PARADAPOS.COM - Analis politik memperingatkan bahwa mempertahankan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2029 berpotensi menjadi beban elektoral bagi Prabowo Subianto. Peringatan ini disampaikan oleh pengamat komunikasi politik M. Jamiluddin Ritonga, yang menyoroti tiga tantangan utama: elektabilitas Gibran yang stagnan, risiko retaknya koalisi pendukung, serta bayang-bayang politik dari pemerintahan sebelumnya.
Elektabilitas yang Diprediksi Sulit Meningkat
Alasan pertama yang diungkapkan Jamiluddin Ritonga adalah proyeksi elektabilitas Gibran. Menurut pengamat dari Universitas Esa Unggul tersebut, penilaian publik terhadap kinerja wakil presiden selama masa jabatan pertama dinilai belum menunjukkan dampak yang signifikan. Hal ini, dalam pandangannya, berpotensi membuat elektabilitas Gibran sulit terdongkrak menjelang pemilihan 2029.
“Dengan elektoral rendah, Gibran akan menjadi beban bagi Prabowo. Sebab, Gibran tak membantu Prabowo untuk mendongkrak elektoralnya,” jelas Jamiluddin dalam keterangannya, dikutip 22 Februari 2026.
Ancaman Perpecahan di Tubuh Koalisi
Selain faktor elektabilitas, pilihan pasangan juga berpotensi memicu ketegangan internal. Ritonga menilai, potensi retaknya koalisi sangat terbuka jika Prabowo tetap bersikukuh menggandeng Gibran. Situasi ini terutama akan mengemuka jika terdapat ketua umum partai koalisi yang elektabilitasnya melampaui Gibran.
Berdasarkan sejumlah survei terkini, elektabilitas Gibran disebut masih berada di bawah figur seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Ritonga mengingatkan, tren ini bisa memicu tuntutan dari partai-partai koalisi agar kadernya yang dianggap lebih kuat yang diajukan sebagai pendamping.
“Kalau elektoral AHY atau ketua umum partai lain lebih baik dari Gibran, tentu Prabowo akan dinilai tidak adil bila tetap bersama Gibran. Hal ini bisa saja membuat sebagian partai koalisi pisah kongsi dengan Prabowo,” tegasnya.
Bayang-Bayang Politik dari Era Sebelumnya
Faktor ketiga yang tak kalah krusial adalah persepsi publik. Duet Prabowo-Gibran dinilai masih akan erat dilekatkan dengan bayang-bayang Presiden Joko Widodo. Dalam analisis Ritonga, kondisi ini berisiko menggerus dukungan dari kelompok masyarakat yang menunjukkan resistensi terhadap figur dan gaya politik Jokowi.
“Publik yang alergi dengan Jokowi dari hari ke hari terus bertambah. Kelompok publik ini harus diperhitungkan Prabowo bila ingin tetap menang pada Pilpres 2029,” pungkas Jamiluddin Ritonga, menutup paparan analisisnya.
Peringatan dari pengamat ini menyiratkan bahwa keputusan politik mengenai pasangan calon tidak hanya soal kesetiaan koalisi, tetapi juga perhitungan elektoral yang dingin dan dinamika persepsi masyarakat yang terus berubah, yang akan menjadi ujian nyata bagi strategi Prabowo Subianto menuju kontestasi 2029.
Artikel Terkait
Pengamat Nilai Pernyataan Jokowi Soal Revisi UU KPK 2019 Sebagai Sinyal Politik
Ketua BEM UGM Ungkap Ancaman dan Serangan Karakter Usai Kritik Kebijakan Pemerintah
Sjafrie Sjamsoeddin Tegaskan Tidak Berminat Maju sebagai Cawapres 2029
Lukisan SBY Terjual Rp6,5 Miliar ke Taipan Batu Bara dalam Lelang Amal