Banjir Grobogan Rendam 9.736 KK, Tanggul Jebol Perparah Genangan

- Selasa, 17 Februari 2026 | 12:25 WIB
Banjir Grobogan Rendam 9.736 KK, Tanggul Jebol Perparah Genangan

PARADAPOS.COM - Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, sejak Minggu (15/2) malam memicu banjir besar yang meluas. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat sebanyak 9.736 Kepala Keluarga (KK) di 45 desa terdampak. Selain luapan dari beberapa sungai utama, bencana ini juga diperparah oleh jebolnya sejumlah tanggul, merendam permukiman, infrastruktur, hingga lahan pertanian.

Penyebab dan Dampak Kerusakan

Banjir yang melanda Grobogan tidak hanya disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi. Kepala Pelaksana BPBD Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto, menjelaskan bahwa luapan air dari beberapa sungai menjadi pemicu utama. Debit air dari Sungai Glugu, Jajar, Tuntang, dan Lusi meningkat drastis dan tidak lagi mampu ditampung alur sungai.

“Hujan deras terjadi sejak Minggu (15/2) malam hingga Senin (16/2) dini hari. Selain merendam permukiman dan infrastruktur, banjir juga menyebabkan sedikitnya satu rumah rusak berat dan satu rumah rusak sedang di Desa Ngrandah, Kecamatan Toroh,” tuturnya.

Kerusakan fisik juga terjadi pada sejumlah tanggul yang jebol di beberapa titik, seperti di Sungai Cabean, Sungai Jajar Baru, dan Sungai Jratun. Jebolnya infrastruktur pengendali banjir ini memperluas genangan ke wilayah-wilayah yang lebih luas.

Wilayah Terparah dan Kondisi Terkini

Dari sekian banyak wilayah yang terendam, beberapa titik mengalami dampak yang cukup serius. Di Kelurahan Kalongan, Kecamatan Purwodadi, genangan air dilaporkan mencapai ketinggian sekitar satu meter, yang berdampak pada 1.180 KK. Sementara itu, Desa Cingkrong mencatat korban terdampak terbanyak, dengan 2.416 KK terendam air setinggi 10 hingga 50 sentimeter.

Wahyu menambahkan detail kondisi di lokasi lain, “Di Kecamatan Godong, banjir juga dipicu jebolan tanggul Sungai Tuntang yang berdampak hingga Desa Tinanding. Di Kecamatan Purwodadi, wilayah terparah terjadi di Kelurahan Kalongan dengan 1.180 KK terdampak. Ketinggian air di Perumahan Permata Hijau Kalongan dilaporkan mencapai sekitar satu meter.”

Tak hanya permukiman, banjir juga mengancam sektor pertanian. Ratusan hektare sawah, termasuk tanaman padi yang siap panen di Desa Tinanding, turut terendam, berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi petani.

Upaya Tanggap Darurat yang Dilakukan

Menghadapi situasi darurat ini, upaya penanganan telah digelar secara terkoordinasi. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, relawan, dan unsur Forkopimda turun langsung ke lapangan untuk melakukan evakuasi warga di titik-titik rawan, seperti di Kecamatan Toroh, Purwodadi, dan Godong.

“Tim gabungan dari BPBD, TNI-Polri, relawan, dan unsur Forkopimda melakukan evakuasi warga di sejumlah titik, termasuk di Kecamatan Toroh, Purwodadi, dan Godong. Distribusi bantuan logistik dan peralatan darurat juga telah disalurkan ke wilayah terdampak,” jelas Wahyu.

Selain evakuasi dan distribusi bantuan, kegiatan kerja bakti juga dilakukan untuk memperbaiki tanggul yang jebol dan membersihkan lumpur, terutama di ruas jalan Purwodadi-Semarang. Pemerintah daerah bersama Forkopimda juga mendampingi Gubernur Jawa Tengah dalam meninjau lokasi dan menggelar rapat koordinasi untuk mempercepat penanganan.

Pemantauan dan Kewaspadaan Berlanjut

Hingga Selasa (17/2) sore, sejumlah wilayah masih dilaporkan tergenang, meski sebagian besar lainnya mulai menunjukkan tanda-tanda surut. Wilayah yang masih terendam antara lain berada di Kecamatan Purwodadi, Toroh, Tegowanu, Godong, Gubug, dan Tawangharjo.

Meski data pemantauan dari beberapa bendung seperti Sedadi dan Klambu menunjukkan tren penurunan debit air, otoritas setempat tetap mengimbau kewaspadaan. “Hingga Selasa (17/2) sore sejumlah wilayah masih tergenang, antara lain di Kecamatan Purwodadi, Toroh, Tegowanu, Godong, Gubug, dan Tawangharjo. Namun sebagian besar wilayah lainnya dilaporkan berangsur surut,” ungkapnya.

Warga yang bermukim di sepanjang bantaran sungai diminta untuk tetap siaga mengingat potensi terjadinya banjir susulan masih ada, sementara upaya pemulihan pasca-bencana terus dilakukan secara bertahap.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar