PARADAPOS.COM - Shalat Tarawih, ibadah sunnah yang khas dilaksanakan pada malam-malam bulan Ramadan, menyimpan keutamaan spiritual yang sangat besar. Artikel ini mengulas secara mendalam tentang pengertian, tata cara, waktu pelaksanaan, dan khususnya rangkaian keutamaan yang disebutkan dalam Kitab Durratun Nasihin bagi yang melaksanakannya dari malam pertama hingga ketiga puluh.
Memahami Shalat Tarawih: Makna dan Landasan
Secara bahasa, 'Tarawih' merupakan bentuk jamak dari 'tarwihah' yang berarti 'istirahat'. Penamaan ini merujuk pada kebiasaan jeda sejenak yang dilakukan jamaah setelah setiap empat rakaat—atau dua salam—dalam pelaksanaannya. Muhammad Ajib Lc., dalam bukunya "33 Macam Jenis Shalat Sunnah", menjelaskan bahwa shalat Tarawih adalah shalat sunnah yang dikerjakan khusus pada malam hari di bulan Ramadan.
Sejarah penamaannya ini juga dijelaskan oleh ulama besar, Al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani, dalam kitabnya yang masyhur.
سُمِّيَتِ الصَّلَاةُ فِي الْجَمَاعَةِ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ التَّرَاوِيحَ لِأَنَّهُمْ أَوَّلَ مَا اجْتَمَعُوْا عَلَيْهَا كَانُوا يَسْتَرِيحُوْنَ بَيْنَ كُلِّ تَسْلِيمَتَيْنِ .
Beliau menuturkan bahwa shalat berjamaah di malam Ramadan dinamai Tarawih karena para sahabat awal melaksanakannya dengan beristirahat di antara setiap dua salam.
Tata Cara dan Waktu Pelaksanaan
Mengenai jumlah rakaat, para ulama dari empat mazhab utama umumnya sepakat bahwa shalat Tarawih dilaksanakan sebanyak 20 rakaat, ditambah shalat Witir tiga rakaat. Adapun waktu pelaksanaannya dimulai setelah shalat Isya dan berakhir hingga terbit fajar. Penting untuk dicatat bahwa shalat Tarawih tidak sah jika dikerjakan sebelum menunaikan shalat Isya terlebih dahulu.
Keutamaan Umum dalam Hadits
Anjuran untuk menghidupkan malam Ramadan (qiyam Ramadhan) ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW. Dari Abu Hurairah RA, beliau bersabda:
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keutamaan berjamaah juga sangat dianjurkan, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain.
“Siapa saja yang ikut shalat tarawih berjemaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Rincian Keutamaan per Malam dari Kitab Durratun Nasihin
Selain keutamaan umum tersebut, Kitab Durratun Nasihin, sebagaimana banyak dirujuk dalam kajian keislaman, merincikan fadhilah khusus untuk setiap malam Ramadan. Berikut adalah rangkumannya, yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA, ketika Nabi SAW ditanya tentang keutamaan Tarawih.
Malam 1 hingga 10: Pengampunan dan Anugerah Istimewa
Pada malam pertama, dosa seorang mukmin diampuni seperti saat ia baru dilahirkan. Malam kedua menghapus dosa orang tua jika mereka beriman. Di malam ketiga, seruan malaikat mengajak untuk memulai amal baik dengan janji pengampunan. Pahala membaca kitab suci Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur'an diperoleh di malam keempat. Sementara malam kelima mengganjar pahala setara shalat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.
Malam keenam setara dengan pahala thawaf di Baitul Makmur. Di malam ketujuh, seolah-olah menolong Nabi Musa AS. Anugerah seperti yang diberikan kepada Nabi Ibrahim AS dijanjikan pada malam kedelapan. Ibadahnya di malam kesembilan disetarakan dengan ibadah para nabi, dan pada malam kesepuluh, ia diberi rezeki terbaik dunia dan akhirat.
Malam 11 hingga 20: Keselamatan dan Kemuliaan Akhirat
Meninggal dalam keadaan suci seperti bayi dilahirkan adalah keutamaan malam kesebelas. Wajahnya akan bercahaya laksana bulan purnama di hari Kiamat (malam 12), dan ia akan selamat dari segala keburukan (malam 13). Malaikat menjadi saksi sehingga ia tidak dihisab (malam 14), dan para malaikat pemikul ‘Arsy memintakan ampunan baginya (malam 15).
Jaminan selamat dari neraka dan masuk surga diberikan di malam keenam belas. Pahala seperti pahala para nabi dijanjikan pada malam ketujuh belas. Keridhaan Allah untuknya dan orang tuanya diserukan di malam kedelapan belas, disusul kenaikan derajat di Surga Firdaus (malam 19). Pahala syuhada dan orang shaleh menanti di malam kedua puluh.
Malam 21 hingga 30: Kemudahan dan Balasan Surga
Allah membangunkan rumah dari cahaya di surga untuknya (malam 21) dan melindunginya dari segala kesedihan di hari Kiamat (malam 22). Sebuah kota di surga dibangunkan di malam kedua puluh tiga, dan dua puluh empat doanya mustajab di malam berikutnya. Siksa kubur dihilangkan di malam kedua puluh lima.
Pahala ibadah empat puluh tahun dianugerahkan di malam kedua puluh enam. Kemudahan melintasi Shirathal Mustaqim seperti kilat dijanjikan di malam kedua puluh tujuh, disusul kenaikan seribu derajat di surga (malam 28). Pahala seribu haji yang diterima menanti di malam kedua puluh sembilan. Puncaknya, di malam ketiga puluh, Allah berfirman:
“Makanlah buah-buahan surga, mandilah dengan air salsabil dan minumlah dari telaga kautsar, aku adalah Tuhanmu dan engkau adalah hamba-Ku”.
Demikianlah gambaran keutamaan agung yang dijanjikan bagi mereka yang tekun menghidupkan malam Ramadan dengan shalat Tarawih. Dalam bulan yang penuh ampunan dan rahmat ini, ibadah sunnah ini menjadi kesempatan emas untuk meraih berbagai kemuliaan, mulai dari pengampunan dosa hingga janji-janji surga yang tak terhingga.
Artikel Terkait
Tantangan Logistik Darat dan Teknologi Jadi Solusi Efisiensi di 2026
Roy Suryo Tampil Jadi Saksi Ahli di Sidang Gugatan Ijazah Jokowi
Rumah Jokowi di Solo Viral Dijuluki Tembok Ratapan oleh Generasi Z
Wamenag Tegaskan Larangan Sweeping Rumah Makan Saat Ramadan