PARADAPOS.COM - Kinerja saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dalam sebulan terakhir tertinggal dibandingkan dengan empat bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Sentimen negatif, termasuk keputusan MSCI dan penurunan outlook peringkat oleh Moody's, sempat menekan sektor perbankan, namun saham-saham bank BUMN seperti Bank Tabungan Negara (BBTN) dan Bank Mandiri (BMRI) justru menunjukkan ketahanan dan penguatan yang signifikan. Analis menilai, aksi jual investor asing dan valuasi yang premium menjadi faktor utama di balik koreksi saham BBCA.
Perbandingan Kinerja yang Kontras
Dalam perdagangan Senin (23/2), mayoritas saham perbankan memang ditutup menguat. Namun, jika dilihat dalam rentang waktu satu bulan, perbedaannya menjadi jelas. Saham BBTN tercatat meroket 12,20%, disusul BMRI yang naik 5,92%, dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan kenaikan 2,36%. Di sisi lain, saham BBCA justru terkoreksi 4,58%, sementara Bank Negara Indonesia (BBNI) turun 1,96%.
Perbedaan ini semakin terlihat dalam perbandingan tahunan. Saham BBTN memimpin dengan kenaikan fantastis sebesar 47,59% year-on-year (YoY). Sementara itu, saham BBCA justru tercatat melemah cukup dalam, yakni 18,89% dalam periode yang sama. Data ini menggarisbawahi pergeseran minat jangka pendek di pasar.
| Emiten | Harga saham saat ini (per saham) | Naik/Turun dalam satu bulan | Naik/Turun secara YoY |
| PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) | Rp 7.300 | -4,58% | -18,89% |
| PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) | Rp 3.900 | 2,36% | 0,26% |
| PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) | Rp 5.275 | 5,92% | 3,94% |
| PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) | Rp 4.500 | -1,96% | 4,65% |
| PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) | Rp 1.380 | 12,20% | 47,59% |
(Sumber: data Bursa Efek Indonesia, Senin (23/2))
Aliran Modal Asing yang Berbeda Arah
Dinamika ini juga tercermin dari pola aliran dana asing. Pada periode 1–20 Februari 2026, investor global tampak aktif mengakumulasi saham bank BUMN. Mereka memborong saham BMRI senilai Rp 1,88 triliun, BBTN sebesar Rp 246,6 miliar, dan BBRI senilai Rp 44,8 miliar.
Sebaliknya, aksi jual bersih justru terjadi pada saham BBCA dengan nilai yang cukup besar, mencapai Rp 4,05 triliun. BBNI juga mengalami pelepasan asing senilai Rp 309,1 miliar. Pergeseran aliran modal ini memberikan konteks penting terhadap tekanan harga yang dialami oleh emiten bank swasta tersebut.
Analisis di Balik Pelemahan Saham BCA
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, mengungkapkan bahwa pelemahan saham BBCA erat kaitannya dengan aksi capital outflow investor asing, mengingat porsi kepemilikan mereka yang cukup dominan.
Menurutnya, dinamika terkait MSCI turut memengaruhi pergerakan investor global. Selain itu, pertumbuhan laba bersih BBCA yang masih single digit serta valuasi yang relatif premium membuat ruang kenaikan harga saham menjadi lebih terbatas. Sepanjang tahun 2025, BBCA membukukan laba bersih Rp 57,5 triliun atau naik 4,9% year on year (YoY).
“Fundamental BCA tetap bagus dan solid, tetapi valuasinya memang masih premium,” jelas Nafan.
Faktor Pendorong Kinerja Bank Himbara
Di sisi lain, kinerja saham bank Himbara ditopang oleh sejumlah faktor yang menarik bagi investor. Mulai dari dividend payout ratio yang lebih tinggi, valuasi yang relatif lebih murah, hingga peran strategis mereka dalam mendukung program pemerintah seperti hilirisasi yang memberikan kepastian prospek bisnis.
“Masing-masing bank juga memiliki spesialisasi segmen yang memperkuat daya tarik di pasar,” tambah Nafan. Kondisi ini membuat saham bank BUMN lebih dilirik dalam perspektif jangka pendek dibandingkan saham BBCA yang secara historis diperdagangkan pada level valuasi premium.
Sejalan dengan analisis tersebut, Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memberikan proyeksi target harga. Dia menyematkan rentang Rp 7.450 - 7.750 untuk saham BBCA, Rp 3.940 - 4.010 untuk BBRI, Rp 5.375 - 5.475 untuk BBNI, dan Rp 1.415 - 1.450 untuk BBTN.
Artikel Terkait
Menlu RI Tegaskan Komitmen Penjembatanan Saat Pimpin Dewan HAM PBB
ALFI Soroti Perlu Pembenahan Sistem Distribusi untuk Tekan Lonjakan Harga Ramadan
Satpol PP Jakarta Utara Sita 755 Botol Miras Ilegal Jelang Ramadan
BPOM Jamin Mutu dan Keamanan Ekspor Perdana Beras Haji Nusantara ke Arab Saudi