PARADAPOS.COM - Seorang jemaah umrah asal Malang, Jawa Timur, mengungkapkan keheranannya atas ketidakhadiran jemaah asal Iran di Tanah Suci, fenomena yang ia anggap tidak biasa di tengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Pengamatan ini muncul dari Muhammad Zuhdy Achmadi, yang lebih akrab disapa Didik, selama perjalanan ibadahnya dari Madinah hingga Makkah.
Pengamatan Langsung di Lapangan
Didik, yang dihubungi via telepon pada Rabu, 4 Maret 2026, menyatakan bahwa dalam kunjungannya kali ini, ia sama sekali tidak menjumpai rombongan jemaah dari Iran. Padahal, berdasarkan pengalaman sebelumnya, kehadiran mereka biasanya sangat mencolok dan mudah dikenali. Ia menggambarkan bahwa jemaah Iran kerap terlihat bergerombol dan kompak dalam menjalankan ritual.
“Saya tidak melihat jemaah Iran mulai dari Madinah sampai ke sini, sampai di Makkah. Nah ini saya juga bingung,” ujarnya.
Perbandingan dengan Jemaah Negara Lain
Yang membuat situasi ini semakin terasa berbeda adalah ramainya jemaah dari negara-negara lain. Didik mencatat kehadiran yang cukup signifikan dari jemaah asal Turki, Uzbekistan, serta berbagai negara di Afrika dan kawasan Arab. Ia menyebut Turki bahkan menjadi saingan terdekat Indonesia dalam hal jumlah jemaah yang datang.
“Iran itu jagoan sendiri lah, orangnya besar-besar. Padahal dari Ethiopia kemudian dari Sudan, Nigeria, tetap banyak. Dari Maroko juga banyak,” kata Didik.
Dalam deskripsinya, suasana di sekitar area ibadah tetap hidup dengan berbagai bahasa dan wajah dari berbagai penjuru dunia. Hanya saja, satu elemen yang biasa ia temui—kehadiran khas jemaah Iran—hilang dari pemandangan tersebut.
Kaitan dengan Situasi Geopolitik
Didik mulai mempertanyakan fenomena ini bahkan sebelum berita-berita tentang serangan dan konflik terkini merebak. Ketidakhadiran yang tidak biasa itu menimbulkan tanda tanya tersendiri baginya, yang kemudian ia kaitkan dengan dinamika politik dan keamanan regional yang sedang bergejolak.
“Nah, jadi jemaah Iran yang biasanya paling kompak di sini bergerombol, saya tidak melihat sama sekali. Mulai di Madinah. Itu saya makanya bertanya-tanya, sebelum ada berita pengeboman datang, saya kan selalu memperhatikan orang Iran, orang Iran itu kok nggak ada ya mereka ini,” tuturnya.
Dampak Langsung pada Perjalanan Ibadah
Ia juga menceritakan dampak riil dari ketegangan di kawasan terhadap operasional perjalanan. Berdasarkan informasi yang beredar di antara jemaah, penutupan beberapa bandara akibat insiden keamanan disebutkan memengaruhi rencana perjalanan banyak orang. Didik menyebut insiden yang terjadi di akhir Februari, termasuk penutupan Bandara Dubai, sebagai faktor yang mungkin memperparah situasi dan memengaruhi keputusan perjalanan jemaah.
“Terus kemarin tanggal 28 Februari, Ali Khamenei wafat itu ya kena serangan. Nah itu tambah berdampak. Seketika itu Bandara Dubai langsung ditutup karena Dubai kena bom. Kita dekat sekali, hanya laut kecil aja, tetangga banget,” jelasnya.
Pengamatan dari lapangan ini memberikan gambaran bagaimana situasi geopolitik yang kompleks dapat memiliki manifestasi yang sangat nyata dan personal, bahkan di tengah kerumunan orang yang sedang menunaikan ibadah. Laporan ini disajikan dengan kehati-hatian, mengutamakan fakta pengalaman langsung narasumber di lokasi.
Artikel Terkait
Polres Ponorogo Pantau Stok dan Harga Sembako Jelang Idul Fitri
Pemprov Sultra Gelar Festival UMKM Ramadhan Dukung Ekosistem Usaha Lokal
Pelaku Penjambretan di Parung Diamankan Warga Usai Tabrak Dua Pengendara
Kapolri Apresiasi Sinergi Forkopimda Jabar dalam Program Rutilahu