PARADAPOS.COM - Harga emas diproyeksikan melanjutkan reli pada pekan depan, didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Optimisme ini muncul berdasarkan survei pasar yang menunjukkan mayoritas analis dan investor ritel kembali bullish, melanjutkan tren penguatan yang telah berlangsung selama empat pekan berturut-turut.
Sentimen Positif Didorong Perbaikan Geopolitik
Lanskap pasar emas pekan ini tampaknya akan sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik yang mulai tenang. Harapan akan meredanya konflik antara Iran dan Amerika Serikat telah mengurangi tekanan pada pasar, membuka ruang bagi logam mulia untuk melanjutkan pemulihan dari fase koreksi sebelumnya. Suasana hati positif ini tercermin dari survei terbaru, di mana 80% analis Wall Street dan 70% investor ritel memprediksi kenaikan harga.
Presiden dan COO Asset Strategies International, Rich Checkan, menegaskan korelasi erat antara ketegangan regional dengan pergerakan harga. "Belakangan ini, emas dan perak diuntungkan oleh meredanya ketegangan di Timur Tengah, naik saat ada gencatan senjata dan turun saat terjadi konflik terbuka. Selama gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran serta antara Israel dan Lebanon bertahan, emas dan perak seharusnya terus pulih dari koreksi sebelumnya," tuturnya.
Peringatan Teknikal di Tengah Optimisme
Meski sentimen umum cenderung positif, sejumlah analis mengingatkan adanya potensi tekanan teknikal dalam jangka pendek. Harga emas mulai mendekati area resisten kunci di sekitar rata-rata pergerakan 50 hari, sebuah level yang belum berhasil ditembus sejak pertengahan Maret lalu.
Senior Market Analyst Barchart.com, Darin Newsom, memberikan catatan kehati-hatian. "Indikator momentum lain, stochastic harian, menunjukkan emas kontrak Juni berada dalam kondisi jenuh beli dengan pembacaan mendekati atau di atas 90%," ujarnya. Meski demikian, Newsom mengakui bahwa indikator teknikal saat ini belum memberikan sinyal arah yang benar-benar jelas.
Fundamental Pasar Mulai Stabil
Dari sisi fundamental, pasar mulai menunjukkan tanda-tanda normalisasi. Pembukaan kembali jalur perdagangan energi yang sebelumnya terganggu, seperti di Selat Hormuz, turut berkontribusi pada perbaikan sentimen. Senior Commodities Broker RJO Futures, Daniel Pavilonis, mengamati bahwa volatilitas tinggi selama periode konflik telah menyaring partisipasi spekulatif.
"Ketika ada pergerakan harga menguat dan melemah hingga US$15, kondisi tersebut membuat banyak pelaku pasar keluar dan pada akhirnya hanya menyisakan hedger atau trader dengan leverage rendah yang masih mengambil posisi," ungkap Pavilonis. Dia menambahkan, penyempitan kurva harga energi hingga pertengahan 2027 mengindikasikan ekspektasi pasar terhadap kondisi global yang lebih stabil.
Peran Yield Obligasi dan Sentimen Risk-On
Perubahan sentimen juga terlihat dari penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun. Pavilonis melihat ini sebagai sinyal penting. "Saya pikir sinyal terbesar ada pada yield obligasi 10 tahun. Yield sempat naik dan sekarang turun," lanjutnya.
Dia menambahkan bahwa pasar saat ini tampaknya memasuki fase 'risk-on', di mana minat investor beralih sementara ke pasar saham. "Saya pikir emas saat ini bukan lagi yang paling diminati untuk posisi beli; fokus utama sekarang ada pada saham," jelasnya. Meski demikian, potensi aliran dana kembali ke aset safe-haven seperti emas tetap terbuka, terutama jika momentum di pasar saham menunjukkan kelemahan.
Prospek Jangka Menengah Tetap Cerah
Di tengah kemungkinan koreksi jangka pendek, prospek emas dalam jangka menengah justru dinilai positif oleh beberapa pengamat. Head of Currency Strategy Forexlive, Adam Button, berpendapat bahwa emas justru berpotensi menjadi pemenang. Menurutnya, tekanan selama konflik berasal dari aksi deleveraging dan penjualan oleh negara berkembang untuk menjaga stabilitas mata uang mereka.
"Negara berkembang yang memiliki cadangan emas dan impor minyak besar menghadapi risiko mata uang, sehingga mereka menjual emas untuk melindungi mata uang tersebut," jelas Button. Namun, risiko tersebut mulai mereda seiring turunnya harga energi. Button meyakini pengalaman melalui periode konflik justru akan mendorong banyak negara untuk meningkatkan cadangan emas mereka ke depan sebagai lindung nilai, dan memperkirakan harga berpotensi kembali mendekati level psikologis US$5.000.
Kewaspadaan Terhadap Koreksi
Analis FxPro, Alex Kuptsikevich, mengingatkan pentingnya kewaspadaan di tengah melambatnya momentum kenaikan. Dia mengisyaratkan potensi pola 'beli saat rumor, jual saat fakta' yang kerap terjadi di pasar.
"Pasar sekarang perlu berhati-hati karena ada potensi reaksi 'beli saat rumor, jual saat fakta'," ujarnya. Kuptsikevich menilai, pergerakan berkelanjutan di atas level US$4.900 akan membuka peluang kenaikan lebih lanjut. Namun, kegagalan bertahan di atas level tersebut dapat menjadi sinyal awal pembalikan tren dalam jangka pendek.
Artikel Terkait
Pimpinan GPK Bantah Isu Pemecatan Massal di PPP, Sebut Konsolidasi Normal
D-8 Bentuk Sekretariat Permanen Kamar Dagang di Istanbul
Indonesia Kecam Serangan terhadap Pasukan Perdamaian PBB di Tengah Gencatan Senjata
Uya Kuya Laporkan Akun Medsos ke Polda Metro Terkait Hoaks 750 Dapur MBG