PARADAPOS.COM - Sebuah dusun di Aceh Utara, Lhok Pungki, nyaris lenyap dari peta setelah diterjang banjir bandang dan tanah longsor pada November 2025. Bencana itu tidak hanya menghancurkan ratusan ribu rumah warga di kabupaten tersebut, tetapi juga memaksa seluruh penduduk satu dusun untuk mengungsi secara permanen. Kini, di sisa-sisa reruntuhan, para penyintas seperti Mahdi (40) berjuang memunguti kenangan sekaligus membangun kembali kehidupan mereka, termasuk menyambut bulan Ramadhan dengan tradisi yang telah berubah selamanya.
Kenangan di Tengah Reruntuhan
Mahdi, yang akrab disapa Adi, berdiri di atas tanah yang kini hanya dipenuhi tumpukan kayu dan batu. Tangannya menunjuk ke arah kekosongan. "Yang di sana, di batang pohon itu, (dulu) rumah saya itu," ujarnya.
Suaranya lantas beralih ke titik lain, tak jauh dari situ. "Nah! Itu rumah bapak. Sebelah sana itu rumah saudara juga," lanjut Adi. Meski yang terlihat hanya puing, sorot matanya masih jelas menggambarkan bentuk rumah kayu yang pernah berdiri tegak di lahan itu. Setiap penunjukannya adalah upaya menghidupkan kembali memori yang telah tersapu air bah.
Adi adalah satu dari 326 warga Dusun Lhok Pungki, Desa Gunci, Kecamatan Sawang, yang kehilangan tempat tinggal. Data pemerintah daerah mencatat kerusakan parah: ribuan rumah rusak berat di seluruh kabupaten, dengan puluhan ribu jiwa masih mengungsi. Lhok Pungki sendiri disebut sebagai "dusun yang hilang" karena hampir semua bangunannya luluh lantak. Hanya tersisa beberapa rumah di tepian, yang kini juga kosong setelah seluruh warga, sekitar 85 kepala keluarga, direlokasi ke Dusun Paya Reubek karena kawasan tersebut ditetapkan sebagai daerah rawan bencana.
Ramadhan Tanpa Kuburan untuk Diziarahi
Kunjungan Adi ke bekas kampung halamannya selalu dibayangi rasa pilu yang mendalam. Kerinduan pada orang tua bercampur dengan kepedihan melihat segala sesuatu yang ia kenal telah musnah. Bahkan, kuburan keluarganya pun hanyut terbawa arus.
"Aku pun pulang, turun sini (Dusun Lhok Pungki), mau lihat … nanti turun di sebelah sana itu (kuburan) … aku … tidak ada orang tua lagi," katanya dengan suara terbata-bata.
Dengan nada bergetar, ia melanjutkan, "Buat apa ada harta? Orang tua tidak ada lagi, kuburan pun hilang." Kehilangan itu terasa sangat pahit karena berziarah ke makam adalah tradisi yang selalu ia jalani jelang Ramadhan dan Idul Adha. Begitu pula kebiasaan buka puasa perdana di rumah orang tuanya. Tahun ini, tradisi itu terpaksa berubah. Ramadhan akan ia jalani di tempat pengungsian, bersama warga lain yang senasib. Interaksi dengan sesama penyintas, ungkap Adi, menjadi satu-satunya pelipur lara di tengah kesedihan yang masih membayangi.
Berkorban Demi Sekolah Anak
Di balik duka, semangat Adi untuk melanjutkan hidup tetap menyala, terutama untuk kedua putrinya yang masih kecil. Untuk memastikan anak-anaknya tetap bersekolah, ia dan istrinya rela melakukan pekerjaan apa saja. Kebun pinang miliknya sendiri telah hilang, sehingga kini ia harus memetik pinang atau sawit di kebun orang lain.
"Yang kami usahakan sekarang kan anak sekolah jangan putus, harus ada duit. Di mana kita kerja yang penting uang anak sekolah harus ada," tegas Adi.
Ramadhan tahun ini memang membawa suasana yang sama sekali baru bagi Adi dan warga Lhok Pungki. Luka akibat bencana masih terasa perih dan membutuhkan waktu panjang untuk sembuh. Namun, bagi seorang ayah seperti Adi, tanggung jawab kepada keluarga adalah alasan terkuat untuk bangkit dan terus melangkah, mengarungi hidup dari nol di tanah yang baru.
Artikel Terkait
44 Warga Binaan Konghucu Dapat Remisi Khusus Sambut Imlek 2026
Banjir Grobogan Tergenangi 9.000 KK, Air Bergerak dari Hulu ke Hilir
Polisi Tangkap Pencuri Beraksi dengan Modus Batik dan Lanyard di Hotel Mewas Jakarta
BI Kaltim Siapkan Rp2,18 Triliun Uang Tunai Layak Edar untuk Ramadhan dan Lebaran 2026