PARADAPOS.COM - Jelang Ramadan 2026, ratusan warga di Desa Meunasah Raya, Pidie Jaya, Aceh, terpaksa menjalani bulan suci dari lokasi pengungsian. Meski rumah mereka masih tertimbun material longsor yang terjadi akhir November 2025, semangat untuk menyambut Ramadan tak luntur. Kepala desa setempat, Abdul Halim Ishak, mengonfirmasi bahwa sekitar 500 jiwa masih tinggal di tenda-tenda darurat, namun persiapan keagamaan dan tradisi tetap berjalan.
Semangat di Tengah Reruntuhan
Bencana tanah longsor beberapa bulan silam meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Meunasah Raya. Rumah-rumah warga belum bisa ditinggali kembali, terpendam di bawah tanah dan bebatuan. Namun, di balik kondisi yang serba terbatas itu, ada keteguhan hati yang menguat. Abdul Halim Ishak menceritakan, antusiasme warga menyambut Ramadan justru sangat tinggi, sebuah gambaran nyata tentang resilensi masyarakat Aceh di tengah musibah.
“Kalau masyarakat kita ini walaupun dalam keadaan seperti ini, tetapi masih sangat bersemangat untuk menyambut bulan suci Ramadan walaupun mereka di dalam tempat pengungsian,” tuturnya dalam sebuah wawancara dari Pidie Jaya, Selasa (17/2/2026) malam.
Logistik dan Persiapan Menyambut Ramadan
Memasuki bulan puasa, kebutuhan dasar menjadi perhatian utama. Kepala Desa Abdul Halim Ishak menjelaskan, pihaknya telah mengupayakan pemenuhan kebutuhan pokok, termasuk kompor gas yang banyak didonasikan. Namun, tantangan muncul pada ketersediaan tabung gas yang jumlahnya masih terbatas. Untuk stok pangan, kondisi relatif aman berkat manajemen logistik yang diatur melalui gudang desa.
“Kami sudah mempersiapkan, semacam kemarin itu setiap ada donasi-donasi, selalu kami bilang, kebutuhan untuk menjelang bulan suci Ramadan adalah kompor gas. Alhamdulillah sudah tercover untuk masyarakat kita, tetapi banyak yang kurang masih tabung gas,” jelasnya mengenai kondisi di lapangan.
Merawat Tradisi di Pengungsian
Sebagai bagian dari budaya Aceh yang kental, tradisi ‘meugang’ atau menyantap daging sapi atau kerbau sehari sebelum Ramadan, tetap akan dilaksanakan. Tradisi ini bukan sekadar urusan kuliner, melainkan simbol syukur dan kebersamaan yang sangat dijaga. Rencananya, kegiatan meugang akan diadakan di lokasi pengungsian, menjadi momen untuk menguatkan silaturahmi dan semangat kolektif warga.
Dari balik tenda pengungsian di Pidie Jaya, cerita ini bukan hanya tentang kekurangan materi, tetapi lebih tentang ketabuhan. Persiapan Ramadan yang tetap berjalan, meski dengan segala keterbatasan, menunjukkan bagaimana spiritualitas dan kearifan lokal menjadi penopang utama masyarakat dalam menghadapi masa-masa sulit.
Artikel Terkait
Tiga Siswi SMK Dikerumuni Monyet Liar Saat Mendaki di Gunung Budeg
Titiek Soeharto Apresiasi Harmoni Budaya dalam Pawai Imlek Jakarta
BPBD Lumajang Imbau Warga Waspadai Peningkatan Aktivitas Gunung Semeru
Tarique Rahman Resmi Dilantik sebagai Perdana Menteri Bangladesh