PARADAPOS.COM - Sebuah analisis kebijakan pemerintahan baru Indonesia melalui lensa teori siklus sejarah dan ekonomi Ray Dalio mengemuka. Tulisan ini, yang disusun oleh seorang anggota parlemen, berargumen bahwa serangkaian program strategis—dari makan bergizi gratis hingga penguatan koperasi desa—dapat dipahami sebagai "penyangga berlapis" (buffer) untuk membangun ketahanan internal negara. Pendekatan ini dinilai krusial dalam menghadapi fase geopolitik global yang penuh ketidakpastian, di mana kekuatan besar kembali bersaing dan konsensus internasional melemah.
Belajar dari Dalio: Sejarah sebagai Siklus, Bukan Cerita
Pemikiran Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, sering kali menjadi kompas untuk memahami dinamika global yang kompleks. Karyanya tidak berhenti pada ramalan ekonomi semata, melainkan menggali pola-pola sejarah yang berulang. Dalio melihat kebangkitan dan keruntuhan peradaban melalui keseimbangan antara kekuatan dan keadilan. Ketika ketimpangan melebar dan legitimasi pemerintah menguap, fondasi suatu bangsa mulai retak.
Dalam kerangka ini, ekonomi hanyalah gejala. Akar persoalannya terletak pada apa yang Dalio sebut sebagai "internal order" atau tatanan internal suatu negara. Tanpa fondasi yang kuat, sebuah bangsa akan rapuh menghadapi gejolak, baik dari dalam maupun luar.
Tatanan Dunia Berubah dan Perlunya Ketahanan Internal
Dalio dengan tegas menyatakan bahwa tatanan dunia pasca-Perang Dunia II telah berakhir. Dunia kini memasuki era politik kekuatan besar (great power politics), di mana hukum internasional melemah dan kompetisi menjadi semakin sengit. Dalam fase siklus besar ini, konflik eksternal sering berjalan beriringan dengan keretakan internal.
Negara-negara yang gagal mengelola ketahanan dalam negerinya sendiri akan terseret dalam arus konflik global tanpa memiliki daya tahan yang memadai. Dari sudut pandang inilah, kebijakan suatu pemerintahan perlu dilihat sebagai sebuah arsitektur yang utuh, bukan sekadar kumpulan program yang terpisah.
Membangun "Buffer" Berlapis: Dari Dapur Rakyat hingga Panggung Global
Membaca program-program pemerintahan saat ini dengan kacamata Dalio memberikan perspektif yang lebih struktural. Berbagai kebijakan yang sering dianggap populis atau parsial, sesungguhnya dapat membentuk lapisan penyangga yang saling menguatkan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, seringkali disederhanakan sebagai bantuan sosial. Namun, dalam analisis siklus sejarah, memastikan kebutuhan paling dasar rakyat terpenuhi adalah fondasi legitimasi dan stabilitas. Dalio berulang kali mengingatkan bahwa negara bisa runtuh karena mengabaikan hal yang paling elementer.
“Rakyat yang lapar tidak punya kesabaran historis. Negara yang gagal menjaga isi dapur rakyatnya akan kehilangan legitimasi sebelum kehilangan kedaulatan,” tulisnya.
Program ini, jika dijalankan dengan baik, bekerja sebagai penstabil sosial yang mencegah kekecewaan laten meledak menjadi gejolak politik. Ia juga berpotensi membangun ekosistem ketahanan pangan dan menggerakkan ekonomi akar rumput.
Koperasi dan Distribusi Kekuatan Ekonomi
Lapisan penyangga berikutnya adalah penguatan ekonomi kerakyatan, seperti melalui Koperasi Desa Merah Putih. Dalio memperingatkan bahwa konsentrasi kekayaan yang ekstrem adalah pemicu utama gangguan internal. Koperasi, dalam konteks ini, bukan sekadar romantisme masa lalu.
“Koperasi desa bukan romantisme ekonomi kerakyatan, melainkan mekanisme distribusi kekuatan ekonomi--kepemilikan, bukan sekadar pendapatan,” jelas analisis tersebut.
Ini adalah upaya untuk mendistribusikan kekuatan ekonomi secara lebih merata, memastikan pertumbuhan tidak hanya dinikmati oleh segelintir elite, sehingga menciptakan rasa keadilan yang lebih luas.
Ketahanan Strategis dan Diplomasi yang Berdaulat
Lapisan penyangga lainnya mencakup program ketahanan pangan, energi, dan air, stabilisasi harga, serta hilirisasi industri. Dalam dunia yang terfragmentasi, ketergantungan yang fatal pada pasokan luar negeri dapat menjadi titik lemah yang mematikan. Negara dengan "bantalan" ketahanan yang memadai akan memiliki ruang gerak dan ruang bernapas yang lebih besar dalam perang ekonomi global.
Di sinilah politik luar negeri menemukan konteksnya. Dalam dunia tanpa wasit yang sesungguhnya, seperti diungkapkan Dalio, kekuatan hanya menghormati kekuatan. Netralitas hanya bermakna jika didukung oleh kapasitas.
“Di dunia tanpa wasit, power respects power. Netralitas hanya dihormati jika disertai kapasitas,” tegasnya.
Oleh karena itu, pendekatan luar negeri yang pragmatis dan bebas-aktif dapat dibaca sebagai strategi bertahan yang realistis, asalkan dilandasi oleh stabilitas internal yang kokoh.
Merawat Fondasi di Tengah Siklus Sejarah
Modernisasi pertahanan, hilirisasi, hingga perlindungan sosial, jika ditarik dalam satu benang merah, membentuk sistem buffer yang berlapis. Sistem ini dirancang untuk menahan tekanan dari dalam agar tidak meledak, dan menahan guncangan dari luar agar tidak langsung menghantam tubuh bangsa.
Ray Dalio mengajarkan bahwa tidak ada bangsa yang kebal terhadap hukum sejarah. Namun, peradaban yang bertahan adalah yang dengan sabar dan konsisten merawat fondasinya. Program-program strategis suatu pemerintahan pada akhirnya adalah ujian terhadap kesiapan bangsa itu sendiri.
“Di zaman ketika aturan mengabur dan kekuatan kembali telanjang, mungkin pertanyaan terpenting bukan siapa yang paling lantang berbicara, melainkan siapa yang paling siap bertahan tanpa kehilangan rasa keadilan,” tutup analisis tersebut.
Pertanyaan itulah yang akan menentukan ketahanan Indonesia dalam menghadapi fase baru siklus besar dunia.
Jakarta, 25 Februari 2026
Azis Subekti. Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra.
Artikel Terkait
Pemerintah Fakfak Gandeng YP2M3F Percepat Program Pala Unggul Kapala Emas
Cara Menjaga Hubungan dengan Teman yang Haus Perhatian
Pemerintah Siapkan 160.000 Formasi CPNS pada 2026
Menteri PU Tinjau Pemulihan SPAM Langkahan Pascabencana, Rencanakan Pembangunan Sistem Baru