BPBD Lumajang Imbau Warga Waspadai Peningkatan Aktivitas Gunung Semeru

- Selasa, 17 Februari 2026 | 18:25 WIB
BPBD Lumajang Imbau Warga Waspadai Peningkatan Aktivitas Gunung Semeru

PARADAPOS.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengimbau warga di sekitar lereng Gunung Semeru untuk meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini dikeluarkan menyusul peningkatan aktivitas vulkanik yang ditandai dengan beberapa kali kejadian awan panas guguran dalam beberapa hari terakhir, mengarah ke sisi tenggara gunung.

Aktivitas Vulkanik Meningkat, Dua Kali Erupsi Teramati

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, mengonfirmasi adanya eskalasi aktivitas Gunung Semeru. Peningkatan ini tampak jelas dari pemantauan visual dan instrumental di pos pengamatan.

“Tercatat sejak Jumat 13 Februari 2026 lalu Gunung Semeru mengalami erupsi hingga dua kali. Aktivitas vulkanik ini ditandai dengan munculnya kolom abu setinggi seribu meter pada pukul 10.54 WIB. Tak berselang lama juga memuntahkan awan panas guguran sejauh 3000 meter ke sisi Tenggara Gunung,” papar Isnugroho.

Status Turun Bukan Berarti Aman

Meski status gunung api terpantau mengalami penurunan, Isnugroho menekankan bahwa kondisi tersebut tidak lantas menjamin keamanan penuh. Ancaman nyata masih membayangi, terutama dari potensi awan panas guguran dan banjir lahar dingin. Risiko ini dinilai semakin kritis dengan masuknya puncak musim hujan, di mana material vulkanik yang menumpuk di aliran sungai berpotensi besar terbawa arus deras secara tiba-tiba.

Menyikapi hal ini, petugas di Pos Pantau Curah Kobokan, Desa Sumber Wuluh, telah disiagakan penuh. Mereka secara proaktif memberikan peringatan dan imbauan langsung kepada warga, termasuk para penambang pasir yang kerap beraktivitas di zona berbahaya.

Larangan Aktivitas di Zona Bahaya

Badan Geologi bersama Pemerintah Kabupaten Lumajang secara tegas meminta masyarakat mematuhi batasan zona bahaya yang telah ditetapkan. Larangan ini dibuat berdasarkan kajian ilmiah untuk meminimalisir korban jiwa.

“Warga untuk tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan yang berpotensi terdampak hingga 17 kilometer. Menjauhi radius 5 kilometer dari Kawah Jonggring Seloko karena risiko lontaran batu pijar,” tegas Isnugroho menambahkan rekomendasi teknis tersebut.

Secara spesifik, seluruh aktivitas manusia dilarang di area sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan, dengan radius berbahaya mencapai 13 kilometer dari puncak kawah.

Kesiapsiagaan Terus Diperkuat di Lapangan

Di lapangan, Pemerintah Kabupaten Lumajang memastikan seluruh elemen penanggulangan bencana, mulai dari BPBD, TNI, Polri, hingga relawan terlatih, tetap berada dalam kondisi siaga tinggi. Upaya yang dilakukan tidak hanya terbatas pada pemantauan rutin, tetapi juga mencakup tindakan preventif yang konkret.

Petugas secara berkala memeriksa dan memperkuat infrastruktur jalur evakuasi, memastikan akses tetap lancar jika diperlukan. Selain itu, sistem peringatan dini atau early warning system yang terpasang di titik-titik rawan juga terus dioptimalkan fungsinya untuk memberikan sinyal secepat mungkin kepada masyarakat.

Melalui serangkaian langkah mitigasi berkelanjutan ini, diharapkan kesadaran dan literasi kebencanaan warga setempat dapat terbangun lebih baik. Kolaborasi yang solid antara pemerintah, ahli vulkanologi, dan komunitas lokal menjadi pondasi utama dalam menjaga keselamatan jiwa di wilayah yang akrab dengan ancaman alam ini.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar