Jamu Coro Tetap Jadi Primadona Takjil di Demak Saat Ramadan

- Kamis, 26 Februari 2026 | 19:50 WIB
Jamu Coro Tetap Jadi Primadona Takjil di Demak Saat Ramadan

PARADAPOS.COM - Di tengah gempuran minuman kekinian yang merajai pasar takjil, Jamu Coro, minuman tradisional khas Kabupaten Demak, Jawa Tengah, justru menunjukkan ketangguhannya. Setiap bulan Ramadan tiba, minuman berbahan rempah ini kembali menjadi buruan warga untuk dijadikan menu berbuka puasa, berkat cita rasa hangatnya yang khas dan harga yang sangat terjangkau.

Warisan Turun-Temurun yang Tetap Laris

Di sepanjang Jalan Bhayangkara, Demak, aroma rempah yang harum seringkali menandai keberadaan para penjual Jamu Coro. Salah satunya adalah Latif, yang mengelola usahanya sebagai warisan keluarga dari neneknya. Selama Ramadan, ia setia berjualan mulai pukul 14.30 WIB hingga menjelang waktu azan Magrib berkumandang.

“Alhamdulillah, setiap Ramadan selalu ramai. Dalam sehari bisa terjual ratusan porsi,” tuturnya saat ditemui di Demak, Kamis, 26 Februari 2026.

Daya Tarik Rasa dan Khasiat

Dengan harga per porsi yang hanya berkisar antara tiga hingga empat ribu rupiah, minuman ini memang memiliki daya tarik ekonomi yang kuat. Namun, loyalitas pelanggan tampaknya dibangun dari faktor yang lebih dalam. Mayoritas pembeli adalah pelanggan tetap yang rutin datang setiap tahun, mengandalkan Jamu Coro sebagai bagian dari ritual buka puasa mereka.

Dwi Teguh, salah seorang pembeli, mengungkapkan alasan di balik pilihannya. “Rasanya hangat dan pas diminum saat buka puasa. Selain itu, ini minuman tradisional yang jarang ditemui,” jelasnya.

Sejarah Panjang di Balik Segelas Jamu

Jamu Coro bukan sekadar minuman biasa; ia menyimpan jejak sejarah yang panjang. Minuman ini dikenal sebagai warisan kuliner khas Demak yang telah ada sejak masa Kerajaan Demak. Racikannya terbuat dari bahan-bahan alami seperti jahe, merica, dan gula jawa, yang diramu untuk menghasilkan sensasi hangat dan menyegarkan.

Banyak yang meyakini bahwa selain nikmat, Jamu Coro juga membantu memulihkan stamina setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Kepercayaan turun-temurun ini turut memperkuat posisinya di hati masyarakat.

Melestarikan Warisan di Era Modern

Keberlangsungan Jamu Coro di tengah persaingan ketat dengan berbagai minuman modern merupakan bukti nyata bahwa kuliner tradisional masih memiliki ruang tersendiri. Ramadan, dengan nuansa nostalgia dan pencarian keberkahan, menjadi momen penting bagi warisan semacam ini untuk terus dihidupkan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu membutuhkan upaya yang rumit. Terkadang, ia bisa bertahan melalui pilihan sederhana masyarakat untuk tetap mengapresiasi rasa, sejarah, dan kearifan lokal yang terkandung dalam setiap tegukan.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar