Dua Investor Besar Perkuat Kepemilikan Saham di Bumi Resources

- Minggu, 22 Februari 2026 | 19:25 WIB
Dua Investor Besar Perkuat Kepemilikan Saham di Bumi Resources

PARADAPOS.COM - Dua investor besar tercatat memperkuat kepemilikan saham di PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) memasuki akhir Februari 2026, berdasarkan data kustodian saham terbaru. Perusahaan tambang batu bara ini juga menunjukkan kinerja operasional yang solid di tengah tantangan pasar, dengan pendapatan yang tumbuh dan laba usaha yang melonjak pada periode sembilan bulan pertama 2025.

Kepemilikan Saham oleh Investor Institusi

Data dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 19 Februari 2026 mengungkapkan, dua entitas memegang saham BUMI di atas ambang batas 5%. Posisi terbesar dipegang oleh Mach Energy (Hongkong) Limited, sebuah entitas yang dikendalikan oleh Grup Bakrie dan Grup Salim, dengan kepemilikan mencapai 170 miliar lembar saham atau setara 45,78%.

Sementara itu, investor institusi global UBS SWITZERLAND AG tercatat memegang 18,94 miliar saham, yang merepresentasikan 5,10% dari total saham perusahaan. Kehadiran pemegang saham dengan porsi signifikan ini sering diamati sebagai indikator keyakinan jangka panjang terhadap prospek emiten.

Kinerja Keuangan: Pendapatan Naik di Tengah Tekanan Biaya

Di sisi kinerja operasional, laporan keuangan Bumi Resources hingga kuartal III/2025 mencatat pertumbuhan pendapatan. Perseroan membukukan pendapatan sebesar US$1,037.3 juta per akhir September 2025, naik 11,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$926,9 juta.

Meski demikian, perusahaan juga menghadapi tekanan biaya. Beban pokok pendapatan naik 5,1% secara tahunan menjadi US$876,0 juta, sementara beban usaha juga meningkat 12,8% menjadi US$76,9 juta. Namun, efisiensi operasional yang diterapkan tampaknya membuahkan hasil.

Laba usaha BUMI justru melonjak tajam sebesar 231,9% year-on-year (yoy) menjadi US$84,4 juta. Pencapaian ini mengindikasikan perbaikan margin operasional perusahaan. Sayangnya, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mengalami penurunan menjadi US$29,4 juta, turun 76,1% dari tahun sebelumnya, diduga karena faktor beban non-operasional seperti pajak.

Manajemen Bumi Resources memberikan penilaian atas kinerja tersebut. "Meskipun menghadapi kondisi pasar yang menantang dan harga batu bara yang menurun, Bumi Resources berhasil mencatatkan profitabilitas operasional yang positif dengan margin yang membaik berkat efisiensi dan pengelolaan biaya yang disiplin," tulis mereka dalam siaran pers resmi.

Panduan Target Penjualan 2026

Memandang ke depan, Bumi Resources tampak mempertahankan konsistensi produksi. Perusahaan menargetkan volume penjualan batu bara pada kisaran 77 hingga 78 juta ton untuk tahun 2026, target yang tidak berubah signifikan dari realisasi tahun 2025.

Direktur Bumi Resources, Maringan M. Ido Hotna, membeberkan rincian target tersebut. Dia menjelaskan panduan kinerja BUMI pada 2026 untuk penjualan kurang lebih akan sama dengan tahun 2025 ini. Target penjualan untuk anak usahanya, Kaltim Prima Coal (KPC), ditetapkan sebesar 53,5 juta ton, sementara untuk Arutmin ditargetkan antara 22 juta hingga 23 juta ton.

"Jadi total antara 77 hingga 78 juta ton [penjualan] di 2026," ungkapnya.

Target yang stabil ini mencerminkan strategi perusahaan yang berfokus pada operasional yang terkendali dan berkelanjutan, sembari mengantisipasi dinamika pasar komoditas global yang terus berfluktuasi.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar