Universitas Mataram Bantah Keterkaitan Video Teh Pucuk Viral dengan Mahasiswinya

- Senin, 16 Februari 2026 | 05:25 WIB
Universitas Mataram Bantah Keterkaitan Video Teh Pucuk Viral dengan Mahasiswinya

PARADAPOS.COM - Ruang digital kembali riuh oleh pencarian dua tautan misterius berjudul "Teh Pucuk 17 menit" dan "Teh Pucuk 1 menit 50 detik". Klaim tentang dua versi video ini menyebar cepat di media sosial dan aplikasi percakapan, memicu spekulasi luas. Namun, penelusuran mendalam mengungkap bahwa fenomena ini lebih merupakan pola clickbait lama yang dibungkus narasi baru, tanpa dasar fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Asal Muasal Kegaduhan Digital

Gelombang rumor ini berawal dari sebuah potongan video pendek berdurasi kurang dari dua menit. Cuplikan itu, yang menampilkan sebuah botol minuman, kemudian dibubuhi judul-judul sensasional dan dikaitkan dengan berbagai narasi liar yang berkembang di komunitas online. Dari sinilah kemudian muncul klaim tanpa bukti tentang keberadaan versi panjang berdurasi 17 menit. Narasi tersebut bahkan merambah ke isu di luar konteks awal, dengan menyebut-nyebut kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Lombok Timur serta mengaitkannya dengan nama mahasiswa Universitas Mataram. Padahal, tidak ada satu pun bukti otentik yang menguatkan rangkaian klaim tersebut.

Klarifikasi Resmi dari Kampus

Merespons rumor yang kian tak terkendali, pihak Universitas Mataram mengambil sikap tegas melalui Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS). Mereka secara resmi membantah keterkaitan insitusinya dengan video viral tersebut.

"Perempuan dalam video tersebut bukan mahasiswi Universitas Mataram," tegas pernyataan dari Satgas PPKS, sekaligus menegaskan bahwa lokasi perekaman bukan di wilayah NTB dan video tersebut telah beredar sejak awal tahun 2025.

Klarifikasi ini dikuatkan dengan observasi perbedaan fisik dan suara yang mencolok antara sosok dalam video dengan mahasiswi yang ditudingkan. Langkah ini diambil untuk menghentikan spekulasi yang berpotensi mencemari nama baik dan merugikan pihak-pihak yang tidak bersalah.

Keramaian Kosong di Platform Sosial

Sementara itu, di platform seperti TikTok, tagar terkait justru dipenuhi oleh konten-konten yang ikut-ikutan ramai tanpa substansi. Banyak akun sekadar mengunggah foto produk minuman dengan narasi mengikuti tren, tanpa memberikan penjelasan atau konteks yang jelas mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

“Oh ini yang lagi viral, banyak seliweran di beranda. Sampai banyak orang posting,” tutur salah satu akun, menggambarkan fenomena ikut arus.

Situasi ini mengindikasikan bahwa bagi sebagian pengguna, tujuan utama adalah meraih engagement dengan menunggangi popularitas suatu topik, bukan menyampaikan informasi yang akurat. Tingginya angka interaksi pada konten semacam ini justru memperlihatkan betapa mudahnya rasa penasaran publik dieksploitasi, meski isinya hampa.

Bahaya Tersembunyi di Balik Tautan Mencurigakan

Di luar narasi versi 17 menit, peredaran tautan berdurasi 1 menit 50 detik yang masif sejak pertengahan Februari 2026 juga patut diwaspadai. Tautan dengan judul provokatif itu seringkali menggiurkan untuk diklik, namun penelusuran menunjukkan ia tidak mengarah ke platform video yang sah. Alih-alih, pengguna dihadapkan pada situs pihak ketiga yang meminta login ulang atau mengunduh file tertentu—pola klasik yang identik dengan upaya phishing dan penyebaran malware.

Risikonya nyata, mulai dari kebocoran data pribadi, potensi peretasan akun media sosial atau finansial, hingga kerugian materiil. Meski ramai disebut memiliki dua versi, video "Teh Pucuk" viral itu sendiri sejatinya tidak pernah terkonfirmasi keberadaannya. Nama produk tersebut jelas hanya dijadikan umpan (bait) untuk membuat judul terlihat menarik dan mudah menyebar.

Pentingnya Kewaspadaan di Era Informasi Instan

Fenomena ini merupakan pengingat berharga tentang pentingnya literasi digital yang kuat. Di tengah banjir informasi dan konten viral yang bergerak cepat, sikap kritis dan kebiasaan untuk melakukan verifikasi sebelum mempercayai atau membagikan suatu informasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Kewaspadaan terhadap tautan mencurigakan dan narasi yang terlalu sensasional adalah langkah pertama untuk melindungi diri dari jebakan hoaks dan kejahatan siber yang terus ber evolusi.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar