PARADAPOS.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada pembukaan perdagangan Rabu (25/2), melanjutkan tren positif di tengah fokus pelaku pasar yang masih tertuju pada dinamika ekonomi global. IHSG naik 37,32 poin (0,45%) ke level 8.318,15, diikuti kenaikan Indeks LQ45 sebesar 3,41 poin (0,41%) ke posisi 841,04. Penguatan ini terjadi meski sentimen pasar tetap berhati-hati, menyusul kebijakan tarif baru Amerika Serikat dan perkembangan ekonomi China yang masih menjadi sorotan.
Proyeksi Volatilitas di Tengah Ketidakpastian Global
Analis pasar memproyeksikan pergerakan IHSG akan tetap fluktuatif dan sensitif terhadap berita dari luar negeri. Ketegangan perdagangan dan geopolitik dinilai menjadi faktor utama yang akan membentuk sentimen investor dalam jangka pendek.
Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas menggarisbawahi kompleksitas situasi saat ini. Mereka menuturkan, "Reaksi pelaku pasar akan sangat bergantung pada isi pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, keputusan tarif AS, serta dinamika ekonomi China dan geopolitik di kawasan Timur Tengah."
Dampak Kebijakan Tarif AS dan Sikap Risk-Off
Langkah konkret telah diambil oleh Washington. Pemerintah AS secara resmi memberlakukan tarif tambahan sebesar 10% terhadap berbagai barang impor menggunakan Section 122, dengan opsi kenaikan hingga 15% masih terbuka lebar. Kebijakan proteksionis ini menciptakan ketidakpastian baru yang signifikan.
Ketidakjelasan arah kebijakan dagang AS tersebut dinilai telah meningkatkan premi risiko secara global. Kondisi ini berpotensi memicu sikap risk-off, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko. Dampak lanjutannya bisa beragam, mulai dari pelemahan mata uang negara berkembang termasuk Rupiah, tekanan pada saham sektor ekspor dan komoditas, hingga potensi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.
Dalam konteks domestik, saham yang berbasis ekspor dan komoditas dipandang lebih rentan terhadap gelombang sentimen negatif ini. Sebaliknya, sektor defensif dan saham dengan orientasi pasar domestik kuat berpeluang menjadi tempat berlindung yang lebih aman jika kondisi risk-off semakin menguat.
Respons China dan Implikasinya bagi Indonesia
Dari sisi Asia, otoritas moneter China, People's Bank of China, memilih untuk menjaga stabilitas dengan mempertahankan Loan Prime Rate (LPR) tenor satu tahun di level 3% dan tenor lima tahun di 3,5%. Kebijakan ini mencerminkan upaya Beijing untuk menopang nilai yuan di tengah perlambatan pertumbuhan dan tekanan deflasi.
Namun, strategi tersebut bukan tanpa risiko. Penguatan mata uang China justru berpotensi mengurangi daya saing ekspornya, di saat tekanan tarif AS semakin membayangi. Kondisi ekonomi China tetap menjadi faktor penentu penting bagi pasar Indonesia, mengingat hubungan dagang kedua negara yang sangat erat, khususnya pada sektor komoditas yang menjadi tulang punggung ekspor.
Pergerakan Bursa Global
Pada sesi sebelumnya, pasar saham Eropa ditutup dengan kinerja beragam. Euro Stoxx 50 tercatat naik tipis 0,10%, sementara CAC 40 Prancis menguat 0,26%. Di sisi lain, indeks FTSE 100 Inggris dan DAX Jerman masing-masing melemah 0,04% dan 0,02%.
Sementara itu, bursa Wall Street mencatatkan performa yang lebih solid. Dow Jones Industrial Average naik 0,76%, indeks S&P 500 menguat 0,77%, dan Nasdaq Composite melonjak 1,04% didorong oleh sektor teknologi.
Pada perdagangan pagi ini, bursa regional Asia mayoritas bergerak di wilayah hijau. Indeks Nikkei 225 Jepang memimpin penguatan dengan kenaikan 1,51%, disusul Shanghai Composite China yang naik 0,78%. Hang Seng Index Hong Kong menguat 0,37%, sedangkan Strait Times Index Singapura terkoreksi tipis 0,05%.
Artikel Terkait
Kemenkes Percepat Produksi Dokter Spesialis untuk Tutupi Defisit 60 Ribu Tenaga
BRI Luncurkan Fitur Beli Kuota IM3 dan Tri via BRImo Tanpa Internet
Kemensos Tegaskan Prosedur Adopsi Anak di Indonesia Tidak Rumit Asal Ikuti Jalur Hukum
Polri Ungkap Jaringan Perdagangan Bayi Lintas 12 Provinsi Berkedok Adopsi