Anak 12 Tahun di Sukabumi Tewas Penuh Luka, Polisi Tunggu Hasil Autopsi

- Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:25 WIB
Anak 12 Tahun di Sukabumi Tewas Penuh Luka, Polisi Tunggu Hasil Autopsi

PARADAPOS.COM - Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, meninggal dunia dalam kondisi yang memprihatinkan. Tubuhnya ditemukan penuh luka bakar dan lebam, memicu gelombang spekulasi di masyarakat. Meski beredar dugaan kuat mengenai penganiayaan, kepolisian hingga kini belum dapat memastikan penyebab kematiannya. Investigasi masih berlangsung, dengan tim forensik tengah menunggu hasil autopsi dan pemeriksaan laboratorium untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik tragedi ini.

Kondisi Korban dan Respons Medis

NS, begitulah inisial bocah berusia 12 tahun asal Kampung Leuwi Nanggung, Desa Bojongsari itu, meninggalkan tanda tanya besar. Saat ditemukan, wajahnya lecet dan tubuhnya menunjukkan sejumlah luka bakar yang cukup serius. Kombes Carles Siagian, Kepala RS Bhayangkara TK. II Setukpa Sukabumi, memaparkan temuan awal tim medis.

“Ditemukan luka bakar di anggota gerak seperti lengan, kaki kanan, dan kiri. Selain itu, ada luka bakar di area punggung, bibir, serta hidung,” jelasnya kepada awak media.

Namun, penjelasan itu langsung disertai catatan kehati-hatian. Para ahli forensik di rumah sakit menyatakan bahwa luka-luka tersebut belum tentu menjadi penyebab utama kematian. Yang menarik, pemeriksaan awal juga tidak menemukan tanda-tanda kekerasan tumpul pada jenazah. Untuk mendapatkan kejelasan, polisi telah mengirim sampel ke laboratorium di Jakarta guna memeriksa kemungkinan adanya penyakit atau zat tertentu dalam tubuh NS.

Riwayat Pengobatan Sebelum Meninggal

Beberapa hari sebelum kejadian, NS sempat mendapatkan perawatan medis. Dokter Adi Yusuf dari Puskesmas Jampangkulon mengonfirmasi bahwa pada 6 Februari lalu, anak itu dibawa berobat dengan sejumlah keluhan yang tampak umum.

“Pasien datang dengan keluhan demam, batuk, pilek, serta sakit ulu hati. Diagnosis sementara infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Kami berikan obat paracetamol, vitamin B6, antasida, dan obat batuk. Riwayat penyakit sebelumnya tidak ada,” tutur Adi Yusuf.

Riwayat ini semakin mengaburkan garis antara kemungkinan sakit biasa dan dugaan malapraktik atau kekerasan. Transisi dari diagnosis ISPA ke kondisi tubuh penuh luka bakar dalam waktu singkat menjadi salah satu titik kunci yang diselidiki aparat.

Bantahan Keluarga dan Viralnya Video

Di tengah hiruk-pikuk informasi, tersiar kabar kuat yang menyebut ibu tiri korban, TR (47), terlibat dalam penganiayaan. Isu ini semakin menyebar setelah sebuah video yang menunjukkan kondisi NS di ranjang rumah sakit menjadi viral. Dalam rekaman itu, wajahnya tampak jelas dipenuhi luka di sekitar mata dan hidung. Tangannya terpasang infus, napasnya tersengal, dan suaranya terdengar sangat lirih saat merespons pertanyaan. Salah satu momen dalam video yang banyak diperbincangkan adalah ketika NS ditanya apakah pernah disuruh minum air panas; ia menjawab dengan anggukan.

Menanggapi semua tudingan itu, TR membantah keras. Ia bersikukuh bahwa kondisi NS murni disebabkan oleh penyakit serius.

“Iya itu sakit saja, sakit panas, kalau kemarin dari pak Surahman yang di BAP di Polsek itu tapi tidak memberikan bukti otentiknya hanya melihat dari Hp kalau anak itu didiagnosa kanker darah, Leukimia autoimun, jadi itu bener sakit,” ujar TR pada Sabtu, 21 Februari.

Ia melanjutkan penjelasannya terkait luka-luka yang terlihat pada tubuh anak tersebut.

“Kalaupun ada kulit yang melepuh itu akibat dari panas dalam karena kanker darah itu, itu juga informasi dari saksi yang kemarin,” katanya.

Proses Hukum dan Penantian Hasil Autopsi

Pihak kepolisian mengambil sikap yang sangat berhati-hati dalam menangani kasus yang telah menyita perhatian publik ini. Mereka menegaskan bahwa semua informasi, baik dugaan penganiayaan maupun klaim penyakit berat, masih dalam tahap pendalaman yang intensif. Hasil otopsi sementara memang menemukan luka bakar di beberapa bagian tubuh serta pembengkakan ringan pada organ dalam seperti jantung dan paru-paru. Namun, temuan ini belum bisa disimpulkan sebagai penyebab kematian yang definitif.

Hingga laporan ini dibuat, suasana di lokasi kejadian masih diliputi ketidakpastian. Masyarakat menunggu, keluarga membantah, sementara para penyidik bergantung pada metode ilmiah untuk memisahkan fakta dari desas-desus. Semuanya berpulang pada hasil autopsi dan uji laboratorium yang diharapkan dapat memberikan pencerahan dan keadilan bagi NS.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar