Ndarboy Genk Kritik Budaya Digital, Dorong Generasi Muda Giat Membaca dan Praktik Mandiri

- Rabu, 03 Juni 2026 | 00:00 WIB
Ndarboy Genk Kritik Budaya Digital, Dorong Generasi Muda Giat Membaca dan Praktik Mandiri
PARADAPOS.COM - Musisi Ndarboy Genk, pelantun lagu “Mendung Tanpo Udan”, menyuarakan keprihatinannya terhadap generasi muda yang dinilai terlalu larut dalam dunia digital. Dalam sebuah wawancara di Kantor Media Group, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026, Helarius Daru Indrajaya—nama asli Ndarboy—menekankan bahwa pendidikan dan praktik mandiri adalah fondasi utama membangun kualitas diri, bukan sekadar menjadi konsumen konten di media sosial.

Kritik terhadap Budaya Digital dan Pentingnya Membaca

Ndarboy dengan tegas mengingatkan agar anak muda tidak hanya menghabiskan waktu dengan menggulir layar ponsel. Menurutnya, kebiasaan membaca buku harus kembali digalakkan. “Belajar baca buku. Jangan cuma baca konten, scroll sosial media. Baca buku itu penting,” ujarnya dengan nada serius. Ia menilai fenomena saat ini membuat banyak orang kehilangan esensi dari pembelajaran mendalam. Konten digital yang singkat dan instan, menurut Ndarboy, tidak bisa menggantikan pemahaman utuh yang diperoleh dari membaca buku.

Teori Tanpa Praktik: Sebuah Kesiasiaan

Tidak hanya soal membaca, Ndarboy juga menyoroti pentingnya aksi nyata. Baginya, ilmu yang didapat di bangku sekolah atau kuliah akan sia-sia jika tidak pernah diuji dalam praktik. “Terus praktek. Praktik itu tidak cuma praktik di dalam ruang belajar. Tapi kita harus ada sesi praktik mandiri di bidang yang sudah kamu pelajari,” jelasnya. Ia mendorong generasi muda untuk berani keluar dari zona nyaman dan mulai mengaplikasikan teori secara mandiri. Pengalaman pribadinya saat bersekolah di SMM Yogyakarta menjadi bukti nyata. Di sana, ia diwajibkan menjalani praktik mandiri minimal delapan jam sehari di luar jam sekolah formal.

Kenangan akan Guru Galak yang Mendidik

Di balik disiplin tinggi yang dimilikinya, Ndarboy mengenang sosok guru vokalnya di SMKN 2 Kasihan Bantul, Ibu Guru Utami. Meskipun terkenal galak, ia mengakui ketegasan guru tersebut justru membentuk karakternya. “Beliau super duper duper duper galak. Tapi kalau sama yang pinter, maksudnya saya habis dimarahi terus saya pertemuan berikutnya bisa nih, lancar, beliau juga mengapresiasi sebaik-baiknya guru mengapresiasi muridnya,” kenang Ndarboy. Ia menambahkan bahwa kegalakan Bu Utami bukanlah ledakan emosi, melainkan cara mendidik yang efektif. “Walaupun galaknya, ternyata itu bukan galak karakter yang emosional gitu. Bukan. Cuma dia galaknya itu mendidik agar proses kita belajar itu lebih cepat,” tambahnya. Hasil dari metode tersebut terbukti nyata: seluruh murid bimbingan Bu Utami lulus dengan nilai 9.

Formula ‘Tabungan Ilmu’ ala Ndarboy

Hingga kini, Ndarboy masih memegang teguh teori seni yang diajarkan gurunya. Teori itu berbicara tentang konsistensi latihan sebagai investasi jangka panjang. “Katanya kalau di musik nih, di bidang skill gitu, kita praktek 8 jam selama 2 tahun, kita bisa hidup dan berkreativitas dari ilmu yang kita dapat selama praktik 2 tahun itu. Untuk jangka waktu cuma 4 tahun. Jadi harus nabung terus. Jadi setelah 4 tahun kita harus mulai lagi dengan perkembangan yang sudah ada lagi,” paparnya. Konsep ‘tabungan ilmu’ ini terus ia terapkan hingga sekarang. Setelah lulus, Ndarboy tidak berhenti belajar. Ia berkomitmen untuk terus meng-upgrade kemampuannya agar relevan dengan perkembangan zaman. Pesan yang disampaikan Ndarboy Genk ini menjadi pengingat bahwa keahlian dan mentalitas tangguh tidak bisa diraih secara instan. Semua membutuhkan komitmen, kerja keras, dan kedisiplinan yang diasah setiap hari.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar