PARADAPOS.COM - Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, kembali diterjang banjir susulan pada pekan ini, memperparah kondisi pasca-banjir yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Sedikitnya sepuluh kecamatan terdampak, dengan kerusakan infrastruktur dan pemukiman warga yang cukup luas. Akses transportasi terputus di sejumlah titik, mengisolasi beberapa desa dan memaksa warga mencari cara berbahaya untuk bertahan hidup.
Dampak Kerusakan di Beberapa Titik
Dari sekian banyak wilayah yang terdampak, kondisi di Kelurahan Huta Nabolon, Kecamatan Tukka, dilaporkan termasuk yang paling parah. Sementara itu, di Kecamatan Badiri, situasinya tak kalah memilukan. Tiga desa di kecamatan tersebut kembali terisolasi dari dunia luar setelah akses jalan dan jembatan penghubung hancur diterjang arus.
Dengan kondisi itu, mobilitas warga menjadi sangat terbatas dan penuh risiko. Untuk sekadar menyeberangi sungai yang arusnya masih deras, mereka terpaksa memanfaatkan kayu gelondongan sisa material banjir yang tersangkut di aliran air. Jembatan darurat yang rapuh itu menjadi satu-satunya penghubung.
Cerita Warga yang Bertahan di Tengah Keterpaksaan
Lamsiohar Tambunan, salah seorang warga yang terdampak, menggambarkan dilema yang mereka hadapi. Di satu sisi, rasa takut akan keselamatan sangat menghantui, namun di sisi lain, kebutuhan untuk tetap beraktivitas dan mencari nafkah tidak bisa ditunda.
"Diberanikan saja, karena tidak mungkin terus-terasaan merasa takut sementara akses jalan seperti ini," tuturnya, mencerminkan keteguhan hati warga yang harus berdamai dengan situasi berbahaya.
Desa yang Berubah Menjadi Pulau Terisolir
Kondisi ekstrem dialami oleh Desa Lubuk Ampolu di Kecamatan Badiri. Luapan air dari Sungai Aek Botar yang mengelilingi permukiman telah mengubah desa tersebut bagai sebuah pulau kecil yang terpisah. Genangan air yang luas dan dalam membuat akses masuk maupun keluar desa hampir mustahil dilakukan dengan kendaraan biasa.
Menyadari bahaya yang kian mengancam dan sulitnya pasokan logistik masuk, banyak warga akhirnya mengambil keputusan berat. Mereka terpaksa meninggalkan rumah dan harta benda untuk mengungsi sementara, mencari perlindungan bersama keluarga besar di wilayah lain di Kecamatan Badiri yang dinilai lebih aman. Keputusan ini menunjukkan betapa gentingnya situasi yang mereka hadapi, di mana keselamatan jiwa menjadi prioritas utama di atas segalanya.
Artikel Terkait
Harga BBM Non-Subsidi Turun, Pertalite dan Solar Tetap Stabil di Awal Ramadan 2026
Direktur Utama Bus Krapyak Ditahan, Diduga Izinkan Operasi Ilegal Sejak 2022
Pascabencana Sumatera, Jumlah Pengungsi Menyusut Drastis ke Angka Ribuan
Mendag Klaim Program Makan Bergizi Gratis Tak Picu Kelangkaan dan Gejolak Harga