesat di masa depan, atau bisa juga mencerminkan harga saham yang sudah terlalu mahal (overvalued) dibandingkan kemampuan riil perusahaan menghasilkan profit.

Oleh karena itu, kemunculan puluhan saham dengan PE ratusan hingga ribuan kali, seperti yang diungkap dalam data tersebut, patut menjadi bahan perhatian serius. Angka-angka ekstrem ini menuntut kehati-hatian ekstra dari para investor dalam melakukan analisis, tidak hanya mengandalkan momentum harga, tetapi juga mendalami fundamental dan prospek bisnis jangka panjang dari emiten-emiten tersebut.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar