PARADAPOS.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara tegas membantah klaim Rusia bahwa Kyiv pernah menerima tawaran senjata nuklir dari Inggris atau Prancis. Pernyataan ini disampaikannya dalam sebuah wawancara media, menanggapi laporan intelijen Rusia yang menuduh kedua negara Eropa tersebut aktif membantu Ukraina memperoleh hulu ledak nuklir. Zelensky menegaskan bahwa tidak ada tawaran semacam itu yang pernah sampai kepadanya, meski ia menyatakan akan mempertimbangkannya jika hal itu terjadi.
Bantahan Tegas di Hadapan Media
Dalam wawancara dengan Sky News yang disiarkan pada akhir Februari 2026, Zelensky memberikan tanggapan yang gamblang. Dengan nada lugas, ia mengklarifikasi posisinya mengenai isu sensitif yang telah memicu ketegangan diplomatik ini.
"Dengan senang hati, tetapi saya tidak menerima tawaran apa pun. Namun, dengan senang hati," ucapnya. Ia kemudian menambahkan penegasan yang lebih keras, "Tidak, itu tidak terjadi."
Latar Belakang Tuduhan Intelijen Rusia
Pernyataan Zelensky itu merupakan respons langsung terhadap tuduhan yang dilayangkan oleh Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia beberapa hari sebelumnya. Lembaga tersebut mengklaim bahwa pemerintah Inggris dan Prancis dinilai sedang berupaya menyediakan bom nuklir untuk Ukraina. Menurut analisis intelijen Rusia, langkah itu dimaksudkan untuk memperkuat posisi tawar Kyiv dalam perundingan damai yang bertujuan mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama lima tahun.
Disebut Sebagai Bagian dari Tekanan Politik
Zelensky tidak memandang tuduhan ini sebagai laporan faktual, melainkan sebagai manuver politik. Dalam sebuah kesempatan terpisah, yakni pada konferensi pers bersama Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store di Kyiv, ia menyoroti waktu munculnya klaim tersebut. Presiden Ukraina itu menyebutnya sebagai bentuk tekanan dari Moskow yang sengaja dilancarkan menjelang dimulainya kembali proses perundingan damai yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa tuduhan tentang senjata nuklir mungkin digunakan sebagai alat untuk mengacaukan atau melemahkan posisi Ukraina di meja perundingan.
Artikel Terkait
Pengunjung Ancol Tembus 166.955 Orang Selama Libur Idul Adha, Lampaui Target Perusahaan
PDI Perjuangan Putar Lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme di Setiap Agenda Partai untuk Pelurusan Sejarah
Peringatan 1 Juni dan 1 Oktober Berbeda: Ini Bedanya Hari Lahir Pancasila dan Hari Kesaktian Pancasila
Wakil Ketua Komisi IV DPR Ingatkan Publik Tak Mudah Terpengaruh Narasi Negatif yang Gerus Optimisme Swasembada Pangan