PARADAPOS.COM - Dua pakar dengan latar belakang berbeda, peneliti Rony Teguh dan ahli digital forensik Josua Sinambela, secara terpisah mengungkapkan temuan yang mengindikasikan kejanggalan pada ijazah S2 dan S3 milik Rismon Sianipar dari Yamaguchi University, Jepang. Meski pendekatan analisis keduanya berbeda, kesimpulan yang dihasilkan sama-sama mempertanyakan keaslian dokumen gelar tersebut, menambah sorotan publik terhadap kasus ini.
Perbedaan Sorotan dan Metode Analisis
Meski sama-sama meragukan keabsahan ijazah, Rony Teguh dan Josua Sinambela memiliki titik fokus analisis yang tidak sepenuhnya sama. Rony, yang melakukan pengecekan langsung ke sumber, menyoroti ketidaksesuaian data dan bahasa yang digunakan.
“Saya juga melihat ini ada kecurigaan, bukan hanya curiga tapi sudah dipastikan 100 persen. Saya cek ke Yamadai, Yamaguchi Daigaku universitas di Yamaguchi,” tegas Rony dalam sebuah forum diskusi.
Dia melanjutkan, “Saya tulis dalam bahasa Jepang bahwa yang bersangkutan tesis dengan master yang tertulis di CV itu tidak ada.”
Sementara itu, Josua Sinambela mendasarkan analisisnya pada pemeriksaan fisik dan perbandingan dokumen. Dari sudut pandang forensik digital, ia menemukan setidaknya enam poin kejanggalan, mulai dari warna, stempel, nama rektor, tanda tangan, penulisan huruf yang dianggap melenceng, hingga tidak dicantumkannya bidang ilmu spesifik pada ijazah yang dipermasalahkan. Menurutnya, dokumen itu terlihat sangat berbeda jika dibandingkan dengan sampel ijazah asli dari universitas yang sama.
Profil dan Kredensial Rony Teguh
Lantas, siapa sebenarnya kedua ahli ini? Rony Teguh adalah seorang peneliti dan dosen dengan fokus pada Internet of Things (IoT) dan Kecerdasan Buatan (AI). Dengan pengalaman lebih dari 16 tahun di bidang jaringan komputer dan sensor nirkabel, ia menguasai berbagai bahasa pemrograman seperti Python, C , dan MATLAB.
Kredensial akademiknya cukup kuat. Rony menyandang gelar Master of Engineering dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan meraih gelar Doktor (Ph.D.) dari Hokkaido University di Jepang pada tahun 2014. Pengalaman langsungnya di dunia akademik Jepang mungkin menjadi salah satu alasan ia terdorong untuk melakukan verifikasi silang.
Dalam kariernya, Rony tercatat aktif sebagai dosen di Universitas Palangka Raya dan saat ini juga berperan sebagai peneliti untuk WWF Indonesia di Kalimantan Tengah. Di sana, ia memanfaatkan keahliannya dalam AI dan drone untuk proyek konservasi, seperti mendeteksi objek di sarang orangutan. Ia juga diketahui telah menghasilkan beberapa hak cipta di bidang IoT.
Profil dan Kredensial Josua Sinambela
Di sisi lain, Josua Sinambela adalah nama yang telah dikenal di lingkaran keamanan siber Indonesia. Sebagai pakar digital forensik dan keamanan siber, ia adalah pendiri serta CEO dari RootBrain IT Security Training & Consulting dan PT Analis Forensik Digital.
Josua membawa pengalaman praktis yang sangat mendalam, lebih dari 18 tahun, di bidang infrastruktur jaringan dan keamanan informasi. Latar belakang pendidikannya pun relevan, yakni dari jurusan Teknik Elektro – Sistem Komputer dan Informatika UGM, baik untuk tingkat sarjana maupun magister.
Kepercayaan terhadap kompetensinya diperkuat oleh segudang sertifikasi internasional bergengsi yang dipegangnya, seperti Certified Ethical Hacker (CEH), Certified Hacking Forensic Investigator (CHFI), Licensed Penetration Tester (LPT), dan berbagai sertifikasi dari CompTIA dan Cisco. Sebelum membangun perusahaan sendiri, karirnya pernah menempatkannya sebagai Kepala Unit Sistem dan Teknologi Informasi di UGM, serta sebagai konsultan untuk sejumlah BUMN besar.
Keahliannya dalam mengaudit sistem dan menganalisis bukti digital memberikan pondasi metodologis yang kuat terhadap temuan-temuannya dalam kasus ini. Kombinasi antara pengetahuan akademis dan pengalaman lapangan yang dimiliki kedua pakar inilah yang membuat analisis mereka mendapatkan perhatian serius.
Artikel Terkait
Bareskrim: Narkoba dalam Koper Mantan Kapolres Bima untuk Konsumsi Pribadi
AKBP Didik Tersangka Narkoba, Koper Berisi Sabu dan Ekstasi Ditemukan di Rumah Polwan Bawahan
Kasus Ijazah Jokowi Berlarut, Dinamika Hukum dan Dukungan Publik Terus Menguat
Eggi Sudjana Ungkap Pertemuan Tertutup dengan Jokowi yang Berujung SP3