PARADAPOS.COM - Sebuah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Kota Teheran pada Maret 2026 telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa dramatis ini langsung memicu gelombang kecaman internasional, dengan Rusia, China, dan Korea Utara mengecam keras aksi tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan yang berbahaya dan berpotensi memicu krisis regional yang lebih luas.
Rusia Kutuk Agresi dan Peringatkan Bencana Berantai
Reaksi paling rinci datang dari Moskow. Pemerintah Rusia secara terbuka menyebut serangan itu sebagai tindakan agresi bersenjata yang direncanakan dan tanpa provokasi. Dalam pernyataannya, Rusia menilai isu program nuklir Iran hanya dijadikan kedok untuk upaya penggulingan kekuasaan yang berisiko tinggi.
Peringatan yang disampaikan pun bernada suram, mencakupi ancaman bencana kemanusiaan, ekonomi, hingga radiologis di kawasan yang sudah rentan tersebut.
“Tanggung jawab atas konsekuensi negatif dari krisis buatan manusia ini, termasuk reaksi berantai yang tidak terduga dan spiral kekerasan, sepenuhnya berada di tangan mereka (AS dan Israel),” bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia yang dikutip dari laporan berita.
Sebagai bentuk dukungan diplomatik, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov dikabarkan telah menghubungi rekannya dari Iran untuk menyatakan kesiapan Rusia menjadi penengah.
China Desak Penghentian Segera dan Evakuasi Warga
Dari Beijing, nada yang disampaikan tegas namun lebih berfokus pada de-eskalasi. China menyatakan keprihatinan mendalam dan menyerukan gencatan senjata segera. Dalam komunikasi dengan pihak Rusia, Menteri Luar Negeri Wang Yi secara khusus menyoroti fatalitas serangan terhadap seorang pemimpin negara.
“Pembunuhan terang-terangan terhadap pemimpin berdaulat adalah tindakan yang tidak dapat diterima,” tegas Wang Yi, seraya menilai operasi militer tersebut sebagai bentuk politik kekuasaan yang melanggar piagam PBB.
Merespon situasi yang memburuk dengan cepat, pemerintah China tidak hanya berdiplomasi tetapi juga mengambil langkah praktis untuk melindungi warganya. Kedutaan Besar China di Israel dan Iran telah mengeluarkan instruksi darurat bagi warga negaranya untuk segera meninggalkan wilayah konflik melalui jalur yang masih memungkinkan.
Kecaman Tajam dari Korea Utara
Sementara itu, Korea Utara menyampaikan kecaman dengan retorika yang paling keras. Melalui juru bicara kementerian luar negerinya, Pyongyang secara gamblang menyebut operasi militer AS dan Israel sebagai “agresi ilegal” dan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional. Pernyataan mereka juga menyertakan tuduhan bahwa Amerika Serikat bersikap layaknya gangster dan hegemonik dalam politik global.
Serangkaian reaksi keras dari tiga kekuatan global ini memperlihatkan peta geopolitik yang langsung memanas. Insiden di Teheran bukan hanya menjadi tragedi nasional bagi Iran, tetapi telah dengan seketika mengubah dinamika ketegangan internasional, meninggalkan dunia menunggu langkah berikutnya dan konsekuensi yang mungkin tak terhindarkan.
Artikel Terkait
RBA Waspadai Dampak Ketegangan Timur Tengah terhadap Inflasi Australia
Pemerintah Tegaskan THR Wajib Dibayar Penuh Tujuh Hari Sebelum Hari Raya
Pemerintah Naikkan Anggaran THR 2026 Jadi Rp55 Triliun, ASN dan Pensiunan Dapat Penuh
Polytron Galang Donasi Rp200 Juta dari Tiap Kilometer Motor Listrik untuk Pendidikan di NTT