Analis: Arus Keluar Modal Asing Diprediksi Berlanjut hingga Mei 2026

- Jumat, 13 Februari 2026 | 11:25 WIB
Analis: Arus Keluar Modal Asing Diprediksi Berlanjut hingga Mei 2026

PARADAPOS.COM - Arus modal asing diperkirakan akan terus keluar dari pasar saham Indonesia hingga Mei 2026. Analis menilai fenomena ini dipicu oleh sikap menunggu ("wait and see") investor menyusul rencana aksi otoritas bursa terkait indeks MSCI, di tengah berbagai ketidakpastian makroekonomi global dan domestik. Data per Rabu (12/2/2026) menunjukkan arus keluar bersih ("net outflow") asing telah mencapai Rp14,46 triliun sejak awal tahun.

Tekanan Jual yang Lebih dari Sekadar Rebalancing

Tekanan jual yang terjadi saat ini dinilai memiliki karakter yang berbeda. Rully Wisnubroto, Head of Research and Chief Economist, menjelaskan bahwa aksi jual mayoritas berasal dari dana aktif ("active funds"), bukan semata-mata akibat penyesuaian portofolio ("rebalancing") indeks MSCI. Hal ini membuat nilai arus keluar jauh lebih besar dibandingkan saat peristiwa rebalancing biasa terjadi.

Artinya, tekanan jual masih bersifat dinamis dan berpotensi berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini, menurutnya, perlu menjadi perhatian serius bagi pembuat kebijakan.

"Untuk 1-2 bulan ke depan, peluang "inflow" masih relatif sulit. Paling tidak sampai Mei menunggu dari MSCI, potensi "outflow" masih ada. Ini hal yang semestinya sangat dihindari oleh pemerintah," ungkapnya pada Jumat (13/2/2026).

Kunci Pemulihan Ada di Respons Regulator

Prospek kembalinya dana asing ke pasar saham, lanjut Rully, sangat bergantung pada kecepatan dan ketepatan respons regulator serta pemerintah. Perbaikan tata kelola pasar modal dan kebijakan yang lebih pro-investasi dinilai sebagai kunci untuk meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global.

Sementara itu, minat investor asing justru terlihat mengalir ke instrumen yang lebih aman. Data menunjukkan dana asing lebih banyak masuk ke Surat Berharga Negara (SBN), yang mencerminkan preferensi terhadap aset defensif di tengah gejolak pasar.

Faktor Penggerak Pasar di Tengah Ketidakpastian

Selain isu MSCI, pelaku pasar juga sedang mengamati sejumlah faktor penentu lainnya. Andrey Wijaya, Head of Research RHB Sekuritas, menyebutkan arah suku bunga global, pergerakan dolar AS, stabilitas rupiah, harga komoditas, serta perkembangan kebijakan ekonomi domestik menjadi fokus utama.

Kombinasi antara faktor eksternal dan kredibilitas reformasi di dalam negeri ini akan menjadi penentu arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek hingga menengah.

Pada perdagangan Jumat (13/2), IHSG memang ditutup melemah 0,64% ke level 8.212,27, mencerminkan kehati-hatian investor menjelang akhir pekan yang panjang. Sektor infrastruktur mengalami koreksi terdalam, sementara transportasi menguat didorong oleh insentif pemerintah untuk industri galangan kapal.

Pekan depan, perhatian pasar akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75%.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar