PARADAPOS.COM - Seorang penyintas bencana hidrometeorologi di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, mengeluarkan biaya hingga Rp6 juta dari koceknya sendiri untuk membersihkan rumahnya yang tertimbun lumpur pasca banjir bandang akhir November 2025. Fauziah, sang penyintas, terpaksa mengupah tenaga kerja karena kondisi rumah yang rusak parah dan tertutup material lumpur setinggi lebih dari dua meter, sementara bantuan stimulan dari pemerintah belum dirasakannya.
Kerugian Finansial dan Kondisi Rumah yang Memprihatinkan
Fauziah, seorang warga paruh baya dari Kampung Durian, Kecamatan Rantau, menceritakan betapa besarnya dampak yang harus ia tanggung. Rumahnya nyaris tak bersisa saat banjir bandang menerjang, hanya menyisakan tumpukan lumpur tebal yang memenuhi setiap ruangan dan merusak seluruh plafon. Situasi itu memaksanya untuk merogoh tabungan pribadi guna membayar jasa pembersihan.
"Saya membiayai sendiri dengan mengupah orang lain membersihkan rumah dari lumpur banjir bandang," tuturnya, menggambarkan upaya mandiri yang harus dilakukan keluarganya.
Belum Tersentuh Bantuan dan Hidup Mengungsi
Hingga kini, Fauziah mengaku belum menerima bantuan stimulan perbaikan rumah yang dijanjikan bagi korban terdampak. Bahkan, statusnya sebagai calon penerima bantuan pun tidak ia ketahui dengan pasti. Kondisi ini memperpanjang masa pengungsiannya bersama keluarga, yang terpaksa menumpang di rumah kerabat karena akses jalan dan kondisi rumahnya sendiri belum layak huni.
"Saat ini kami sekeluarga tinggal menumpang di rumah kerabat. Kami belum dapat kembali karena selain dalam rumah masih tertimbun lumpur, jalan menuju ke rumah juga masih berlumpur," jelasnya dengan nada prihatin.
Harapan untuk Segera Pulang dan Sambut Ramadan
Di balik segala kesulitan, harapan untuk dapat kembali ke kehidupan normal tetap menyala. Fauziah dan warga terdampak lainnya sangat berharap pemerintah dapat turun tangan membantu proses pembersihan lumpur di permukiman mereka. Dukungan itu dinilai penting mengingat banyak korban yang telah kehilangan hampir seluruh harta bendanya.
Harapan itu semakin kuat menyambut bulan suci Ramadan. "Kami hanya berharap bisa segera pulang, sama dengan keinginan masyarakat yang terdampak bencana lainnya di daerah ini. Apalagi menjelang bulan suci Ramadan dan berharap menjalankan ibadah puasa di rumah sendiri," ungkap Fauziah, mencerminkan kerinduan untuk beribadah di tengah keluarga dan rumah sendiri setelah melewati cobaan berat.
Artikel Terkait
Mantan Kapolres Bima Kota Ditahan Usai Tes Rambut Positif dan Sabu Diamankan di Rumahnya
Sekjen Kemendagri Ingatkan Pemerintah Desa Fokus pada Kontribusi Nyata
Media Group Anugerahkan Lifetime Achievement Anumerta kepada Laurens Tato di Journalist Day 2026
Pembunuhan Aktivis Kanan di Lyon Picu Ketegangan Politik Prancis