PARADAPOS.COM - Ratusan umat Muslim di New York melaksanakan salat Tarawih berjemaah di tengah keramaian Times Square pada Sabtu malam, 21 Februari 2026. Ibadah di ruang publik tersibuk di kota itu berlangsung dalam kondisi cuaca ekstrem, menjadi simbol inklusivitas dan ketahanan spiritual di bawah kepemimpinan Wali Kota New York pertama yang beragama Islam, Zohran Mamdani.
Ibadah di Bawah Cahaya Neon dan Hujan
Cahaya neon dari papan reklame raksasa menyinari kerumunan jemaah yang berkumpul di aspal Times Square. Meski suhu udara sangat rendah dan hujan mengguyur, ratusan orang itu tampak khusyuk melaksanakan salat malam di bulan Ramadan. Berbekal jaket tebal dan sajadah sendiri-sendiri, mereka bersujud di lokasi yang biasanya dipadati turis dan lalu lintas kendaraan, dengan pengawasan aparat kepolisian setempat.
Makna Politik dan Sosial di Era Kepemimpinan Baru
Ramadan tahun ini memiliki nuansa khusus bagi komunitas Muslim New York. Ini adalah Ramadan pertama sejak Zohran Mamdani, seorang Muslim, dilantik sebagai wali kota. Posisinya yang bersejarah memberi konteks baru bagi ekspresi keagamaan di ruang publik kota metropolitan terbesar di Amerika Serikat itu.
Dalam pernyataannya, Mamdani menekankan dimensi sosial dari perayaan ini. Ia menyatakan bahwa kegiatan tersebut lebih dari sekadar ritual; itu adalah pesan solidaritas global. Baginya, momen Ramadan adalah waktu untuk refleksi dan memperkuat ikatan antarwarga kota yang beragam.
Filosofi di Balik Pemilihan Lokasi Ibadah
Penyelenggara acara, yang hanya diidentifikasi dengan inisial SQ, menjelaskan alasan strategis memilih Times Square. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan keindahan Islam kepada khalayak seluas mungkin di jantung kota yang sering disebut "Persimpangan Dunia".
"Kami ingin dunia mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an. Lingkungan terbaik sesungguhnya ada di dalam hati manusia, dan ketenangan hati tidak dibatasi oleh di mana Anda berada," tuturnya, mengutip filosofi di balik acara tersebut.
Ia menambahkan, bagi peserta, beribadah di lokasi ikonis ini adalah pengingat bahwa semua tempat di bumi adalah milik Tuhan, tak terkecuali tanah di antara gedung-gedung pencakar langit Manhattan.
Menarik Perhatian Dunia dan Menciptakan Dialog
Acara yang diawali dengan buka puasa bersama sejak sore hari itu berhasil menyita perhatian ribuan turis. Banyak pelancong yang terhenti, mengamati atau mengabadikan momen langka di mana lantunan ayat suci bergema di antara bunyi klakson dan gemerlap iklan.
Suasana itu menciptakan sebuah dialog visual yang kuat tentang keberagaman dan toleransi. Untuk sesaat, Times Square bertransformasi dari simbol kapitalisme global menjadi panggung harmoni, membuktikan bahwa identitas keagamaan dapat memperkaya kehidupan urban modern.
Artikel Terkait
KONI Manado Siap Sukseskan PON Bela Diri 2026, Tekankan Kolaborasi
IIMS 2026 Catat Transaksi Rp8,7 Triliun, Lanjut ke Surabaya, Balikpapan, dan Manado
Mendagri Tito Karnavian Soroti Data Pemda sebagai Kunci Percepatan Huntap di Pidie Jaya
KemenPPPA Prihatin atas Kematian Anak di Sukabumi Diduga Dianiaya Ibu Tiri