XL Axiata Catat Kerugian Rp4,42 Triliun di 2025 Didorong Lonjakan Beban Operasional

- Jumat, 13 Februari 2026 | 03:25 WIB
XL Axiata Catat Kerugian Rp4,42 Triliun di 2025 Didorong Lonjakan Beban Operasional

PARADAPOS.COM - PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) mencatatkan kerugian bersih yang signifikan sepanjang tahun 2025, berbalik dari kinerja laba pada tahun sebelumnya. Laporan keuangan perseroan yang dirilis menunjukkan kerugian bersih mencapai Rp4,42 triliun, sebuah perubahan drastis dari laba bersih Rp1,81 triliun di 2024. Pergeseran ini terutama didorong oleh lonjakan beban operasional yang melampaui pertumbuhan pendapatan, meskipun pendapatan perusahaan secara keseluruhan tetap menunjukkan tren positif.

Analisis Penyebab Kerugian

Meski pendapatan EXCL tumbuh 23,42% menjadi Rp42,4 triliun pada 2025, beban yang harus ditanggung perusahaan melonjak jauh lebih tinggi. Beban operasional membengkak 52,21% menjadi Rp43,5 triliun, menciptakan tekanan berat pada margin keuangan. Situasi ini menggambarkan tantangan operasional yang kompleks, di mana pertumbuhan bisnis ternyata diiringi oleh kenaikan biaya yang tidak proporsional. Analis kerap menyoroti bahwa dalam industri telekomunikasi yang padat modal, pengelolaan efisiensi biaya sama krusialnya dengan mengejar pertumbuhan pendapatan.

Komposisi Pendapatan dan Kontribusi Segmen

Dari sisi pendapatan, kontribusi terbesar tetap berasal dari bisnis inti telekomunikasi. Pendapatan jasa GSM mobile dan jaringan telekomunikasi mencapai Rp41,91 triliun, dengan porsi dominan datang dari data dan layanan digital senilai Rp38,5 triliun. Sementara itu, segmen managed service dan jasa teknologi informasi menyumbang Rp529,44 miliar. Rincian ini menunjukkan bahwa transformasi digital dan permintaan data tetap menjadi penggerak utama bisnis, meski di tengah kondisi keuangan yang menantang.

Kondisi Kekuatan dan Kesehatan Keuangan

Di balik catatan rugi, neraca perusahaan menunjukkan beberapa indikator kekuatan. Total aset EXCL mengalami peningkatan signifikan menjadi Rp115,3 triliun pada akhir 2025, naik dari Rp86,17 triliun setahun sebelumnya. Peningkatan aset ini seringkali mencerminkan ekspansi atau investasi jangka panjang dalam infrastruktur, seperti jaringan dan teknologi.

Namun, sisi liabilitas juga turut membesar. Liabilitas jangka pendek naik menjadi Rp31,8 triliun, sementara liabilitas jangka panjang tercatat sebesar Rp53,4 triliun. Di sisi lain, ekuitas pemegang saham tumbuh menjadi Rp30 triliun, dari sebelumnya Rp26,2 triliun. Kondisi neraca yang demikian menuntut kehati-hatian dalam mengelola struktur modal dan arus kas untuk memastikan keberlanjutan operasi.

_____

Disclaimer: Berita ini disajikan untuk tujuan informasi dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Setiap keputusan investasi mengandung risiko dan menjadi tanggung jawab penuh investor. Disarankan untuk melakukan penelitian dan konsultasi dengan penasihat keuangan yang independen sebelum mengambil keputusan investasi.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar