Negara-Negara Arab dan Barat Kecam Serangan Balasan Iran Pasca Tewasnya Khamenei

- Selasa, 03 Maret 2026 | 18:00 WIB
Negara-Negara Arab dan Barat Kecam Serangan Balasan Iran Pasca Tewasnya Khamenei

PARADAPOS.COM - Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Agung Iran, Ayatullah Ali Hosseini Khamenei, telah memicu serangkaian serangan balasan agresif dari Teheran ke sejumlah negara di Timur Tengah. Gelombang serangan yang terjadi sejak akhir pekan lalu ini menargetkan fasilitas militer AS dan bahkan kompleks diplomatik, memicu kecaman luas dari negara-negara Arab dan sekutu Barat, serta meningkatkan ketegangan di kawasan yang sudah rentan.

Eskalasi Konflik dan Target Serangan Balasan

Menyusul insiden yang menewaskan pemimpin tertingginya, militer Iran dengan cepat melancarkan serangan balasan. Sasaran mereka tidak hanya terbatas pada aset militer Amerika Serikat yang tersebar di kawasan Teluk, tetapi juga meluas ke wilayah diplomatik. Pada Selasa dini hari waktu setempat, serangan udara dilaporkan menghantam area Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, yang memicu kebakaran dan memperlihatkan intensitas respons Teheran. Langkah ini dinilai banyak pengamat sebagai eskalasi signifikan yang melampaui pertukaran serangan biasa.

Kecaman Keras dari Negara-Negara Teluk

Serangkaian serangan itu langsung menuai kecaman keras dari negara-negara tetangga di Jazirah Arab. Arab Saudi, melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri, menyatakan kutukan terhadap apa yang mereka sebut sebagai agresi terang-terangan dan pelanggaran kedaulatan.

Pemerintah Riyadh dengan tegas menyatakan, "Kerajaan mengutuk dan mengecam keras agresi terang-terangan yang dilakukan Iran," seraya menegaskan bahwa tindakan tersebut juga melanggar kedaulatan Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Yordania.

Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait juga menyuarakan protes serupa, menyebut serangan Iran sebagai pelanggaran hukum internasional. Pemerintah UEA menegaskan haknya untuk membela diri, sementara Kuwait secara khusus menyoroti serangan ke pangkalan udara Ali Al Salem yang digunakan militer AS.

Qatar, melalui saluran resminya, turut mengutuk serangan rudal balistik yang menargetkan wilayahnya. Pemerintah Doha menilai aksi ini sebagai bentuk eskalasi yang tidak dapat diterima.

“Doha menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan nasional, pelanggaran langsung terhadap keamanan dan keutuhan wilayah, serta bentuk eskalasi yang tidak dapat diterima karena mengancam keamanan dan stabilitas kawasan,” ungkap pernyataan pemerintah Qatar yang dirilis di media sosial.

Yordania dan Bahrain pun bergabung dalam menyuarakan kecaman. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Yordania, Fouad Al-Majali, menuntut penghentian segera seluruh serangan. Sementara itu, Bahrain bersama enam negara lainnya merilis pernyataan bersama yang mengecam serangan rudal dan drone Iran yang dinilai sembarangan dan membahayakan warga sipil.

Respons dan Kekhawatiran Sekutu Barat

Ketegangan yang meluas ini juga menarik respons dari kekuatan-kekuatan Barat. Inggris, Prancis, dan Jerman menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi yang terjadi. Ketiga negara tersebut, melalui pernyataan bersama para pemimpinnya, mendesak Iran untuk menghentikan serangan dan kembali ke jalur diplomasi.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer bahkan menyetujui pengerahan jet tempur tambahan ke kawasan sebagai bentuk dukungan dan pencegahan. Mereka secara tegas menyatakan keinginan untuk mencegah konflik regional yang lebih luas.

Presiden Prancis Emmanuel Macron secara khusus menekankan bahaya situasi ini. Melalui sebuah pernyataan, ia mendesak diadakannya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB.

“Macron menilai eskalasi konflik tersebut berbahaya bagi semua pihak dan harus segera dihentikan. Ia menegaskan bahwa rezim Iran tidak memiliki pilihan lain selain beritikad baik dalam perundingan untuk mengakhiri program nuklir dan balistiknya,” jelas pernyataan dari Élysée Palace.

Dengan kecaman yang datang dari berbagai penjuru, insiden ini telah menggeser dinamika keamanan regional. Fokus kini beralih pada upaya meredakan ketegangan dan mencari jalan keluar diplomatik, di tengah kekhawatiran bahwa satu kesalahan lagi dapat memicu konsekuensi yang lebih luas dan sulit dikendalikan.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar